
"Ibu bawain oleh-oleh untuk kita."
Mulutku membulat sempurna, bergegas aku mengganti pakaian. Setelah selesai, aku duduk di depan meja rias.
Sebuah amplop cokelat mengusik ketenanganku. Aku meraba kertas mulus itu, lalu menoleh ke arah Pak Arbi yang sibuk dengan menyusun barang-barang kami.
"Ini apa, Mas?"
"Nggak tahu, coba kamu buka."
Sesuai dengan perintahnya, aku menyobek ujung amplop. Mengeluarkan isinya, buku nikah kami sudah keluar tenyata, lengkap dengan sertifikatnya.
"Buku nikah," ucapku sambil memegang kedua buku berbeda warna itu. Pak Arbi menyempatkan diri untuk berfoto. "Apa-apaan sih, Mas?"
"Aku cuma mengabadikan momennya, Sayang."
Itu artinya, tinggal kartu pengenal kami yang harus diubah. Kami juga belum tahu akan tinggal di mana. Rumahku atau rumah Pak Arbi.
Siang hari, kami pamit pada semua orang untuk kembali ke Medan. Aisyah tampak tidak rela jika kami harus meninggalkan pesantren.
Aisyah memelukku erat sekali, hingga aku susah bernapas. Aku mengusap punggungnya lembut.
"Syah, bulan depan Kakak masih bisa datang lagi. Udah, ya," ucapku menenangkannya yang tampak menangis tersedu. Aku mengusap air mata di pipinya.
"Kakak janji, ya. Bulan depan ke sini lagi," ucapnya di sela-sela tangisnya.
"Ya, Syah. Insya Allah."
Suasana mendadak haru, kami pergi mengendarai motor Pak Arbi. Kotak yang di sudut kamar tadi, kami kirim melalui bus, sekalian dengan barang-barang yang lain.
Kami hanya membawa pakaian yang melekat di tubuh, juga tas kecil. Perjalanan kurang lebih tiga jam untuk tiba di Medan. Mendekati arah kota, Pak Arbi bertanya, "Ta, ini kita berhenti di mana? Atau, haruskah kamu saya antar pulang?"
"Maksudnya antar pulang? Kita pulang ke rumah masing-masing?"
"Hehe, menurut kamu?'
Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan, pukul lima sore. Aku sudah terlanjur berjanji pada Satria untuk menjenguk ibunya. Entah ingin apa beliau sampai terus menyebut namaku.
" Emm, sekarang ke rumah aku aja dulu, Mas. Baru nanti pulang jenguk ibunya Satria nginap di rumah kamu."
Pak Arbi mengangguk setuju, pastinya di rumahku tidak ada pakaiannya. Beberapa baju Satria mungkin yang masih tertinggal di sana.
Kami tiba di rumahku, Pak Arbi langsung masuk tanpa disuruh. Selayaknya suami istri yang sudah tidak canggung, meski baru beberapa hari.
__ADS_1
Ponselku terus berdering, aku yakin jika itu Satria. Masih sibuk dengan membersihkan tubuh, aku mengabaikan telepon yang masuk. Lagi, gawaiku berbunyi.
"Halo," jawab Pak Arbi yang tanpa bertanya.
"Ya, Ananta sedang bersama saya. Di rumah kalian yang dulu," ucapnya dengan penuh penekanan. Pak Arbi tampak merapatkan giginya, jelas sekali rasa cemburunya.
"Ya, sebentar lagi kami akan ke sana. Share loc!"
Aku membiarkan mereka berinteraksi, mereka memang tidak pernah akur dari dulu.
Aku melanjutkan langkah menuju kamar mandi, Pak Arbi mengetuk pintu. Merengek ingin ikut bersama denganku.
Beruntung, surat nikah sudah keluar. Jika tidak, kami akan diamuk massa karena melakukan perzinahan. Juga, akan terlihat dengan hukum.
***
Kami melangkah menuju rumah sakit, Satria tampak bingung. Ia menanti kami di lobby. Tanpa bertanya panjang lebar soal Pak Arbi, ia langsung menuntun kami menuju ruangan ibunya.
Kulihat tubuhnya tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tangan keriputnya sudah tertusuk jarum infus. Miris hati melihatnya.
Tangan itu yang selalu memasak untukku. Tubuh lemahnya yang tidak pernah lelah untuk datang berkunjung. Perlahan bulir bening lolos dari mataku. Membasahi punggung tangan yang sudah bertaut, tidak kuat melihatnya.
"Bu, Ananta datang."
"Ananta, kamu datang?" tanyanya yang matanya tampak berbinar dan mengembun.
"Ya, Bu."
"Ananta, apa Satria berbuat tidak baik padamu?"
"Tidak, Bu. Bang Satria sangat baik."
"Kenapa kalian bercerai?" Beliau tampak menarik garis bibir ke dalam, menangis perlahan. Aku bingung harus bagaimana. Satria mengusap bahu ibunya, sepertinya ia berusaha menenangkan sang ibu.
"Bu, ada sesuatu yang tidak bisa Ananta jelaskan sama Ibu. Mohon mengerti Ananta, ya. Ananta yang jahat, maka benci saja Ananta."
"Satria? Apa kamu bisa membencinya Ananta?"
Satria diam, tidak ada respons atas pertanyaan sang ibu. Begitupun denganku, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan meski itu sudah berada di ujung lidah.
"Ibu harus sehat, ya. Ibu udah makan?" tanyaku setelah beberapa menit berjalan dengan suasana hening dan haru. Beliau menggeleng.
"Ibu mau makan apa?"
__ADS_1
"Tidak ada, Ananta. Ibu hanya ingin kamu menemani Ibu hingga terlelap."
Aku bangkit dan duduk di samping beliau, menggantikan posisi Satria tadi. Aku memeluk tubuh renta itu. Ia menyandarkan kepalanya di dadaku.
Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur. Buktinya, hanya lima belas menit berselang, suara dengkuran halus sudah terdengar.
Aku dengan sangat hati-hati meletakkan kepalanya di bantal. Juga meluruskan tubuhnya dengan posisi yang nyaman.
Aku keluar bergabung dengan kedua pria yang tampak duduk saling membelakangi. Pak Arbi menghadap timur dan Satria ke arah sebaliknya.
"Mas, Bang Satria."
Satria tampak mengerutkan dahinya, mungkin ia tidak percaya dengan kata manis yang keluar dari mulutku saat memanggil Pak Arbi.
"Udah selesai?" tanya Pak Arbi yang berbalik badan menghadap ke arahku.
"Udah. Bang, itu ibu udah tidur. Ibu masuk rumah sakit karena shock dengan perceraian kita, ya?"
Satria mengangguk mengiyakan, lalu tertunduk dalam. "Aku nggak bisa terus-terusan bohong sama Ibu, Ta. Aku terpaksa jujur."
"Nggak apa-apa, Bang. Kamu haru lebih memperhatikan Ibu."
"Ya, terima kasih, Ta. Oh, ya. Tadi kamu panggil dia, Mas?"
"Ya," jawab Pak Arbi cepat memotong pembicaraan yang belum sempat aku jawab.
"Aku dan Ananta sudah menikah. Sah secara hukum dan agama!" tandas Pak Arbi dengan membusungkan dadanya penuh bangga.
"Selamat kalau begitu."
"Bang, ini tuh nggak seperti yang kamu pikir. Aku menikah bukan karena.... "
"Ayo kita pulang, Ta!" potong Pak Arbi cepat sebelum aku menjelaskan pada Satria. Aku tidak ingin ada salah paham, meski kami sudah bercerai.
Berpisah pun kami dengan cara yang baik, juga membuang semua dendam yang ada. Masih banyak hal indah yang pernah kami lewati. Satu dasawarsa, tidak mungkin bisa terhapus begitu saja.
Masa lalu menjadi kenangan, masa depan menjadi angan yang harus dicapai. Kisah lampau memberi pelajaran, kisah baru memberi harapan.
Aku berharap, pernikahan ini menjadi yang terakhir. Pak Arbi memenuhi semua yang aku inginkan dan butuhkan.
"Ta," panggil Pak Arbi yang sepertinya sejak tadi ia menyerahkan helm padaku. "Melamun?"
"Hehe, maaf, Mas."
__ADS_1
"Oke, dimaafin. Tapi, kali ini aja, ya."