
"Arbi bersikeras keluar dari pesantren saat SMA," ucapnya yang sepertinya mengerti ketika atensiku tidak beralih dari foto itu.
"Maaf, Bu. Kenapa Anda tidak bertanya tentang saya?"
"Nggak perlu, Ananta. Saya sudah tahu tentang kamu, jauh sebelum kamu datang kemari."
Aku menyatukan alis bingung mendengar penuturan wanita berparas cantik ini. Di wajahnya sama sekali tidak ada kerutan. Mungkin beliau menggunakan skincare mahal.
Aisyah ikut bergabung dengan kami sambil membawa minum di atas nampan. "Diminum, Kak. Bang Arbi, udah lama cerita soal Kakak," sambung Aisyah yang membuat wanita paruh baya di depanku tersenyum penuh arti.
"Tunggu, saya masih nggak ngerti dengan semua ini," kataku lagi yang masih dengan wajah bingung.
"Arbi sudah lama cerita ke Ibu juga Aisyah. Setiap kali dia pulang, dia selalu cerita soal kamu. Ibu mendukung dia, tapi tetap menasehatinya kala kamu sudah punya pacar dahulu."
Pacar? Berarti, benar yang dikatakan Pak Arbi selama ini. Dia sudah lama memperhatikanku.
"Kak." Suara Aisyah membuyarkan lamunanku, aku tersentak menatap ibu dan anak bergantian.
"Arbi, memang begitu, Ta. Jika sudah menetapkan pilihan, ia tidak akan pernah goyah."
"Tapi ...."
"Kenapa? Status kamu?" tanya wanita paruh baya itu. Aku mengangguk dan menunduk dalam.
"Arbi sudah cerita semuanya."
"Anda juga tidak keberatan dengan masa lalu saya?"
"Kalian yang menjalani kehidupan rumah tangga, bukan kami. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendukung keputusan kalian."
Aisyah mengusap bahuku, lalu memelukku erat. "Kak Ananta tenang aja, ya. Bang Arbi itu baik juga perhatian terhadap hal-hal kecil. Aisyah yakin, Kak Ananta nggak akan salah pilih."
Kubalas hanya dengan senyuman. Entah mengapa, keluarga ini begitu berlapang dada menerima keadaanku yang tidak utuh.
"Assalamualaikum." Suara berat yang sangat kukenal hadir di depan pintu. Ia mencium takzim punggung tangan sang ibu. Satu kecupan hangat ia daratkan di pelipisnya, seraya tangan merangkul bahu bidadarinya itu. Kami menjawab salamnya.
"Ibu senang, kamu akhirnya pulang bawa menantu untuk Ibu."
Pak Arbi hanya tersenyum lebar, ia menghampiriku. Tatapan kami bertemu untuk sebentar yang kemudian tangan keriput menutupi mata anaknya.
"Masih harus jaga mata, Bi."
__ADS_1
"Hehe, Ibu."
"Nanti malam juga udah halal, Kak," sambung Aisyah.
***
Malam pun tiba, aku tidak menyangka habis Isya nanti aku akan menikah lagi. Mungkin di sini tidak ada yang tahu kapan pastinya aku sah menjadi janda. Tapi, Pak Arbi paham betul.
Kondisi di sini membuat kami tidak bisa berkutik. Meski harusnya bisa untuk lari. Namun, bagaimana dengan nama baik keluarga Pak Arbi. Ah, aku jadi terjebak di sini.
Wajahku sudah dipoles dengan make up sedemikian rupa. Kebaya warna pastel juga sudah aku kenakan. Entah milik siapa ini, yang jelas aku hanya mengikuti skenario.
Kalung model V dipakaikan Aisyah padaku. Aku menatap cermin besar di hadapanku seraya memegang rantai itu.
"Syah, ini emas?" tanyaku memastikan. Bukan tidak mungkin jika itu imitasi dan memang sekadar hiasan dari pihak perias.
"Ya, Kak. Alhamdulillah, Kakak yang pakai. Bang Arbi beli itu udah lama," katanya yang membuatku menatap Aisyah dari cermin.
"Udah lama?"
"Heuh," ucap Aisyah seraya mengangguk pasti. "Waktu Raffi Ahmad nikah, Bang Arbi kumpulin uang terus beli itu, Kak. Katanya untuk istrinya nanti."
"Syah, simpan baik-baik, ya. Aku nggak pantes pakai ini, Syah." Aku meletakkan kalung itu kembali di genggaman tangan Aisyah. Aisyah tampak bingung.
"Loh, Kakak kan sebentar lagi sah jadi istri Bang Arbi."
"Aisyah, sebentar lagi bawa Ananta keluar, ya."
Kami serempak menoleh ke arah pintu yang terlihat ibunya melongok di sana.
"Ya, Bu." Daun pintu kembali ditutup rapat. Aisyah memakaikan lagi kalung yang tadi kuberikan.
"Kakak pakai dulu untuk malam ini, ya. Terlalu kosong, Kak kalau nggak dipake. Setelah akad, Kakak boleh lepas. Nanti, Aisyah simpan."
Aku mengembuskan napas pasrah. Meski berbalut jilbab juga manset, kebaya yang kukenakan cukup menampakkan lekuk tubuh. Entah milik siapa ini, yang jelas sangat pas denganku.
Aisyah keluar sebentar meninggalkan aku sendirian di kamar milik Pak Arbi yang sudah ditata dengan indah. Ponselku berdering, aku menatap layar.
Tama, ia kembali menghubungiku entah ingin apa. Aku tidak mau lagi berurusan dengannya. Aku hancur karena mengingat masa lalu yang harusnya kubuang jauh-jauh.
Beberapa kali ia menelepon, masih saja aku enggan untuk menjawab. Tidak ada gunanya lagi. Sekarang, aku hanya ingin fokus dengan kebahagiaanku, entah dengan siapa pun itu.
__ADS_1
Pesan teks masuk di layar ponselku. "Ta, aku dengar kamu sudah bercerai dengan Satria. Apa itu betul, Ta. Ta, please angkat telepon dari aku."
"Kak Ananta, ayo," ajak Aisyah yang berjalan mendekat. Ia mengapit lenganku dengan lembut. Sebelum beranjak, aku mematikan ponsel.
Meski ini pernikahan yang kedua, tetap saja aku merasa deg-degan dan gugup. Berkali-kali aku menariknya dalam-dalam dan membuang napas perlahan.
"Gugup, ya, Kak?"
"Ya, Syah," jawabku dengan *******-***** jemari.
Kain pembatas sudah terpasang di sana. Entah itu untuk memisahkan tamu atau memang hanya menunggu hingga selesai akad akan dibuka. Baru kali ini aku benar-benar berada dalam situasi yang terbilang sesuai dengan syariat Islam.
"Nak Ananta," panggil seseorang dari balik kain, entah siapa beliau.
"Apa Anda memiliki wali untuk menikahkan Anda?"
"Tidak."
"Baik, saya akan menjadi wali Anda. Apa Anda mengizinkannya?"
"Ya."
"Alhamdulillah. Baik, Nak Arbi. Saya akan mulai. Ulurkan tangan Anda."
"Bismillahirramanirrahim. Arbiansyah Samad, saya nikahkan engkau dengan Jiwananta Aureli bin Sujiwo Darma dengan maharnya seperangkat alat salat dan cincin emas logam mulia seberat dua puluh gram dibayar ... tunai!" Jantungku berdetak tak menentu saat penghulu mengucapkan ijab.
"Saya terima nikahnya Jiwananta Aureli bin Sujiwo Darma dengan mahar tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi?" tanya seorang pria yang mungkin berperan sebagai penghulu di sini.
"Sah ...!" jawab semua orang serentak. Ucapan syukur jelas terdengar. Perlahan bulir beningku lolos, entah mengapa. Lantunan doa-doa dipanjatkan. Kain pembatas tadi dibuka perlahan.
Aku menunduk dalam, tidak ingin mata yang memanas ini dilihat Pak Arbi. Tangan Pak Arbi terulur di depanku. Aku mencium punggung tangan itu.
"Kak Ananta, lihat Bang Arbi, Kak. Ganteng loh, Kak," bisik Aisyah yang membuatku menatapnya sebentar. Pak Arbi tersenyum semringah.
"Tangan kamu mana, Ta," ucapnya yang membuatku mengulurkan tangan padanya. Ia mengambil kotak perhiasan yang berisi cincin, dan menyematkan di jariku.
Belum lama aku melepaskan cincin pernikahan dari Satria. Kini, itu sudah terganti dengan yang baru. Pak Arbi mencium keningku, tidak ada yang melarang kali ini.
"Nanti malam langsung, ya, Ta?" Aku sontak mendangak menatapnya, yang tanpa sadar ternyata dari tadi ada fotografer di sana.
__ADS_1