Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Nikah Malam ini


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu, Pak Arbi jadi lebih sering tersenyum. Aku justru berperang pelik dengan hati juga otak. Benarkah kami akan menikah? Mungkinkah? Pertanyaaan-pertanyaan ini terus menguasai isi pikiranku.


Pak Arbi menghentikan motornya di sebuah toko. Aku memperhatikan Pak Arbi yang turun perlahan juga memintaku turut serta bersamanya.


"Kita belanja untuk kamu dulu, ya, Ta."


"Untukku?"


"Ya, kamu kan pengantinnya," ucapnya yang diiringi tawa. Aku memutar bola mata malas. Ucapannya sama sekali tidak kuhiraukan.


Aku hanya melihat-lihat toko yang dipenuhi dengan baju gamis juga jilbab. Sebenarnya, tidak ada yang sesuai dengan seleraku.


Tiba-tiba Pak Arbi meletakkan kain segi empat bermotif bunga-bunga warna salem di kepalaku.


"Ternyata cocok sama warna kulit kamu. Aku ambil ini satu, ya, Mbak," katanya pada pelayan toko yang membuatku masih terbengong. Setelah pelayan pergi, aku menarik lengan Pak Arbi sedikit menyudut.


"Maksudnya apa ini?"


"Nggak ada maksud apa-apa. Kan kamu yang mau nikah sama aku."


"Pak Arbi! Ini tuh nggak lucu!" protesku tidak terima.


"Benar. Saya juga lagi nggak ngelawak," balasnya yang membuatku marah mendengar ucapannya. Aku memilih keluar, ingin pulang tapi tak tahu harus naik apa.


Tengsin kalau harus minta antar Pak Arbi. Masa tengah merajuk justru minta tolong. Nggak mungkin itu kulakukan. Aku mengembuskan napas berat, merengek dalam hati.


"Ini buat kamu," ucap Pak Arbi yang menyodorkan plastik warna kuning dengan label toko tersebut. Aku memalingkan wajah, enggan menatapnya.


"Ambil, Ta. Nggak mungkin kamu berpakaian seperti itu masuk ke pesantren," ucapnya lagi yang membuatku melihat diri sendiri dari batas dada hingga ujung kaki.


Celana jeans ketat, tanktop yang dilapisi blazer. Benar, memang kalau ini termasuk aurat di dalam Islam.


"Baju you can see kamu nggak kelihatan, sih karena tertutup blazer. Tapi, celana jeans super ketat itu, akan jadi pandangan bagi santri di sana."


Aku menyabet plastik yang digenggam Pak Arbi tadi, lalu masuk kembali ke toko untuk mengganti pakaian. Aku mengeluarkan selera Pak Arbi dari kantongan itu.


Rok panjang, aku keluarkan melihatnya dengan wajah tidak percaya. Setidaknya, aku tidak pernah punya barang model begitu.

__ADS_1


Gamis panjang motif kotak-kotak warna navy, lumayan. Tapi, masa iya naik motor pakai begituan. Aku membuangnya pelan di sampingku.


Celana kain model kulot warna cokelat muda, juga kaos model sweater warna putih. Lengkap dengan hijab masing-masing warna.


Aku bingung harus mengenakan yang mana, sebenarnya semuanya tidak sesuai dengan gayaku. Tapi, mau bagaimana lagi. Peraturan pesantren harus aku sesuaikan, sebab aku tamu di sana.


Aku memilih mengenakan celana kain dan baju sweater tadi. Mengenakan jilbab pashmina warna cokelat. Setelah selesai memakai baju tadi, aku keluar menemui Pak Arbi bersama sekantong plastik tadi.


"Gimana?" tanyaku padanya yang memunggungiku. Ia sontak berbalik dan melihat dari ujung kepala hingga kaki.


"Masya Allah, kamu cantik, Ta."


Pak Arbi mengambil helm milikku lalu memakaikannya padaku. Wajahnya begitu semringah, mungkin melihat apa yang kukenakan sekarang.


"Perhatian sekali pacarnya," ucap wanita paruh baya yang mengenakan rompi orange bertulis parkir. Pak Arbi hanya mengulum senyum menanggapi ocehan tukang parkir itu.


"Maaf, ya, Ta. Aku jadi paksa kamu pakai baju begini?"


Aku hanya menghela napas. Pak Arbi menyodorkan uang dua ribuan pada petugas parkir dan kami melanjutkan perjalanan.


Tubuhku sudah terasa kaku dan pegal akibat jalan berbatu perkebunan. Entah mengapa, di pedalaman begini ada perkampungan. Sudah beberapa desa yang tertangkap netraku terlewati.


Aku mengeluh pada Pak Arbi, ia hanya membalas dengan senyuman seraya menyapu punggung tanganku lembut.


"Sebentar lagi juga sampe, Ta. Sabar, ya."


"Dari dua jam yang lalu bilangnya gitu terus, Pak."


"Hehe, maaf, ya."


Kami berada di ujung jalan dan bertepatan dengan simpang tiga. Pak Arbi memilih belok ke kanan tidak jauh dari persimpangan ia menghentikan motornya. Plank bertuliskan 'Pesantren Ma'had Bina Ulama Asahan'


Aku memandang sekeliling bangunan tiga tingkat dengan warna hijau dan kuning pucat. Di sekitarnya terdapat lapangan yang dipenuhi dengan pohon kelapa.


Pak Arbi mengajakku untuk masuk. Aku mengangguk ragu-ragu. Seorang pria tua dengan janggut yang panjang berwarna putih, sebatas dada. Pak Arbi mencium punggung tangan beliau dan penuh hormat.


Pandangannya beralih ke arahku yang masih bertanya-tanya siapa gerangan dan apa tujuannya ia mengajakku ke sini.

__ADS_1


"Ta, sini. Kenalin, ini Kiyai Abdul Samad. Pengurus yayasan sekaligus, Ayahku," katanya yang membuatku tercengang, bahkan mulut menganga tidak percaya.


Dia anak Kiyai? Seriuskah ini? Kok kelakuannya begitu? Aku meracau sendiri, perlahan berjalan ragu. Menangkupkan kedua tangan di depan dada seraya mengucapkan salam.


"Jadi, kamu sudah siap menikah malam ini?"


"Apa? Nikah?" Aku menoleh ke arah Pak Arbi, meminta penjelasan atas apa yang dikatakan Kiyai Abdul Samad ini. Namanya saja sudah mirip dengan ketua KPK, jangan-jangan aku juga akan diberantas habis malam ini melalui sidak OTT. Ya, Tuhan.


Pak Arbi mengendikkan bahunya, Kiyai Abdul Samad memandang kami berdua bergantian.


"Bukan dia wanita yang kamu ceritakan sama Ayah?"


"Benar, dia orangnya, Yah. Tapi ...."


"Maaf, Ustadz."


"Kiyai," ucap Pak Arbi membetulkan sapaanku pada sang ayah. Ah, entah itu Kiyai atau Ustadz, sama saja menurutku, yang pasti bukan menikah tujuanku datang ke sini.


"Ya, Ki-ya-i," ucapku penuh hati-hati. "Saya datang kemari hanya menemani Pak Arbi saja, tidak ada maksud lain."


"Tapi kalian sudah melakukan zina dan itu haram hukumnya. Apa kalian akan terus melakukan dosa?"


"Zina?" tanyaku yang masih tidak mengerti maksudnya. Kami tidak melakukan apa pun. Kontak fisik hanya ciuman itu pun bukan di depan orang ramai. Hanya kami berdua, di dalam mobil malah.


"Ya, bersentuhan tangan bagi yang bukan muhrim saja sudah termasuk zina. Kalian harus menikah, kalau tidak akan banyak fitnah yang ditujukan pada kalian."


"Ta-tapi, Kiyai. Saya.…"


"Yah, sebentar ya, Arbi omongin dulu sama Ananta."


"Silakan, tapi Aisyah akan ikut menemani kalian."


Pak Arbi membawaku di sudut, diikuti gadis berkerudung pink bersama kami. Aisyah berdiri di dekatku, meski berjarak tapi dia masih bisa mendengar dengan jelas pembicaraan kami.


"Ta, aku sebenarnya nggak ada hak memaksa kamu untuk menikah sama aku. Tapi, saranku sebaiknya kita menikah untuk menghindari fitnah juga jaga nama baik Ayahku."


"Tapi, Pak. Ini tuh nggak bener. Aku nggak ada persiapan apa-apa. Lagi pula, status janda baru aja sah di mata hukum itu tiga jam yang lalu. Bagaimana mungkin?" kataku dengan menepuk jidat yang terasa pusing.

__ADS_1


__ADS_2