
Aku menatapnya tanpa berkedip. Pak Arbi justru mengulas senyuman. "Lihat ke kamera, Ta," ucapnya lagi yang tangannya sudah memeluk pinggang rampingku.
"Oke, posenya udah bagus. Saya foto, ya."
Bagus apanya? Aku jelas-jelas hanya melihat pria yang kini sudah sah menjadi suamiku. Fotografer berkepala plontos menunjukkan hasil jepretannya pada kami.
"Lihat, beneran bagus, kan?" katanya lagi yang membuatku mengalihkan pandangan ke arah kameranya.
Benar, memang itu seperti foto candid. Hanya Pak Arbi yang sadar kamera. Pak Arbi kembali mendekatkan pinggangku padanya, sebelah tanganku diminta untuk memegang bahunya. Kami saling menatap. Begitu arahan fotografer tadi.
"Ta, aku nggak sabar pengen nyobain kamu?" katanya diiringi mata nakal. Aku mencubit bahu lebarnya dan merapatkan gigi.
"Awas aja kalau kamu berani," kataku dengan gigi yang sudah beradu.
"Aku suami sah kamu, Ta."
"Kamu masih dalam percobaan," lanjutku yang kini sudah menghadap ke depan setelah melakukan sesi foto. Pak Arbi terkekeh sebentar.
"Kalian makan dulu, ya. Itu Ibu udah siapin makanan untuk kalian. Pak Agus, Anda juga, nikmati hidangan yang ada," ucap ibu Pak Arbi yang baru beberapa menit yang lalu menjadi mertua untukku.
"Ayo, Ta." Pak Arbi menggenggam jemariku, ia menuntunku hingga ke meja prasmanan tempat berbagai lauk disajikan.
Pak Arbi mengambilkan makan untukku meski aku berada di sampingnya. Aku sudah amat paham dengan sikap yang begini. Di awal pernikahan pasti dimanja, setelah satu atau dua tahun, gelagatnya akan terlihat dengan jelas.
Kami duduk ikut bergabung dengan yang lain. Aku sedikit susah untuk duduk karena rok kebaya yang sedikit sempit. Pak Arbi membantuku untuk bisa mendaratkan bokong dengan leluasa.
Ocehan para orang-orang yang hadir membuat suasana menjadi ramai. Entah itu pujian, ejekan dan godaan mereka lontarkan untuk kami berdua. Namun, masih terbilang ucapan yang positif.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman, sebab aku tidak tahu watak orang-orang di sini. Fotografer tadi juga entah mengapa tiba-tiba hadir di pernikahan kami.
"Kamu udah mau ke kamar, Ta?"
"Wah, wah. Ternyata, pengantinnya udah nggak sabar, ya. Pengen langsung cepat-cepat masuk kamar," ucap salah seorang pria paruh baya yang membuat semuanya tertawa.
Aku mencubit pelan pinggang Pak Arbi bagian belakang. "Maaf, Ta," bisiknya yang masih menampakkan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Biarin, Pak Mahmud. Biar kami cepat-cepat punya cucu," timpal ibu mertuaku.
"Kalian istirahat, aja sana. Kalian pasti capek." Ustadz Samad menyuruh kami meninggalkan semua orang. Pikiranku melanglang buana. Aku tahu betul apa yang akan terjadi di dalam ruangan yang hanya ada kami berdua.
Belum lagi, ini malam pertama aku dan Pak Arbi. Ah, ya Tuhan. Kenapa secepat ini? Jujur, aku masih belum siap untuk melakukan begituan lagi. Sudah sejak lama aku tidak pernah melakukannya.
Kali terakhir saat dengan Tama. Aku tidak pernah memberi tubuh ini lagi untuk Satria. Setiap kali akan melakukannya, aku teringat akan rasa bersalahku padanya. Hal itu terus menguasai otakku.
"Ayo, Ta," ajak Pak Arbi yang berdiri terlebih dahulu. Ia meminta kedua tanganku untuk membantuku bangkit perlahan.
"Ini nggak apa-apa?" tanyaku memastikannya pada Pak Arbi.
"Nggak apa-apa, Ta. Ayah yang suruh. Nggak apa-apa, kan, Yah?"
"Pergilah, Bi. Kalian pasti lelah, perjalanan kemari cukup jauh."
"Permisi, Bu, Kiyai, semuanya."
"Kak!" panggil Aisyah mendekat padaku. Ia memberikan sesuatu di tanganku. Selembar kertas entah berisi apa. Pak Arbi mengerutkan kening melihat adiknya. "Kak, jangan lupa dibaca, ya," bisiknya.
"Ini apa, Syah?"
"Aisyah kasih apa sama kamu?"
"Nggak tahu, cuma selembar kertas aja. Belum tahu apa isinya." Kami berjalan menuju kamar Pak Arbi, aku sedikit menjinjing rok kebaya tadi agar leluasa untuk melangkah.
Sesampai di kamar, Pak Arbi langsung melepaskan kemeja lengan panjang berwarna putih miliknya. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, malu melihatnya.
Pak Arbi memegang pergelangan tanganku, ia menurunkan tangan yang menutupi wajah. Netra kami bertemu dan saling menyelam.
"Matamu indah, Ta." Aku menundukkan pandangan. Ia masih mengenakan kaos dalam yang menampakkan bentuk tubuhnya.
"Aku nggak lakuin kalau kamu belum mengizinkannya, Ta. Meski ini malam pertama untukku."
Aku mengangkat wajah dan menatapnya yang masih melengkungkan senyuman. Rona bahagia terus terpancar di wajah tampannya.
__ADS_1
"Apa aku tidak berdosa jika kita tidak melakukannya?"
"Kalau aku meminta dan kamu tidak memberikannya, itu akan jadi dosa. Dan, kalau aku memaksamu pun aku berdosa dalam hal ini."
"Jadi?"
"Aku belum meminta hakku padamu, kan, Ta?" Pak Arbi menyapu lembut pipiku. "Jangan merasa terbebani, Ta."
"Terus sekarang kita harus apa?"
Pak Arbi tampak merapatkan bibirnya, terlihat ia berpikir keras. Sejujurnya, aku tidak mengenal kepribadiannya. Memang, selama beberapa bulan dekat dengannya, ia bersikap baik padaku. Meski kadang tidak sopan.
Beberapa kali mencuri ciuman di bibirku. Jika diingat-ingat, aku merasa kesal dengannya. Hari ini, ia justru menjadi suamiku. Ah, entahlah roda kehidupan berputar ke mana.
"Kita bisa cerita sepanjang malam, Ta. Sambil berpelukan, dan lebih mengenal satu sama lain. Menurut kamu gimana?"
"Ehm ... tapi, aku kok kayak nggak yakin, ya? Kalau kita cuma ngobrol sambil pelukan sepanjang malam," ucapku meremehkan yang perlahan membuka kalung di leherku.
"Sini aku bantu, Ta." Pak Arbi mengalungkan tangannya seperti akan memelukku, jemarinya terasa bergerak membuka pengait rantai emas itu.
Detakan jantungnya terdengar di telingaku. Begitu juga denganku. Aliran darah terasa naik cepat hingga ke otak. Dadaku naik turun seperti roller coster.
Kedua tanganku bergerak cepat memeluknya. Pak Arbi diam mematung, membuatku tengsin saja. Segera aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan berbalik membelakanginya.
Pak Arbi melingkarkan tangan beruratnya di pinggangku. Aku mengusap lembut dan menikmati sentuhannya di perutku yang masih berbalut kebaya.
"Kamu mau, Ta?"
"Heuh? A-aku buka jilbab dulu, ya," ucapku yang sudah deg-degan setengah mati. Meski bukan yang pertama, tapi ini berhasil membuatku gugup bukan kepalang.
"Biar aku aja yang bukain, Ta."
"Apa?" Pak Arbi perlahan melepaskan jarum pentol yang terpasang di sisi atas kepala. Lalu turun di bagian bawah dagu, jilbab sudah terlepas dariku.
Ia mengusap pucuk kepalaku, mendaratkan ciuman lembut di sana. Aku mundur satu langkah, menghindarinya agar tidak mendengar detak jantungku yang sudah tidak karuan.
__ADS_1
Jemari Pak Arbi menyentuh pipiku, menyapu bibir dengan ibu jarinya. Mencium lembut bibirku, seketika seperti ada aliran listrik yang menyengat di tubuhku. Kertas yang diberikan Aisyah tadi terlepas begitu saja.
Ciuman itu semakin buas dan kami terlena dalam hasrat yang kian membuncah. Pak Arbi perlahan membawa tubuhku ke pembaringan.