Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Masa Percobaan


__ADS_3

"Ya, aku tahu itu, Ta. Bagaimana kalau kita nikah siri aja dulu."


"Nikah siri? Kamu gila!" teriakku frustasi. Nikah siri itu memang dibenarkan dalam agama, tapi perempuan yang dirugikan. Apa hukumnya yang menjamin kehidupan istri siri? Nggak ada, nihil di mata hukum kedudukannya.


Berapa banyak sudah perempuan jadi korban akibat pernikahan siri. Bahkan, artis saja menuntut haknya untuk diakui tidak bisa. Apalagi, aku yang bukan siapa-siapa. Jelas aku menentang keras usulan Pak Arbi.


"Jadi, gimana, Ta? Menikah sekarang kamu nggak bawa berkas-berkasnya, kan? Lagian, kalau nikah siri kamu masih ada waktu untuk berpikir. Apakah pernikahan ini akan kamu lanjutkan atau tidak. Aku tidak akan pernah lari dari tanggung jawab, Ta. Semua keputusan ada di tangan kamu, Ta."


"Siapa bilang, aku nggak bawa berkasnya? Kamu tahu betul, di dalam tasmu itu ada berkas perceraianku. Hanya status di KTP yang belum sempat aku ubah."


"Jadi? Keputusanmu?"


Aku melirik tajam ke arah Pak Arbi. Aku juga bingung keputusan apa yang harus aku ambil. Menikah secara sah hukum dan negara atau hanya secara agama.


"Ta," panggilnya lagi yang membuatku menarik napas panjang.


"Em, untuk malam ini kita melakukan akad saja. Kasih aku waktu satu minggu untuk memikirkan semuanya. Jika kamu layak, maka kita akan melanjutkan pernikahan ini."


"Jadi, aku masih masa percobaan?" tanya Pak Arbi yang melengkungkan senyuman setelah bersitegang denganku sebentar tadi.


"Hem," jawabku malas. Gadis yang bernama Aisyah itu ikut tersenyum. Lalu mereka berjalan beriringan meninggalkanku di belakang. Mereka tampak berbisik-bisik lalu adu tos. Mereka terlihat kegirangan.


"Kalian bukannya bukan muhrim, ya?" tanyaku yang merasa disisihkan. Pak Arbi justru merangkul gadis itu yang membuat mataku terbuka lebar, denganku saja ia tidak pernah begitu. Heh!


"Dia adikku, Ta. Kami muhrim dan itu halal," ucapnya yang berbalik menatapku.


"Heh, kenapa nggak ngenalin dari awal. Aku kira dia santriwati di sini."


"Hehe. Aku cuma pengen lihay ekspresi kamu, Ta. Ternyata cemburu, haha," ucapnya dengan gelak tawa. Aku bersungut sebal lalu melewati keduanya.


"Kak Ananta, tunggu!" panggil Aisyah yang kubalas hanya dengan menoleh sebentar dan melangkah cepat.

__ADS_1


Pak Arbi masih terdengar tertawa terbahak-bahak. Ingin rasanya kujitak kepalanya. Awas saja kalau nanti malam dia minta jatah. Anak ustadz atau kiyai atau apapun itu kok mesum.


Berapa kali bibir ini ia sosor. Aisyah kini sudah berada di sampingku. Ia memeluk lenganku, seketika aku menatap ke arahnya yang tengah bergelayut manja. Padahal, ini kali pertamanya kami bertemu.


Aku mencoba menarik lenganku, risih sebenarnya. Tapi, Aisyah justru mendekapnya erat sekali. Ia mencuri-curi memperhatikan wajahku.


"Kak Ananta cantik, ya. Mirip Ariel Tatum," katanya yang sontak membuat pipiku memanas akan pujiannya. Siapa yang tidak tahu Ariel Tatum, yang difoto KTPnya saja ia cantik.


Dibandingkan denganku ... jauh, jauh sekali sebenarnya perbedaannya. Bibirku tipis, pipi sedikit membulat, mata tajam. Memang, kalau sekilas memandang, ada sedikit kemiripan. Tapi, aku malu menyebutnya begitu.


"Jelas beda, Aisyah. Saya hanya perempuan pengejera recehan, beda dengan Ariel Tatum yang jalannya saja sudah begitu mahal," kilahku yang tidak ingin berpuas diri.


"Tapi, beneran mirip loh, Kak."


"Karena itu Abang pilih Kak Ananta daripada yang lain."


Kami serempak menoleh ke arah Pak Arbi yang berjalan mengiringi kami. Sebelah tangannya berada di saku celana, aku bersungut menatapnya.


"Hehe. Aku nggak ikutan," ucap Aisyah yang mengangkat kedua telapak tangannya seraya nyengir kuda.


Pak Arbi terkekeh sebentar. Kami sudah disambut oleh Kiyai Samad beserta beberapa orang di sampingnya.


"Gimana? Kamu sudah siap?" tanyanya yang mengarah padaku. Aku mengangguk pelan, meski ragu-ragu. Sebelum semuanya terjadi, aku tidak ingin menutupi statusku yang seorang janda.


"Tapi, Kiyai. Ada satu hal yang harus Anda, tahu."


"Apa?" tanya semua orang kompak, termasuk Pak Arbi. Semua menatapku penuh tanya, aku bagai tersangka yang tengah diinterogasi di ruangan pengap sendirian.


"Saya sudah janda, Kiyai."


"Oh, tidak apa-apa. Apa yang perlu dikhawatirkan soal itu?"

__ADS_1


"Bukannya, Islam mengajarkan untuk menikahi gadis yang perawan?"


"Benar. Tapi dalam surat Al-baqarah ayat 235 yang berbunyi, 'Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu,] dengan sindiran, atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu nengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”  


Aku tertegun mendengar penuturan Kiyai Samad yang sama sekali tidak menentang anaknya untuk menikahi seorang janda sepertiku. Bukankah Rasulullah SAW menganjurkan untuk menikahi gadis yang belum pernah terlibat tali pernikahan?


"Menikahi janda tidak dilarang dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri memiliki dua belas istri, dan kebanyakan dari mereka adalah janda. Terus di mana, salahnya? Masa iddah kamu sudah selesai, kan?"


Aku mengangguk pelan, mataku masih tidak bisa lepas dari pria tua ini. Biasanya, kebanyakan orangtua akan melarang anaknya menikahi janda. Namun, berbeda dengan beliau yang begitu terbuka menyambut kehadiranku.


"Tidak ada masalah kalau begitu. Memang, Rasulullah lebih mengutamakan umatnya untuk menikahi gadis atau perjaka. Tapi, ketika Allah sudah mendatangkan cinta, maka ia akan menjadikan cinta itu abadi."


Aisyah menyapu lembut bahuku. Ia memanduku untuk masuk ke rumah yang berada di lingkungan pesantren meski tidak jauh. Bangunan dengan cat yang sama, hanya saja sedikit berjarak beberapa meter saja.


Masjid berada di pojok pesantren. Kiyai beserta orang-orang yang mengikutinya berjalan ke masjid, diikuti Pak Arbi. Jam memang sudah menunjukkan waktu Ashar.


"Assalamualaikum," ucap Aisyah yang langsung disambut wanita paruh baya dengan hijan biru. Ia tersenyum semringah melihatku.


"Waalaikumsalam. Masuk, Nak," sambutnya hangat. Mereka tidak ada yang bertanya tentang aku. Seolah, semua sudah diatur dengan sedemikian rupa.


"Acaranya jadi malam ini, kan, Syah?"


"Insya Allah, jadi, Bu," jawab Aisyah yang berjalan menuju dapur.


"Alhamdulillah, akhirnya Ibu punya mantu juga," ucapnya lagi dengan tersenyum lebar dan sedikit salah tingkah karena kegirangan.


"Maaf, ya kalau Ibu kayak singgat gori begini. Saking senengnya," katanya lagi yang tengah memegang punggung tanganku. "Sampai lupa, ayo duduk."


"Terima kasih, Bu," ucapku yang sudah duduk di sofa. Banyak foto yang terpajang di dinding. Pak Arbi dan Aisyah terpaut usia yang cukup jauh.


Terlihat di sana, saat Pak Arbi lulus sekolah menengah atas, ibunya tengah hamil besar. Pak Arbi tersenyum lebar di foto itu.

__ADS_1


__ADS_2