Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Ingin Mati Saja!


__ADS_3

Satria berlutut di depanku, ia memohon dengan wajah yang memelas. Tangannya mengusap kedua paha, lalu beralih menyatu dan meletakkannya di depan dada.


"Ta, aku mohon. Tinggalin dia, Ta."


"Heh, sudah cukup pembahasan kita. Aku tidak ingin mengulangi kata-kata yang sama. Kau tahu betul, bahwa aku tidak suka mengatakan sesuatu lebih dari dua kali."


Aku bangkit akan pergi ke kamar. Meninggalkan Satria yang terlihat frustasi di sana. Namun, wanita paruh baya datang dengan membawa rantang. Ibu mertuaku, aku menekan segala rasa dan berusaha baik-baik saja.


"Kalian kenapa? Sudah berulang kali aku katakan, cepat miliki anak!" katanya dengan memukul bahu Satria setelah ia bangkit.


Aku melihatnya datar. Beliau berjalan ke arahku. Mengelus pipiku.


"Kamu udah sehat?"


"Udah, Bu," jawabku yang kemudian tertunduk malu dan menahan tangis.


"Bu," ucapku lagi yang menarik napas panjang. Beliau berjalan menuju dapur untuk menata semua makanan yang ia bawa.


"Bu, aku berselingkuh," lanjutku lagi dengan perasaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Aku mengangkat wajah dan beliau menatap kami berdua bergantian.


"Ananta!" bentak Satria yang kini tengah memegangi kepalanya. Ia berkacak pinggang, terlihat sangat frustasi.


Aku kembali menunduk dalam, tanganku dipegang oleh ibu mertuaku. Ia membawaku duduk di kursi meja makan.


"Katakan yang sebenarnya, Ta. Jujur, saat si bodoh itu membawamu padaku, aku sangat senang dan langsung menyukaimu. Apa dia berbuat tidak baik denganmu?" Aku menatap ke arah Satria yang masih berdiri di tengah-tengah ruang tamu.


Aku menggeleng. Aku tidak mungkin menjelaskan perlakuan Satria selama ini padaku. Ketidakpeduliannya, keegoisannya, biarlah dia tetap menjadi anak yang manis untuk ibunya.


"Ananta?"


"Enggak, Bu. Ini mutlak kesalahanku. Hatiku yang sudah tidak memiliki cinta untuknya. Hatiku yang sudah berubah," jawabku seraya menangis dengan menutup wajahku.


Suara kursi berderit, wanita yang begitu menyayangiku ini perlahan berjalan keluar. Terdengar knop pintu diputar, Satria mengejar. Aku hanya bisa mengatakan yang sejujurnya.


"Tidak akan pernah ada perceraian!" tegasnya saat berada di ambang pintu.


Aku melangkah ke kamar mandi, menghidupkan kran membiarkan banjir di sana. Ingin aku menenggelamkan tubuh di sana, agar tak seorang pun tahu aku tengah menangis.


Cukup lama, mungkin satu, dua atau sudah tiga jam aku berada di sini. Tubuh sudah gemetar kedinginan, aku tak peduli. Hidup sudah tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan.


Pekerjaan, aku sudah tidak punya. Suami, bukan yang kuharapkan. Suara ketukan pintu terdengar berkali-kali.


"Ananta! Buka!"


Dug ... Dug ...!

__ADS_1


"Ananta ...!"


Aku perlahan memejamkan mata, tubuh tanpa sehelai benang. Ya, memang aku tengah menenggelamkan tubuh di bak besar sekarang.


Ingin mati saja, itu pikirku. Buat apa hidup dengan pria yang tidak pernah mengerti kondisi fisik juga batinku. Saat ini, aku sudah hampir tidak bisa bernapas. Sengaja, aku melakukannya.


Gubrak ...!


Hanya suara gebrakan pintu yang terdengar, setelah itu semua menjadi gelap. Aku yakin, kali ini Satria akan menceraikan aku.


Aku sudah kehilangan semuanya. Pekerjaan, orangtua, harga diri, bahkan jiwaku sendiri. Jadi, kehilangan Satria tidak akan ada artinya.


Entah mengapa, Tuhan masih memberi nyawa di tubuhku ini. Saat terbangun, aku sudah berada di atas kasur dengan tangan yang diinfus.


Satria duduk di tepi ranjang. Ia mengambil tanganku, ia mengurungnya dengan kedua tangannya.


"Ananta, kamu baik-baik saja?"


Aku menarik cepat tanganku dari genggamannya, membuang wajah tidak ingin melihatnya.


"Ananta, please! Stop lakuin hal gila kayak gini."


"Heh! Apa pedulimu? Tidak cukupkah kau membuatku kehilangan kewarasan?"


Terdengar helaan napas kasar darinya. Perlahan bulir beningku menetes membasahi bantal. Satria berbaring di sampingku, ia memeluk tubuhku erat.


Terlambat sudah ia bersikap manis. Hati ini terlanjur sakit dengan perlakuannya dahulu. Seribu kebaikannya saat ini tidak cukup untuk membuat hatiku utuh kembali.


"Ananta?" Suara lembut wanita membuatku mengusap bulir bening, aku bangkit dan setengah duduk.


"Mbak Arini."


"Ya," ucapnya yang duduk mendekat ke arahku. Ia menangkupkan wajahku lalu memeluk tubuh ini erat, ia mengusap punggungku lembut.


"Maafkan aku yang mengajarimu."


"Enggak, Mbak. Ini salahku."


Perlahan ia melepaskan pelukannya. Ibu jarinya mengusap air mata yang mengalir.


"Sudah, yang penting kamu baik-baik aja sekarang, kan?" Aku mengangguk, Satria kembali dengan membawa nampan berisi bubur juga segelas air putih.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Arini menatap Satria.


"Aku nggak tahu, Mbak. Saat aku pulang, Ananta nggak keluar-keluar dari kamar mandi."

__ADS_1


Satria mengangkat mangkuk dan akan menyuapiku. Namun, Arini mengambil alih dan menyuruh Satria keluar.


"Biar saya saja."


Satria keluar dengan menarik knop pintu. Arini menyendokkan bubur untukku, aku menolak halus.


"Nggak, Mbak. Aku lagi nggak pengen makan."


"Jadi, kamu mau apa?"


"Aku cuma mau menjalani hidupku dengan semestinya, Mbak. Aku dipenjara dengan pernikahan ini, Mbak. Aku nggak bisa melanjutkannya lagi," ucapku tersedu.


Arini kembali mendekapku setelah meletakkan kembali mangkuk yang ia genggam. Aku mengeratkan pelukan, menangis menumpahkan segalanya.


"Semakin dia bersikap baik, aku semakin bersalah, Mbak. Aku nggak sanggup begini terus."


"Sudah, ya. Sementara kamu fokus sama kesehatan kamu, ya. Setelah itu baru kita pikirin lagi, oke?"


Ponselku berdering. Aku dan Arini kompak menoleh ke atas nakas. Pak Arbi, lagi nama itu tertera di sana. Aku tidak ingin terlibat lagi dengan siapa pun.


Tubuh dan jiwaku rasanya lelah sekali. Begitu banyak kejadian yang menguras emosiku beberapa hari terakhir. Kepalaku berdenyut karena terlalu banyak berpikir.


"Mbak, aku pengen istirahat."


"Oke. Aku pulang dulu, ya."


"Makasih, Mbak."


Arini bangkit dan mengusap bahuku sebelum keluar. Kembali ponselku berdering, masih nama yang sama yang tertera di sana.


Aku kembali berbaring dan menarik selimut hingga batas dada. Berbalik membelakangi arah pintu.


"Ta, ada teman satu profesi kamu datang," ucap Satria tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Siapa?"


Pak Arbi terlihat berdiri di belakang Satria. Mataku terbelalak tidak percaya dengan sikap Pak Arbi.


"Pak Arbi?"


"Hai," sapanya ramah. Aku menatap Pak Arbi dan Satria bergantian. Apa yang dilakukan Pak Arbi di sini? Apalagi ini di rumahku, juga ada Satria.


Ya Tuhan, kenapa lelaki lajang ini nekat datang kemari. Hidupku sudah penuh dengan masalah dan drama yang membuat kepala berdenyut-denyut, kehadirannya di sini sekarang semakin membuatku pusing tujuh keliling.


Satria berjalan mendekati ranjang, ia berusaha membawaku keluar. Aku menepis tangannya pelan.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri," bisikku. Namun, Satria justru menggendongku ala bridal style. Tidak lupa infus sudah berada dalam genggamannya.


__ADS_2