
Aku sebenarnya enggan naik ke mobil Satria. Takut Pak Arbi salah sangka. Belum lagi statusnya yang mantan suami. Juga, ada yang hati yang harus aku jaga sekarang.
"Nggak usah, Bang."
"Serius nggak mau bareng aja, Ta?"
"Nggak, Bang. Pasarnya dekat kok dari sini."
Satria terlihat menipiskan bibirnya. Mungkin ia sadar, jika tidak ada hak untuk memaksaku. Aku seutuhnya telah menjadi milik Pak Arbi.
Satria pamit dan melajukan mobilnya dengan kecepatan santai. Aku melambaikan tangan yang mungkin saja ia melihat dari kaca spion. Kisah hidup ini seperti lagu, kalau sudah tiada baru terasa. Mungkin itu yang dirasakan oleh Satria sejak kami bercerai.
Segala sesuatunya, aku yang menyiapkan. Meski aku salah karena berselingkuh darinya, tapi tugasku sebagai seorang istri tak pernah sekalipun lalai padanya.
Aku melirik jam di pergelangan tangan, sudah hampir jam sembilan. Aku buru-buru mengambil ponsel dari tas selempang. Memesan ojek online, hari ini rekan kerja Pak Arbi akan datang. Acara makan besar yang akan diadakan di rumah minimalis milik Pak Arbi.
Bisa dikatakan, tekan kerjaku dahulu juga. Dari kabar yang aku dengar, pihak sekolah belum ada yang mengganti personelnya Hanya, guru baru yang mengisi kekosongan mata pelajaranku.
"Atas nama Ananta ya, Mbak?" tanya seorang pria dari atas motor yang mengenakan atribut serba hijau lengkap dengan helmnya.
"Ya, Mas." Ia menyodorkan helm padaku, itu satu paket dengan yang ia kenakan. Aku menggunakan jasa layanan ojek online yang cukup familiar dan dijamin aman.
"Tujuannya ke pasar kan, Mbak?"
"Ya, Mas." Tidak butuh waktu lama memang untuk aku tiba di tempat tujuan. Aku melangkah cepat untuk membeli daging segar juga beberapa bumbu yang lain.
Menu hari ini cukup daging rendang, acar timun dan sop iga. Aku bisa mengerjakannya sendiri kalau hanya itu yang dimasak. Aku menarik napas panjang dan dalam, menguatkan jiwa dan raga.
Sudah puas dengan acara belanja, aku merogoh tas mengambil ponsel. Barang-barang yang kubeli tadi, aku letakkan di bawah sebentar.
Belum sempat menyapu aplikasi, nama Pak Arbi muncul di layar.
"Halo," ucapku yang mengapit ponsel di antara bahu dan telinga.
"Kamu di mana, Sayang?'
" Belanja, Mas," jawabku sedikit berteriak. Aku berasa di pinggir jalan yang bising juga di tempat keramaian. Jika tidak begitu, aku tidak akan dengar apa perkataannya di seberang sana.
__ADS_1
"Aku jemput," ucapnya yang terdengar sangat pelan.
"Ya, aku tunggu."
"Share loc!"
Setelah panggilan diakhiri, aku mengirim tempatku berasa sekarang. Aku memilih menepi di halte bus seberang jalan. Meski dengan susah payah membawa belanjaan yang lumayan memenuhi kedu tangan, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi orang yang akan lalu lalang.
Aku meracau sendiri, ini masih sekitar jam sepuluh. Pak Arbi sudah pulang, apa ia tidak ada kelas lagi? Atau, dia memang mengambil izin. Aku berdecap sendiri, mobil sedan berhenti tepat di depanku.
Pak Arbi turun dengan pakaian yang masih sama saat ia berangkat tadi. Bahkan, sepatu pantofelnya tidak dilepas.
"Mas, kamu kok udah pulang?" tanyaku yang melihatnya langsung sibuk dengan barang-barangku. Dengan kemeja biru yang dilipat hingga siku, tangan berurat itu terlihat gagah mengangkat belanjaanku.
"Mas," panggilan lagi setelah ia meletakkan semua yang kubeli di bagasi. Tidak lupa ia membukakan pintu mobil sebelah kiri untukku.
"Aku udah selesai mengajar, Sayang."
"Loh, kok cepet?" tanyaku yang bingung menatapnya yang sudah berada di balik kemudi.
Pak Arbi tampak melukis senyuman termanisnya di sana, lalu berkedip pelan. Tangannya menyapu pipiku.
"Bukan karena aku, kan?"
Ia terkekeh pelan sembari menancap gas membelah jalanan. "Kelas aku cuma ada dua jadwal hari ini. Bukan karena kamu. Lagian, bagus dong aku pulang cepet, jadi bisa bantuin kamu."
Aku mengangguk pelan, dalam hati bersorak kegirangan karena Pak Arbi begitu perhatian dan peduli padaku.
"Mas, aku penasaran deh sama kamu."
"Ck! Penasaran terus, sih? Masih nggak selesai-seleaai rasa penasarannya," ucapnya yang sekilas melirik ke arahku lalu kembali menatap jalanan.
"Aku serius."
"Oke, apa? Tanya aja, aku bakal jawab apa pun itu," ucapnya yang sudah menggenggam jemariku.
"Kamu... nggak nyesel nikah sama aku?"
__ADS_1
Pak Arbi menyatukan alisnya sebentar lalu tertawa terbahak-bahak. Aku menarik tanganku dari genggamannya, melipat tangan di depan dada memandang ke arah luar jendela. Bersungut sebal dengan sikapnya barusan.
"Ngambek," ejek Pak Arbi yang mencolek-colek pipiku. "Sayang, aku nggak pernah menyesali apa pun keputusanku dalam hidup. Termasuk memilih kamu di hidupku."
"Tapi.... "
"Udah, ya. Intinya, aku padamu, Sayang," ucapnya yang mencium pipiku lembut. Aku sontak membulatkan mata kaget dengan perlakuannya yang tiba-tiba. Kami sudah sampai di depan rumah.
Pak Arbi membuka pagar hitam yang tidak begitu tinggi itu. Lalu memarkir mobil di pinggir jalan untuk memberi ruang pada rekan kerjanya yang akan datang sore nanti.
Aku melangkah menuju dapur setelah Pak Arbi membawa semua belanjaanku. Aku meletakkan tas selempang ke tempat asalnya tadi.
Mengambil celemek yang sudah tergantung di sana, jemari lentikku mulai mengoperasi semua bahan. Pak Arbi ikut membantu meski hanya mengupas bawang sampai menangis.
"Kasihannya," ucapku meledek lalu mengecup pipinya. Ia semakin bercucuran air mata, karena tangannya sendiri yang menyapu bekas bibirku di sana.
Tidak kuat dengan rasa pedihnya, ia meletakkan pisau asal lalu masuk ke kamar mandi. Terlihat membasuh wajahnya, aku tersenyum simpul melihatnya.
Pak Arbi keluar dari bilik, ia langsung meraba perutku. Melingkarkan kedua tangan beruratnya di sana. Aku meliriknya sekilas, ia tengah bermanja rupanya. Ia meletakkan dagunya di bahuku.
"Ta, kamu nggak perlu repot-repot begini. Kita bisa beli saja untuk mereka. Atau pesan catering aja."
Aku menarik napas dalam lalu berbalik menatapnya. Aku mengalungkan tangan di lehernya, Pak Arbi masih meletakkan kedua tangannya di pinggulku.
"Mas, aku nggak ada kegiatan. Jadi, aku putuskan untuk melakukannya sendiri."
"Kalau kamu kecapekan gimana?"
"Masih ada kamu yang bisa pijitin aku," ucapku yang sudah menatap wajah tampannya itu. Ia mengulum senyum, mengecup bibirku sekilas.
"Nanti malam aku pijitin kamu, ya."
Matanya sudah berubah menjadi pandangan penuh arti dan mesum. Aku tahu, suami bucinku ini masih belum puas.
Ia masih ingin menyelam lebih dalam lagi untuk bisa mengeksplore semua sungai dan lautan madu milikku.
Aku mencubit pipinya gemas, untuk menyadarkannya yang pikirannya sudah melanglang buana ke mana-mana. Padahal, ini masih pagi.
__ADS_1
"Ta, aku pengen punya anak," ucapnya tiba-tiba. Aku melotot tidak percaya dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari bibir tipisnya.