Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Dicibir Tetangga


__ADS_3

Senja sudah berganti dengan malam, rumah sudah kembali seperti seperti semula. Bersih dan rapi, piring-piring dan gelas-gelas sudah kami bereskan sejak beberapa jam lalu.


Aku berselonjor di karpet depan TV rumah Pak Arbi. Ya, sejak kemarin, aku hanya pulang satu kali ke rumahku.


Badan rasanya lelah dan tak bertenaga, semua terkuras habis sejak pagi. Menyisakan lelah yang berkepanjangan, ingin tidur saja rasanya.


Kedua tangan memijat pundakku, benar di sana puncak rasa capeknya. Pelan jemari itu mulai memijat, cukup untuk sekadar menghilangkan penat.


"Capek, kan Ta?"


"Emmh, nggak apa-apa, Mas. Sekali-sekali."


"Mana lagi yang capek?" tanyanya yang mataku sudah mulai akan terpejam, aku merebahkan diri dengan telungkup.


"Hem, udah ngambil posisi aja," ucap Pak Arbi yang terkekeh. Aku hanya menikmati pijatan lembutnya. Pijatannya turun ke bagian punggung, lalu hingga ke betis. Namanya naluri lelaki, pasti ada saja yang disentuh.


Seperti saat ini, Pak Arbi mencolek bokongku. Aku yang hampir terpejam jadi kembali melotot. Terdengar suara tawa kecil dari belakang sana.


"Iseng banget sih, Mas."


'Kan aku udah pernah bilang, itu sekarang jadi favoritku, Ta."


Aku hanya berdehem, mencoba kembali memejamkan mata sambil menikmati tangannya memijat. Masih beberapa menit, ia memintaku untuk terlentang.


Aku manut saja, tukang pijat yang menyuruhnya. Aku berbalik, sekarang sudah terlentang sempurna. Ia memijat tanganku, sembari menyapu dada sebelah kiri.


Aku menarik napas dalam, sudah tahu akan ke mana tujuannya berikut. Namun, aku merasa kantuk. Sesekali menguap, Pak Arbi justru tertawa. Mungkin, aku boneka kecil yang siap menghiburnya.


"Ngantuk?" tanyanya, aku sudah berat mengangkat kelopak mata.


Entah bagaimana kelanjutan kisah pijat memijat itu, yang jelas mataku sudah tertutup rapat. Bahkan, tanpa bantal. Juga, masih di karpet abu-abu depan televisi seingatku yang terakhir kalinya.


Aku mengerjap setelah cukup puas tidur. Saat membuka mata, aku sudah berada di kasur kamar. Tidur di samping Pak Arbi, selimut menutup hingga dada.


Aku menyibakkan bed cover, betapa terkejutnya saat kulihat di tubuhku yang tanpa sehelai benang. Aku membulatkan mata melihat Pak Arbi yang masih tertidur pulas di sebelah.


Aku kalau sudah kelelahan, tidak tahu apa yang terjadi ketika tidur. Aku melirik jam, masih pukul tiga dini hari. Aku menarik napas panjang, lalu memeluk Pak Arbi.


Rupanya, ia sadar dengan sentuhan tanganku yang sudah berada di atas tubuhnya yang terlentang tanpa baju. Hanya celana pendek yang menemani tidurnya.


Pak Arbi ikut memeluk tubuhku, mendekapnya hangat. Aku meletakkan kepala di dadanya.

__ADS_1


"Ta, ayo," ucapnya masih dengan mata yang terpejam.


"Heuh?"


"Buat anak, yuk!"


Aku akhirnya menyetujui ajakannya. Meski tengah malam begini, jika suami ingin harus tetap dilayani. Hasrat lelaki tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Kami melakukan pergulatan hebat dan beberapa kali. Pak Arbi menginginkan itu, meski tubuh lelah ia bahkan lebih bertenaga dan seperti memiliki kekuatan super hingga mampu beberapa ronde.


Usai dengan pergumulan, Pak Arbi memeluk tubuhku dari belakang, mencium lembut bahuku.


"Kamu hebat, Ta."


"Ck! Aku kan udah janda, Mas."


"Aku punya suami, bukan janda. Aku suamimu," ucap Pak Arbi yang sedikit mengangkat tubuhnya, mengunci bibirku dengan menggigitnya kuat.


"Sakit, Mas," ucapku merengek manja. Sebelah tangannya semakin mengusap perutku.


"Mudah-mudahan, kamu hamil ya, Ta."


Pagi, aku bangkit lebih dulu meninggalkan Pak Arbi yang masih terlelap. Dadaku terasa perih akibat perpaduan tadi malam.


Aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, juga membuat sarapan untuk lelakiku. Aku keluar dengan rambut basah, ya jelas saja.


Rambutku tidak pernah dibiarkan kering oleh Pak Arbi. Selalu saja basah seperti ini kala pagi, tidak peduli dengan hari atau keadaan apa pun.


Aku mengambil roti dari lemari es miliknya. Dia masih lajang kemarin, tapi perlengkapan rumahnya bisa dibilang lengkap. Bahkan, kitchen set juga sudah dibuat olehnya.


Roti dengan selai coklat dan strawberry sudah tertata di meja bar. Juga, segelas susu aku siapkan di sampingnya.


Aku sibuk mencuci pakaian, benar Pak Arbi sudah memiliki mesin cuci. Entah memang dia sengaja menyiapkannya atau memang sudah menjadi rutinitasnya untuk mengerjakan semuanya sendiri.


Siap dengan pekerjaan rumah, aku melangkah menjemur pakaian.


"Kamu istrinya Pak Arbi, ya?" Suara wanita membuatku menoleh, dari kata-katanya ada penekanan tidak suka di sana. Aku yang masih memegang kaos Pak Arbi, hanya terbengong.


"Cantik, sih," katanya lagi yang membuatku mengerutkan alis.


"Makasih," jawabku yang kembali melanjutkan aktivitasku tadi.

__ADS_1


"Kamu tahu kalau Pak Arbi guru idola?"


Aku kembali menoleh ke arahnya yang melipat tangan di tembok pembatas yang tingginya sekitar satu setengah meter itu, aku mengangguk pelan.


"Pantesan mau, orang Pak Arbi guru idola, ganteng, kaya pula," sambungnya yang membuatku menggigit bibir bawah kuat.


"Maaf, Anda punya masalah dengan saya?" tanyaku memastikan maksud dan tujuannya yang tiba-tiba mencibirku.


"Kamu tahu, Pak Arbi itu udah punya calon istri sebelum dia nikah sama kamu!" ucapnya dengan menunjuk-nunjuk wajahku, ia tampak sangat marah.


"Terus?"


"Ya, gara-gara kamu pernikahannya batal."


"Nikah sama siapa? Setahu saya, Pak Arbi itu nggak ada dekat sama wanita mana pun. Jika pun ada, kalau bukan jodoh nggak akan ketemu."


Wanita paruh baya itu tampak murka, entah apa sebabnya. Mungkin ia ibunya Putri yang tidak terima dengan pernikahanku.


"Sayang," panggil Pak Arbi dari ambang pintu. Aku menoleh ke arahnya, melihat wajahnya yang sudah segar dan rambut yang tampak basah.


"Maaf, Bu. Kalau Anda tidak suka dengan pernikahan kami, silakan tutup mata. Saya sudah berulang kali memberi penjelasan pada Putri, bahwa saya tidak bisa membalas perasaannya. Begitu juga yang sudah beberapa kali saya tekankan pada Anda. Ini." Pak Arbi mengembalikan microphone yang ia pinjam semalam, itu menunjukkan bahwa wanita itu memang ibunya Putri.


Wajah wanita itu bersungut sebal, lalu menyambar kotak yang disodorkan Pak Arbi tadi. Tidak lupa Pak Arbi mengucapkan terima kasih, lalu merangkul bahuku untuk masuk ke rumah.


"Kamu nggak apa-apa, kan?"


"Nggak, Mas."


Ia mencium pucuk kepalaku, sepertinya itu bagian favoritnya juga sekarang. Tangannya sudah melingkar di pinggangku.


"Sarapan dulu, Mas."


"Udah, sarapan omelan tetangga," jawabnya yang tampak masih kesal di raut wajahnya.


Aku mencubit pipinya gemas, ekspresinya mengundang tawa di hatiku. Aku mengecup pipinya sekilas. Ia melebarkan matanya, menyapu bekas ciuman itu.


"Kamu mulai nakal, ya?"


Aku tertawa renyah sembari menyimpan keranjang baju di tempat semula. Nada dering ponsel Pak Arbi terdengar, ia langsung bangkit menuju benda pipih itu.


"Aisyah, Ta."

__ADS_1


__ADS_2