
Pak Arbi justru terus tersenyum menggodaku. Suara perutku justru mengusik ketenangan hati yang malu. Pak Arbi semakin melebarkan tawanya.
"Ah, Mas! Kamu hobi isengin aku!"
"Hehe, kita mandi, yuk. Terus makan, ya."
Aku mengeluarkan wajah yang sejak tadi kusimpan di balik selimut. Berjalan ke kamar mandi tanpa busana.
Pak Arbi yang berada di belakang, mencolek bokongku. Sontak saja aku kaget bukan kepalang, ini pertama kalinya ada yang melakukan itu. Satria dulu tidak begitu.
Pak Arbi tertawa melihat ekspresiku, lalu masuk bersama ke dalam kamar mandi. Di bawah shower dengan air hangat kami membersihkan diri.
Setelah selesai, kami memakai pakaian yang baru dibeli. Lalu keluar menuju restoran yang ada di hotel ini.
Memakai dress warna navy tanpa lengan, rambut kubiarkan terurai. Bekas gigitan Pak Arbi kemarin aku tutup dengan kalung choker warna hitam dengan liontin berbentuk hati. Aku sempat membelinya tadi.
"Kapan kamu beli itu?"
"Tadi," jawabku yang tahu arah mata Pak Arbi. Tidak ada respons negatif darinya, ia hanya mengulum senyum.
"Berarti, aku bisa buat lagi, ya."
"Buat apa?"
"Tanda di situ."
Aku malas menanggapi ocehan Pak Arbi. Terserah dia saja mau berkata apa. Pelayan restauran yang mengenakan rompi merah datang membawa pesanan kami tadi.
Beef steak dengan dua nasi, ya ciri khas orang Indonesia akan selalu kelaparan jika tidak memakan nasi.
Tidak lengkap rasanya jika makan di restoran begini tidak minum anggur. Pak Arbi juga tidak keberatan dengan pesananku yang satu itu. Entah, anak kiyai mana dia hingga begitu melanggar perintah agama.
"Mas, kamu nggak apa-apa minum anggur?"
"Kenapa emang?"
"Ya, kalau di pesantren kan semua-semua dilarang."
"Anggur itu minuman kesehatan jika tidak berlebihan."
Aku berdehem mengiyakan, apapun itu terserah dia saja. Sekarang kami menikmati hidangan yang sudah membuat air liur ku mengalir sejak pertama dihidangkan.
Tiba-tiba ponselku berdering, menganggu ketenangan makan malam kami. Pak Arbi menatap layar gawaiku dengan perlahan memasukkan daging ke mulutnya.
Satria, nama itu muncul di sana. Pak Arbi menatapku curiga. Aku hanya melirik sekilas, sejak kali terakhir tidak datang di persidangan. Sekarang, ingin apa dia.
"Kenapa nggak diangkat?"
"Nggak apa-apa."
__ADS_1
"Ta, jangan buat aku curiga padamu, ya."
"Kamu tahu sendiri kan, aku tidak mungkin kembali dengannya."
"Angkat, aku mau dengar dia ngomong apa."
Aku menarik napas dalam, akhirnya menyapu layar sentuh itu.
"Halo, Bang."
"Ta, kamu di mana?"
"Aku di luar kota, Bang. Ada apa?"
Dari suaranya terdengar bergetar, ia seperti tengah ketakutan atau gelisah. Namun, entah apa sebabnya.
"Kamu kapan pulang, Ta?"
"Emang ada apa, Bang?"
"Ibu, Ta."
Aku menyatukan kedua alis, menatap Pak Arbi. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kembali sekarang juga tidak mungkin, esok memang rencananya akan pulang ke Medan.
Pak Arbi menyapu punggung tanganku lembut, ia tampak berusaha menenangkan.
"Coba tanya ada apa," perintah Pak Arbi tanpa mengeluarkan suara.
"Dia panggilin kamu terus."
"Besok aku akan kembali ke Medan. Besok aku akan temui Ibu, ya."
"Oke, Ta. Maaf ganggu kamu lagi."
"Nggak apa-apa, Bang." Percakapan kami berakhir, sekarang mataku tertuju pada Pak Arbi. Aku berharap banyak darinya untuk mengizinkan aku bertemu dengan ibunya Satria.
"Gimana, Mas? Boleh?"
Belum Pak Arbi menjawab, panggilan masuk di benda pipih miliknya. Ia mengurungkan menjawab.
"Walaikumsalam, Bu. Ya, kami nggak bisa pulang malam ini, Bu. Di sini hujan deras," ucap Pak Arbi yang berbohong mengenai cuaca sekarang. Memang itu menjadi kesepakatan kami tadi.
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Pak Arbi kembali menatapku. Ia terlihat menipiskan bibirnya. Menarik lengkungan ke dalam, aku menggigit bibir bawah.
"Boleh, Mas?" tanyaku memastikan. Ia berpikir cukup lama, membuatku deg-degan saja.
"Boleh, tapi aku ikut kamu, ya."
"Ya, makasih, Mas," ucapku yang langsung mencium pipinya. Tidak peduli menjadi pusat perhatian orang-orang. Biasanya selalu dia yang melakukan semaunya.
__ADS_1
Pak Arbi langsung menggendong tubuh rampingku meninggalkan makanan yang belum semuanya masuk ke perut. Ia membawaku ke kamar dan melakukan perpaduan.
Memang benar, pengantin baru itu pantang dipancing. Ujung-ujungnya mengulang adegan dewasa lagi dan lagi.
***
Pagi, kami bersiap akan kembali ke pesantren setelah puas menikmati satu malam penuh gairah di hotel. Sarapan di rooftop, sayang tidak ada kolam renang.
Jika ini di Medan, pasti kami sudah berenang menikmati indahnya matahari pagi.
"Udah siap?" tanyanya yang mencium rambutku yang selalu basah akibat ulahnya.
"Sebentar lagi, ya," kataku yang masih sibuk mengancingkan kemeja.
"Kamu serius mau ketemu sama ibunya Satria?"
"Ya, Mas. Gimana menurut kamu?"
"Aku sih nggak keberatan, asal aku ikut. Cuma kenapa ibunya panggil kami terus, ya?"
"Mungkin ibunya lagi sakit, Mas. Bisa jadi, Satria belum bilang kalau kami sudah bercerai."
Pak Arbi terlihat bengong, entah tengah memikirkan apa. Aku sudah selesai dengan semua persiapan pulang. Memastikan kembali barang-barang agar tidak ada yang tertinggal di sana.
Setelah, merasa tidak ada yang kurang dengan barang bawaanku. Kami turun dan mengembalikan kunci kamar. Deposit yang diminta di awal, mereka kembalikan. Itu jaminan jika ada barang yang rusak atau dibawa pulang oleh tamu.
Kami berjalan menuju motor Pak Arbi, tiga laper bag aku pegang di sisi kiriku. Sebelah tangan memegang kuat perut Pak Arbi.
Kurang lebih satu jam perjalanan, kami pun tiba di pesantren. Aisyah berlari menyambut kedatangan kami. Padahal hanya pergi satu hari, tapi ia terlihat sangat merindukan kami.
Aisyah langsung memelukku. "Kak Ananta, Aisyah udah kangen sama Kakak. Aisyah takut Kakak nggak balik lagi ke sini."
"Kakak akan sering main ke sini, lagian baru juga pergi satu hari," kataku yang Pak Arbi terlihat meminta barang yang kubawa. Aku menyerahkan padanya, lalu mengusap punggung Aisyah lembut.
"Lebay, kamu!" seru Pak Arbi yang langsung membuat Aisyah melepaskan pelukannya dan menatap tajam Pak Arbi.
"Mas!" protesku yang kemudian langkah jenjangnya menghampiri sang ibu. Ia terlihat mencium takzim punggung tangan Nur.
"Syah, sekarang kita masuk dulu, ya. Nanti. kita cerita lagi, oke?"
"Ya, Kak."
Aisyah memeluk lenganku, sulit untuk aku melepaskannya dari gadis remaja ini. Aku mengerti perasaannya yang baru saja menemukan teman bicara dan main.
"Kakak masuk ke kamar dulu ya, Syah."
"Ya, Kak."
Sesampai di kamar, Pak. Arbi sudah memasukkan semua barang kami. Ia tampak semangat akan kembali ke Medan. Satu kotak besar ada di sana, aku mengernyit bingung menatap ke arah karton berwarna cokelat itu.
__ADS_1
"Itu apa, Mas?"