Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Nasi Hadapan


__ADS_3

Pak Arbi tidak menjawab hanya diam dan perlahan naik menghampiri Aisyah. Aisyah sudah menyambut kami meski masih berjarak sekitar lima ratus meter lagi. Ia meminta lenganku dan langsung memeluknya.


"Kak Ananta, kamu katanya mau dihukum sama Ibu."


"Hukum?"


Aku melirik ke arah Pak Arbi yang terlihat diam seraya menyunggingkan senyuman.


"Ayo, Kak." Aisyah sedikit menyeret lenganku untuk buru-buru menemui Ibunya. Aku masih menatap Pak Arbi yang berada di belakang kami. Terlihat ia berjalan santai sambil bersiul.


Sesampai di rumah, banyak orang memenuhi ruangan yang cukup luas. Aku menarik napas panjang dan dalam.


Beberapa kali aku mengembuskan napas berat. Pak Arbi terlihat senyum penuh kemenangan. Aku menaikkan sudut bibir, dengan gigi beradu menatap ke arahnya yang sudah duduk di sebelahku.


"Gugup ya, Kak?" bisik Aisyah yang kujawab dengan anggukan.


"Setiap pengantin baru pasti dibuat begini, Kak."


"Maksudnya dibuat begini?"


"Ya, ini pestanya. Tadi malam kan cuma akad nikah aja."


Ibu mertuaku tampak sibuk mengatur segala hal. Berbagai macam manisan dengan segala bentuk dari buah juga sayur. Seperti cabe yang yang disulap jadi manisan.


"Ini, apa?" bisikku menyenggol perut Pak Arbi.


"Manisan."


"Kok dari cabe?"


"Bukan hanya cabe, bunga pepaya juga ada. Lihat, tuh," tunjuknya lalu atensiku beralih ke arah boneka barbie kecil yang sudah disusun permen dibentuk sebagai gaunnya.


"Unik, ya," kataku lagi.


"Emang kamu nggak pernah lihat?"


"Pernah, cuma aku nggak pernah ngalamin sendiri."


"Eh, eh. Ini pengantin baru kok bisik-bisik terus dari tadi," goda wanita paruh baya yang membuatku tertunduk malu. Lingkungan dan orang-orang asing bagiku.


Sebuah nampan besar berisi nasi yang menjulang tinggi, ada juga sambal, mie dan sayur mengelilingi nasi tersebut.


"Kalian saling berhadapan, ya," pinta Kiyai. Aku menatap Pak Arbi meminta penjelasan.


"Ikuti aja, Ta."


"Ta-tapi."

__ADS_1


Kami pun berhadapan dengan nasi berada di tengah-tengah kami. Pak Arbi menaikkan kedua alisnya yang membuatku jengah dan memutar bola mata malas.


Terlihat seorang pria paruh baya mengenakan pakaian adat melayu berwarna kuning keemasan lengkap dengan topinya. Ia memandu acara dan berpantun.


Aku melihat ke diriku sendiri yang hanya memakai pakaian biasa. Sangat berbeda dengan si pembawa acara.


"Kita nggak salah busana ini?"


"Biarin aja, Ta. Itu memang sudah ciri khasnya."


Kami diminta untuk mencuci tangan di mangkok kecil lalu mengaduk-aduk nasi di hadapan kami tadi.


Berkali-kali aku menatap Pak Arbi dan semua orang bergantian. Aku tidak yakin dengan ini, tangan kami harus masuk dan mencampurkan semua yang ada di nampan. Ah, bagaimana mereka bisa memakannya?


"Oke, sekarang kalian harus berebut ayam. Siap-siap, ya. Satu, dua, tiga."


Aku yang masih bingung dan terbodoh untuk sesaat. Semua orang sudah mengelilingi kami.


"Ayo, Arbi, Arbi."


"Kak, jangan mau kalah! Cepetan cari, kok malah bengong!" ucap Aisyah yang tampak begitu semangat dan meletakkan sebelah tanganku untuk mencari keberadaan ayam tadi.


Sorak-sorai ramai terdengar, Pak Arbi lebih dulu mengorek-ngorek untuk mencari ayam utuh. Aku menghela napas dan tampak begitu lesu. Masih capek sisa pergumulan di kamar tadi malam.


"Ayo, ayo..!" seru semua orang diiringi tawa.


Pertarungan sengit memperebutkan ayam pun dimulai. Aku dan Pak Arbi saling pandang dan tidak mau kalah. Aku menyingsingkan lengan baju dan mulai mencari.


Kami bergulat dengan nasi timbunan itu, cukup lama sampai akhirnya kami sama-sama mendapatkan ayam utuh.


Setelah dapat, kami diminta untuk menarik kedua sisi ayam. Kukerahkan seluruh tenaga untuk mendapatkan bagian yang paling besar. Namun, waktunya tidak tepat dan situasi tidak memberi aku kesempatan yang baik kali ini.


Pak Arbi mendapat seluruh badan ayam dengan lengkap, sedangkan denganku hanya sayap yang tertinggal. Aku menghela napas lemas, semua orang bersorak untuk Pak Arbi.


Konon katanya, jika mendapat bagian yang lebih besar, ia yang akan memimpin dalam rumah tangga. Begitu tradisinya dan adat istiadat di sini.


Kami segera mencuci tangan dan ingin beranjak pergi, tapi ditahan oleh ibu mertuaku. Aku beringsut akan bangkit.


"Mau ke mana, Ta?"


"Emh, udah selesai kan, Bu?"


"Belum, hukuman untuk kamu aja belum."


"Hah? Masih harus dihukum?"


Beliau terkekeh sebentar, aku mendadak curiga. Hukuman apa gerangan yang akan diberikan padaku. Dulu, waktu menikah dengan Satria tidak ada seperti ini.

__ADS_1


Beberapa kotak mika berpita emas dibawa Aisyah ke hadapanku. Aku terbengong sebentar. Kupandangi isinya, ada satu set baju tidur warna merah, pakaian dalam lengkap, perlengkapan mandi, tas, sepatu, termasuk skincare merk terkenal ada di sana.


"Apa semua ini, Bu?"


"Untuk kamu."


"Ta-tapi, Bu."


"Kami menyiapkan ini semua hanya dalam waktu satu malam. Ibu nggak tahu apa yang cocok untuk kamu, semoga kamu suka, ya. Ini ungkapan terima kasih Ibu, karena kamu udah menjadi menantu di rumah ini."


Aku terharu, mataku mulai memanas dan mengembun. Ibu mertuaku langsung memeluk tubuhku erat. Ia menyapu punggungku lembut.


"Terima ya, Sayang."


"Makasih, Bu."


Pak Arbi mendekat dan merangkul bahuku, ia menyapu lenganku. Ibu mertuaku melepaskan pelukannya.


"Kamu harus jaga dia ya, Bi. Jangan sakiti dia, siapa lagi yang sayang sama Ananta kalau bukan kamu dan kita semua."


"Insya Allah, Bu. Arbi akan selalu jaga Ananta dengan baik," jawab putra kesayangannya dengan yakin. Air mataku semakin menganak sungai.


"Serangkaian acaranya udah selesai, kalian boleh istirahat."


"Makasih, Bu."


Kami berjalan menuju kamar, aku menyapu bulir bening yang membasahi pipi. Pak Arbi mendudukkan aku di tepi ranjang. Kemudian ia berlutut di depanku sembari meremas kedua tanganku pelan.


"Ta, makasih udah jadi istri aku."


Bulir bening semakin lolos satu persatu dan perlahan isak tangis terdengar dan bahuku berguncang.


"Hei, kok kamu nangis?" katanya lagi yang perlahan bangkit dan duduk sejajar denganku. Aku mendaratkan kepala di bahunya.


"Ini pernikahan keduaku, Pak. Kenapa, justru seperti yang pertama bagiku."


"Kamu boleh menganggapnya yang pertama. Aku nggak keberatan. Anggap aja, aku menikah gadis yang sudah tidak perawan," ucapnya yang menyunggingkan senyuman. Aku mendongak melihat wajah tampan itu. Pria sempurna sepertinya kenapa memilih menikahi janda sepertiku.


"Tapi, aku bukan gadis!" protesku yang membuatnya membulatkan matanya.


"Ya, tapi kamu gadis menurutku!"


"Terserah kamu!"


Aku masih menyandarkan kepala di bahunya yang cukup lebar. Mungkin ini akan jadi tempat favoritku nanti.


"Aku udah lulus masa percobaan belum?"

__ADS_1


Aku seperti disentil olehnya, memang ia mengatakannya dengan senyuman tapi cukup menohok ke jantungku. Pak Arbi selalu saja bertindak sesukanya.


__ADS_2