Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Jakun Pak Arbi


__ADS_3

Pak Arbi menyodorkan kaos yang terlipat. Aku sudah bisa menebak, kalau itu kaos putih hasil karya anak-anak sepertinya.


"Untuk saya, Pak?"


"Ya, Bu."


"Lho, kok Bapak kasih ke saya."


"Ya nggak apa-apa, Bu. Cuma mau kasih hasil karya anak-anak untuk Ibu."


Aku mengernyit bingung, juga bertanya-tanya. Apa cuma aku yang beliau kasih? Atau ada guru lain yang juga yang diberikan ini. Aku tidak ingin menjadi istimewa di mata pria lain.


Tapi, kalau dihujani perhatian dan hadiah kecil begini, bisa saja aku menyimpan rasa. Harusnya Satria yang menghujaniku dengan perhatian kecil juga hadiah bentuk terima kasih.


Sebuah tangan menghalau pandanganku. Aku tersentak dari lamunan.


"Bu Ananta?"


"He uh?"


"Kaos itu berlukiskan bunga."


"Terima kasih, Pak."


"Saya sengaja memilih lukisan bunga anyelir untuk Ibu. Semoga Ibu suka dan paham maknanya."


"Ma-maksudnya, Pak?" tanyaku tergagap, Pak Arbi hanya tersenyum simpul dan berlalu. Hanya punggung lebarnya yang masih kutatap dengan saksama.


Aku membuka kaos yang diberikan tadi. Bunga yang memiliki kelopak cantik dan bergelombang.


Kadang, orang menyebutnya sebagai bunga kertas karena teksturnya yang halus dan kelihatan seperti potongan kertas.


Aku segera membuka google, mencari makna dibalik lukisan di kaos putih. Bunga itu tergambar dengan warna merah.


Bunga anyelir berwarna putih menyimpan arti sweet and lovely, lalu makna bunga yang berwarna merah adalah 'Aku tidak akan pernah melupakanmu.'


"Aneh," gerutuku menggeleng-geleng kepala pelan. Sikap Pak Arbi sungguh tidak biasa. Dia yang masih bujangan, harusnya memberikannya pada Bu Afifah yang sesama masih lajang.


Ditambah, Bu Afifah itu jomblo. Pak Arbi juga. Jadi mereka bisa cocok satu sama lain.


"Bu Ananta," panggil Bu Afifah yang menepuk bahuku, sontak aku tersentak. Kulihat beliau sudah memegang kaos yang sudah dibentangkan di tubuhnya.

__ADS_1


"Ibu dapat kaos hasil karya anak-anak juga?"


"Ya. Pak Arbi yang kasih."


Aku menarik napas lega, syukurlah. Ternyata tidak hanya aku yang diberikannya. Aku bisa mengacuhkan perasaan yang dianggap spesial oleh Pak Arbi.


Aku mengerutkan kening melihat bunga yang terlukis. Mirip dengan milikku, hanya saja punya Bu Afifah terlihat memiliki dua warna. Dari yang aku baca tadi, maknanya yang memiliki dua warna bisa diartikan 'Tidak bisa bersamamu.'


Apa maksudnya Pak Arbi memberikan lukisan bunga ini dengan makna tersendirinya. Aku tahu dengan jelas kalau beliau guru biologi, tapi kenapa harus memberi kode lewat gambar. Ah, terserah Pak Arbi sajalah, pikirku.


***


Minggu pagi-pagi begini, aku merehatkan sejenak tubuh dan masih terus berbaring di kasur. Begitu juga dengan lelaki yang ada di depanku. Ia tidur telentang, kepalanya miring ke arahku.


Aku memandangnya lekat, sebentuk penyesalan kadang hadir menyapa. Sikap dinginnya, sisi misteriusnya, sungguh aku tidak mengenal pria yang sudah satu dasawarsa bersamaku.


Ia mulai mengerjap dan mengusap-usap wajahnya. Tiba-tiba ponsel berdering, kulihat nama di layar, 'Mantan.' Sontak Satria terjaga, aku yang gugup langsung saja mencari keberadaan benda pipihku.


Meraba-raba di bawah bantal. Hanya berdering sekali, memang. Namun, itu sepertinya berhasil menaruh kecurigaan Satria padaku. Aku menghapus semua panggilan masuk atau keluar. Menghilangkan jejak.


Satria langsung bangkit dan menyibakkan selimut. Ia berdiri meminta ponselku. Aku menyodorkannya. Jelas, ia membuka log panggilan.


"Ya, itu semua, Bang."


"Kenapa dihapus?" tanyanya berkacak pinggang, lalu membuang wajah kasar.


"Kau selingkuh, kan? Ya, kan?!" tuduhnya yang langsung membentakku.


"Kamu gila!" jawabku yang langsung bangkit menuju kamar mandi di dekat dapur.


"Apa namanya kalau bukan selingkuh!" katanya lagi yang menarik pergelangan tanganku, sontak aku berbalik. Mata sudah mengembun, berkedip sedikit saja, luruhlah air mataku.


Aku tidak selingkuh, bukan lebih tepatnya belum. Mungkin itu yang bisa kugambarkan dengan segala sikap dingin Satria. Aku cuma wanita biasa, apa salah mengharapkan kehangatan dari suamiku sendiri.


Meski banyak cinta yang datang, tapi aku semampunya menutup mata juga telinga. Aku berlalu menghindari pertengkaran. Satria menggila, ia melempar benda pipihku ke lantai. Terburai, berantakan.


Aku langsung masuk ke kamar mandi. Setelahnya menyalakan motor dan pergi dari rumah. Sebenarnya aku bingung harus ke mana. Suasana juga masih pagi buta. Seribu caci maki bisa ditahan oleh seorang istri, tapi tidak dengan bentakan suami.


Aku melajukan motor, tidak punya tujuan. Hingga berhenti di danau yang lumayan jauh dari rumah. Aku memarkir di sana, lalu berjalan melewati jembatan dan duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang dan menatap air tenang yang terbentang.


Aku menangis sesegukan. Hancur sekali hatiku, tuduhannya tidak berdasar. Tama juga, harusnya dia bisa mendengar ucapanku kemarin.

__ADS_1


Aku tertunduk dalam, tak jarang membuang cairan dari hidung dan kembali menangis. Sudah jelas bulir hangat lolos dari mata. Bahu juga ikut berguncang karena sakitnya yang menghujam jantung. Kadang terbesit untuk selingkuh saja.


Bayangan tinggi, kurus mengenakan topi hoodie terlihat di air danau. Aku melirik ke arah sepatu sport berwarna putih di sebelahku. Lalu menyapu ke arah atas. Celana kain warna hitam menampakkan setengah pahanya. Dari setelannya ia, tengah jogging di sini.


Pak Arbi berdiri mematung dengan kedua tangan diletakkan di kantong hoodie berwarna abu, lengkap dengan topi yang menyatu dengan kaos tanpa lengan itu. Otot lengannya terbentuk sempurna.


Ia menatap datar ke arah danau. Mataku sembab melihatnya yang kini menatapku. Kumis tipis tampak memenuhi sekitar bibir dan dagunya.


"Pak Arbi?"


"Ya, saya."


Aku dengan cepat menyapu sisa-sisa butiran air mata dengan punggung tangan. Mencoba menetralisir hati yang sakit. Tangan berurat itu menyodorkan sapu tangan.


"Terima kasih."


Ia mendaratkan bokong di sebelahku tanpa bertanya. Tatapannya sendu, tapi berhasil mengintimidasi meski tanpa bertanya.


"Ah, a-aku ...."


"Nggak perlu menjelaskan. Saya sudah paham."


"Anda bisa saja salah paham, Pak."


Dia terlihat menarik napas panjang. Cukup lama terdiam, matanya bergerak mengikuti pergerakan bola mataku. Lalu meneguk sebotol air mineral yang ia keluarkan dari kantongnya.


Dagu dan jakunnya yang basah membuatku menelan saliva berat. Entah mengapa ada desiran aneh yang menjalar hangat.


"Nih, buat kamu," ucanya yang mengeluarkan air sebotol lagi dari tangan kirinya.


Dia tidak mengatakan apa pun, bertanya kenapa aku di sini pun tidak. Aneh sekali pria ini, aku tidak tertarik dengan pria misterius.


Aku mengambil air minum darinya, lalu ia bangkit. "Anda mau ke mana, Pak?"


"Bukankah Anda ingin sendiri?"


Benar, yang dikatakan Pak Arbi.


"Tapi, kalau Anda ingin menemani saya, boleh," ucapku yang menghentikan langkahnya, berbalik menatapku.


"Anda sudah punya suami, Bu!"

__ADS_1


__ADS_2