
Tama pun setuju, aku berjanji pada diri sendiri tidak akan pernah menghubunginya. Bodoh namanya, jika masa lalu yang sudah dibuang diambil kembali.
Dia juga harusnya sudah bahagia dengan wanita pilihannya, begitu juga dengan aku. Jam mengajar di sekolah sudah usai, aku dan Bu Afifah berjanjian untuk pergi ke mall.
Ya, bosan juga dengan rutinitas sehari-hari. Belum lagi, aku tengah kesal sama Satria, jadi malas untuk pulang. Aku turun dari kendaraan roda dua milik Bu Afifah, lalu berjalan di basement menuju pintu masuk utama mall.
Mobil sedan warna silver terlihat bergoyang. Aku mempertajam pandangan ke arah jarum jam angka sebelas. Kaca film yang tidak terlalu gelap membuatku mudah melihat siapa yang berada di balik kemudi.
Aku merapatkan bibir kala mata kami saling bertemu untuk beberapa detik, langkah kuayun sangat lambat untuk memastikan. Benarkah yang kulihat. Arini tengah bercumbu mesra di dalam sana, belum lagi wajah sisa-sisa kenikmatannya terekam jelas.
Aku menggeleng tidak percaya. Ternyata benar, tidak ada yang sempurna. Buktinya jelas terlihat di depan mataku. Awalnya aku kagum dengan kesempurnaan hidupnya. Namun, dengan melihat kejadian ini aku justru bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki.
"Bu Ananta, Anda melihat apa?" tanya Bu Afifah yang menggoyangkan bahuku pelan.
"He uh? Nggak ada, Bu. Kirain tadi saya melihat temen saya, rupanya bukan," kilahku yang menarik lengan wanita berhijab ini cepat.
Kami berada di sebuah salah satu tempat makan di mall yang memang cukup ramai di kota ini. Kami bercerita mengenai pelajaran juga anak-anak sembari menanti pesanan datang.
Kulihat Arini datang mendekati meja kami, dengan tas yang tergantung di lengan juga kacamata di atas kepala ia meminta waktuku sebentar. Aku dan Bu Afifah sontak mendongak ke arahnya yang sudah berdiri di sampingku.
"Bu Afifah, sebentar ya."
"Ya, Bu."
Aku juga Arini menjauh mencari tempat yang agak menyudut, juga sepi. Tepat di pintu darurat.
"Aku mau minta tolong sama kamu."
"Tolong apa?"
"Tolong rahasiakan ini dari siapapun."
Aku terkekeh sebentar. "Aku nggak tertarik dengan apa yang Anda lakukan. Permisi."
Tanganku dipegangnya untuk pergi, aku berbalik menatapnya. "Aku melakukan ini untuk tetap menjaga kewarasanku sebagai ibu rumah tangga biasa."
"Heh! Anda benar-benar lucu," ucapku menyeringai. Dia membenarkan perselingkuhan, luar biasa wanita berambut sepinggang ini mendukung pelakor. Aku memilih pergi meninggalkannya, terlalu malas mendengar ocehan tidak masuk akal.
Apa pun situasinya, perselingkuhan itu tetap salah. Menikah atau tidak itu pilihan masing-masing. Jika sudah memilih berkomitmen, apa pun resikonya tetap jalani. Menurutku begitu.
"Bukankah kau bosan dengan sikap dingin suamimu?"
__ADS_1
"Bukankah Anda pun tahu kalau perselingkuhan itu tidak benar?"
Aku berlalu meninggalkannya, kembali bergabung dengan Bu Afifah. Raut wajahku sudah pasti ditekuk, kesal rasanya. Dia orang baru di lingkungan rumah kami, tapi merasa paling benar dengan kehidupanku.
Pergi atau terganti. Tidak ada yang setia pada manusia, seperti langit menunggu datangnya senja. Kalaupun ada, mungkin itu cuma pelengkap untuk untaian puisi yang indah saat dibaca.
Mungkin itu yang menjadi prinsip hidup Arini. Setia mungkin akan menyakitkan dalam hidupnya. Mungkin dia hanya mencari kesenangan dengan cara begitu, tapi tetap saja itu pengkhianatan namanya.
"Bu, Anda baik-baik saja?" Suara Bu Afifah membuyarkan lamunanku.
"He uh? Ah, ya. Baik-baik aja kok, Bu."
"Itu tadi siapa, Bu?"
"Itu tetangga depan rumah saya, Bu. Mereka baru pindah, jadi tadi tanya rumah Pak RT. Mungkin ingin membeli sesuatu sebelum ke rumahnya."
Bu Afifah mengangguk-angguk. Pesanan kami pun tiba, es cream dengan float vanila juga rice bowl sudah hadir di depan kami.
Es cream adalah penetral stres buatku. Entah mengapa, tiap kali aku bad mood, bete atau sedih, benda ini selalu bisa mengubah suasana hatiku.
Puas berjalan-jalan kami putuskan pulang. Waktu juga sudah sore, Satria pasti akan marah besar jika aku belum pulang.
**LA**
Sontak aku dan Bu Afifah tertawa melihat tulisan di kaos putih milik Pak Arbi. Ya, sekarang sekolah tengah mengadakan serangkaian acara menyambut HUT kemerdekaan RI.
Aku dan Bu Afifah memimpin anak-anak di acara lomba masak. Sedangkan Pak Arbi, tengah bergabung di klub melukis kaos oblong.
Mungkin beliau yang merupakan guru biologi tidak bisa menggambar bagus atau melukis, jadi dia menulis itu. Entah apa tujuannya merangkai kata-kata itu. Mana tulisannya berwarna ungu, seperti kode keras untuk seseorang.
Dia memberi contoh sebenarnya tadi, lalu menjemur kaos lengan pendek ukurannya. Panas yang terik membuat kain tipis itu cepat kering, alhasil beliau memakainya seperti sekarang.
Aku dan Bu Afifah terus saja mengulum senyum melirik ke arahnya yang berkeliling di samping anak-anak di seberang sana. Ketika dia menyapu pandang ke arah kami, kami justru tersenyum sangat geli.
Pak Arbi tampak mengerutkan dahi lalu melangkah mendekat. "Maaf, Bu Ananta, Bu Afifah. Apa ada yang lucu?"
"Sebenarnya nggak ada sih, Pak. Cuma tulisan di baju Bapak aja yang menurut saya agak menggelitik," kataku seraya menutup mulut dengan sebelah tangan.
"Ya, Pak," sambung Bu Afifah. "Kayak terselip curhat sih, di sana," lanjut Bu Afifah lagi yang masih terus tertawa.
"Memang," jawabnya santai.
__ADS_1
"Lah? Beneran?" tanyaku memastikan, semakin menggelitik perutku rasanya. Aku terus tertawa terbahak-bahak, lalu Pak Arbi mendekatiku.
"Bukankah saya pernah mengatakannya pada Ibu?" bisiknya lalu pamit pergi.
"Hah?" Aku terbelalak, kemudian berkedip dengan ritme cepat. Perasaan aku nggak pernah menerima pernyataan seperti itu dari pria bermata elang ini.
Ada desiran aneh yang menjalar ke hati mendengar ucapan Pak Arbi. Aku tidak pernah mendengarnya berkata begitu padaku. Selama ini, aku tetap menjaga hubungan profesional dengannya.
Tidak terlibat hubungan apapun. Memang kali terakhir aku bertemu dengan Tama, Pak Arbi berkata yang tidak masuk akal bagiku.
Entahlah kalau dia mengatakan rindunya dalam hati. Jelas aku tidak bisa mendengarnya. Kecuali cinta sejati, mendengar apa yang tidak dikatakan. Melihat tanpa perlu dijelaskan.
Bu Afifah mencolek bahuku. "Kok bengong, Bu? Itu anak-anak udah selesai masak. Sekarang waktunya penilaian."
"Ah, ya."
Aku duduk berjejer bersama guru yang lain. Bu Afifah tepat di sampingku. Secarik kertas dan pulpen ada di jemariku. Para murid terbagi enam kelompok, masing-masing enam orang setiap regu.
Mereka semua sudah bersiap menantikan penilaian. Sebab, bagi juara satu, dua, dan tiga ada merchandise dari sekolah. Sebagai spesial thank you.
Bu Afifah mengajakku berkeliling bersama dengan beberapa guru yang ikut bertanggungjawab. Aneka masakan sudah tertata rapi di masing-masing meja kelompok.
Ada ayam bakar beserta sambal kecap juga semangka sebagai buahnya. Ada nasi goreng yang dikelilingi oleh selada juga timun dan tomat sebagai pelengkap.
Mie goreng, sama persis dengan tatanan nasi goreng, hanya saja mereka menambahkan jus nanas.
Kami beralih ke kelompok empat, mereka tidak banyak menambahkan apa-apa. Hanya rebusan, sambal terasi juga ikan asin goreng beserta tempe, tahu.
Kelompok lima dan enam, mereka masak nasi goreng kampung dan mie tiau goreng. Tidak banyak menu, mungkin ini pertama kalinya bagi mereka masak. Lagian, masih belasan tahun juga. Kami maklum, lalu manggut-manggut selagi menilai.
Aku mulai mencicipi. Ya, sesuai dugaan. Rasanya nano-nano. Ada yang hambar, pedas, asin, ada juga yang sesuai dengan lidah kami para juri.
Cukup untuk menilai, kami berembuk untuk menentukan pemenang. Hasil sudah kami dapat. Kelompok satu mendapat juara pertama, kelompok empat juara ke dua, juara tiga didapat oleh regu ke tiga. Nasi goreng dengan jus nanas.
"Bu Ananta," panggil Pak Arbi yang jelas saja aku langsung menoleh padanya. Mayangku mengenai wajahnya ternyata.
"Eh. Maaf, Pak."
Pak Arbi tampak mengusap wajahnya pelan, seraya menutup matanya sebentar.
"It's, ok."
__ADS_1
"Maaf ya, Pak. Saya udah kayak iklan shampo, hehe."
"Nggak apa-apa, Bu. Saya cuma mau kasih ini ke Ibu." Aku mengernyit, menatap kaos putih di genggamannya.