Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

"Tidak akan pernah ada perceraian dalam keluargaku! Sampai kapanpun aku nggak pernah ceraikan kamu!" tandasnya dengan wajah merah padam.


Aku menahan sebak di dada. Napasku serasa terhenti mendengar ucapannya. Tidak tahu apa yang ada di pikiran Satria. Dia membahagiakan aku tidak, atau mungkin terlalu kasar jika mengatakan tidak. Mungkin belum, setidaknya sampai saat ini.


Bukankah ia mengatakan jijik pada wanita yang sudah tidur dengan pria lain. Aku? Bukankah aku sudah melakukannya? Terus apa ini? Kenapa dia masih mempertahankan aku?


"Bang, aku sudah melakukannya dengan Tama."


"Ya, aku tahu. Aku pun sudah dengar semuanya," ucapnya geram dan menatap tajam wajahku.


"Terus?"


"Biar aku urus sisanya. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!"


Satria berlalu meninggalkan aku sendirian di kamar rawat inap ini. Aku bingung dengan semuanya. Entah apa tujuannya mempertahankan aku, rasa cinta untuknya sudah hilang sejak ia bersikap tidak peduli denganku.


Aku menatap keluar jendela. Sepasang suami istri yang sudah renta tengah duduk saling memeluk menatap matahari yang sudah mulai tinggi.


Aku menatap haru keduanya. Perlahan mataku mengembun. Benar ada badai yang harus dilewati untuk sampai di pernikahan ujung usia. Tidak ada rumah tangga yang mulus tanpa terjal. Tapi, aku memang sudah tidak ingin melanjutkan bahtera rumah tangga dengan Satria.


Cukup sudah. Sepuluh tahun bersamanya, masih saja tidak mengerti dengan hati dan sikapnya.


Tama tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku melengos, malas melihat wajahnya. Semua ini karena dia. Aku dicap pelakor. Ia berlutut di samping brankar.


"Kamu ngapain, Tama?!"


"Ta, aku minta maaf atas nama istriku."


"Nggak perlu! Aku sudah cukup malu atas perlakuannya. Sebaiknya kita nggak usah ketemu lagi."


"Ta, please! Aku nggak bisa ngelepasin kamu gitu aja."


"Lebih baik kamu pergi. Kita hentikan di sini."


"Nggak, Ta! Aku akan buktikan ke kamu, kalau aku layak untukmu."


Aku menaikkan sudut bibir. Sekarang, aku sadar mengapa aku begitu bodoh kembali terjebak olehnya. Dulu, ia bahkan menghilang tanpa kabar. Bahkan, pesan dariku dua hari kemudian baru ia balas.


Setelah diteliti, ia justru menganggap aku pengganggu dan bosan padaku. Lucu sekali, sekarang ia berlutut memohon. Heh! Kejadian kemarin sudah cukup membuatku membuang sampah yang tidak bisa didaur ulang.


"Bangun, Tama. Silakan pergi!" tandasku yang menunjuk daun pintu. Tama tertunduk dalam, perlahan ia bangkit dan berjalan keluar.


"Ta, aku hanya ingin mencintai kamu dengan utuh."

__ADS_1


"Sejak kamu bosan dan menganggap aku pengganggu, rasa itu sudah tidak utuh."


Tama pergi tanpa kata, aku menenggelamkan wajah. Memeluk lutut, menangis tanpa suara. Hanya tubuh yang bergetar dan bahu yang ikut berguncang. Sedramatis ini kisah cintaku.


Terlalu rumit untuk dipecahkan. Rumus yang diukir mereka tak mampu membuatku menjabarkannya hingga mendapatkan hasil. Semuanya seperti rumus lingkaran, yang memiliki diameter masing-masing.


Seperti rumus pytagoras yang mencari jawaban untuk setiap sudut. Bahuku disapu lembut oleh seseorang, aku mengangkat wajah. Perempuan berhijab ini langsung memelukku yang tampak kacau.


"Bu Afifah," kataku diiringi tangis yang semakin pecah di sana.


"Bu, Anda harus kuat."


"Bu, aku nggak sanggup."


"Anda pasti bisa, Bu."


Aku melepaskan pelukan Bu Afifah. Ia menatapku nanar, ada semburat kecewa di sana. Tapi, sisi pandangannya tersirat sedih melihatku. Ia duduk di tepi brankar.


"Bu, gimana keadaan Ibu?"


"Kacau, Bu."


"Bukan, maksud saya kesehatan Ibu."


"Masih menunggu dokter, Bu. Jika hasilnya baik, maka saya sudah bisa pulang hari ini."


Sesaat suasana menjadi canggung dan hening. Aku yang merasa pendosa amat sangat malu bertemu dengan Bu Afifah.


"Anak-anak gimana, Bu?" tanyaku yang mencoba mencairkan suasana.


"Baik, Bu. Sementara mereka maskh diberikan tugas. Ada hal yang ingin saya sampaikan sama Ibu."


"Apa itu, Bu?"


Bu Afifah tampak gelisah dan mulai menimbang-nimbang kata yang akan terlontar dari mulutnya. Aku sudah bisa menebak, ini ada kaitannya dengan karirku.


"Emmmh ...." Bua Afifah terlihat menggaruk pelipisnya dan meremas jemarinya sendiri.


"Bilang aja, Bu. Nggak apa-apa."


Ia mengatupkan kedua bibirnya, perlahan ia menarik napas panjang. Lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini, Bu." Ia menyodorkan amplop panjang berwarna putih. Aku menyatukan kedua alis.

__ADS_1


"Apa ini, Bu?"


"Ibu buka aja, ya. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Bu Afifah pun pergi, aku membuka amplop yang sudah genggam sejak tadi. Sebuah surat pemecatan dari pihak sekolah karena aku dianggap tidak bermoral.


Ya, itu memang benar. Kesalahan itu menghancurkan segalanya. Berarti, kini aku harus selalu beeada di rumah. Perawat dan dokter masuk melakukan pemeriksaan.


Aku sudah bisa pulang. Tidak ada yang datang menjemputku. Aku mengemasi barang-barang, tidak lupa membersihkan diri sebelum pulang.


Tas berukuran sedang sudah berada dalam genggamanku. Aku melangkah keluar dengan perasaan yang bingung. Harus ke mana?


Berjalan dengan gontai dan tak tahu tujuan. Semua orang yang aku lewati terua saja menatapku dan berbisik-bisik. Aku paham, video kejadian kemarin pasti sudah viral.


Aku tiba di lobby, mobil Satria baru saja tiba. Aku tidak ingin pulang dengannya. Di rumah itu, terasa penjara untukku sekarang. Ia membuka pintu.


"Masuk!" perintahnya. Aku terus saja menatap wajahnya yang datar. Pandangannya lurus ke depan.


Aku pasrah, akhirnya ikut serta bersamanya. Diam, tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Perjalan sepuluh menit membawa kami tiba di rumah.


Satria memintaku untuk turun, tapi aku enggan menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Semuanya sudah berubah, termasuk hatiku. Dia sudah tidak ada lagi di sana. Segumpal daging itu kosong, tak seorang pun yang memilikinya.


"Turun," perintahnya lagi. Aku menggeleng lemah. Barang-barang dari rumah sakit ia bawa masuk, sedangkan aku masih setia di dalam mobil.


"Ayo, turun!" bentaknya yang membuatku tak gentar. Sudah mati rasa hati ini akan perlakuannya. Sikap yang bagaimana lagi yang harus aku kagetkan.


Dibiarkan begitu saja, sudah sering ia lakukan. Ditinggal saat sedang menangis sendiri di kamar, juga pernah ia buat. Kata cerai sudah dua kali ia katakan, lalu dengan bentakan tadi aku harus kaget, oh ... tentu sudah biasa aku dapatkan.


Masih pantaskah rumah tangga ini aku pertahankan dengannya? Aku berselingkuh juga karena sikapnya yang terlalu mementingkan diri sendiri. Satria menarik lenganku hingga tubuh ini keluar dari roda empat yang kami naiki bersama tadi.


Ia melemparkan tubuhku hingga tersungkur di lantai. Membuangnya seperti sampah. Aku menatap nyalang padanya yang masih berdiri di ambang pintu. Mataku memanas, bulir bening sudah mengembun, perlahan jatuh menetes.


Dengan cepat kusapu air mata itu kasar. Tidak ada lagi butiran air mata yang jatuh untuknya. Tidak lagi, batinku.


"Bisa kau tinggalkan dia?"


Aku menarik sudut bibir. Berdesis pelan, untuk apa itu kulakukan. Bahkan, untuk hidup dengannya saja aku sudah enggan.


Aku diam, tidak ingin menjawab. Hanya berpaling muka, malas melihatnya. Dia bukan orang yang akan mengisi hariku lagi ke depannya. Dia sudah tidak ada di sana, bahkan di sudut hati namanya telah terhapus sejak kemarin ia meninggalkan aku.


"Ananta? Bisakah kau tinggalkan dia? Aku akan bersikap baik padamu?"

__ADS_1


"Heh! Lucu sekali, sekarang aku justru jijik denganmu."


__ADS_2