Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Gara-Gara Kopi


__ADS_3

"Ya, Bu."


Selesai makan Kiyai Samad dan Pak Arbi keluar. Mungkin sudah rutinitas di pesantren ini, setiap pria wajib salat di masjid yang hanya berjarak sekitar beberapa ratus meter saja.


Aku kembali ke kamar setelah membantu ibu juga Aisyah mencuci piring.


"Kak, aku mau tanya serius boleh?"


"Aisyah, jangan ganggu Kakakmu," ucap Nur yang mungkin sudah paham bagaimana sifat Aisyah.


"Nggak kok, Bu. Aisyah serius pengen nanya sama Kak Ananta." Nur hanya menggeleng pelan lalu mengutip sisa piring yang berisi lauk di meja.


"Kamu mau tanya apa, Syah?" tanyaku yang kedua tangan sibuk mencuci. Aisyah berdiri di sampingku membilas piring yang masih penuh dengan sabun.


"Kakak sama Bang Arbi pacaran berapa lama?"


"Nggak ada pacaran kayaknya, Syah."


"Serius. Sama suami yang dulu malah empat tahun pacarannya."


"Oh, pantes Bang Arbi galau banget waktu dengar Kakak nikah."


"Aku kira Pak Arbi malah udah punya pacar. Lagian, kita mana tahu yang ada di hati orang, kan?"


Aisyah nyengir kuda, setelah selesai mencuci piring, aku berjalan ke teras. Menghirup udara malam yang dipenuhi suara jangkrik. Begitu tenang, sangat berbeda dengan di kota.


"Enak di sini, kan, Kak?"


"Emmh, sebenarnya sih kalau untuk menenangkan pikiran enak. Cuma akses ke mana-mana cukup jauh."


"Ya, namanya juga di kampung, Kak."


"Kamu ada tugas nggak? Aku bosen nih nggak ada kegiatan."


"Ada, Kak. Sebentar aku ambil dulu, ya."


Aisyah masuk ke rumah, aku masih menatap langit dengan ribuan bintang. Benar, di sini masih terasa asri meski di pedalaman begini.


Sejak pertama kemari, baru malam ini aku benar-benar menikmati suasana kampung kala malam. Kemarin-kemarin selalu saja berdua di kamar bersama Pak Arbi.


Heran, tidak ada malunya dengan orangtuanya. Belum lagi tanda di leher yang masih membekas. Ah, entah kapan hilangnya ini. Aku meraba bekas gigitan Pak Arbi kemarin.


"Kak, ini tugas aku." Aisyah menyodorkan beberapa buku, aku mengambilnya dan mulai mengajari Aisyah cara memecahkan tugas.


"Assalamu'alaikum."


Aku dan Aisyah menoleh, kami berada di kursi teras dengan meja bundar di tengahnya. Pak Arbi langsung mendekat, sedangkan Kiyai masuk meninggalkan kami.

__ADS_1


"Ngerjai apa, Sayang?" Aku mendongak melihat Pak Arbi yang tampak santai dengan kalimatnya. Ia berdiri dengan sebelah tangan di saku celana, sebelah tangannya lagi berada di bahuku.


"Mas, malu ih. Ada Aisyah!" protesku yang berbisik padanya. Ia sedikit membungkukkan badannya sebentar lalu kembali ke posisi semula.


"Santai aja, Kak. Aku maklum, kok. Tenang."


"Lagian, kamu ngapain kasih Ananta bacaan begitu? Pake tata cara salatnya segala lagi."


"Ih, Bang. Biarin dong, itu sunahnya. Abang ikutin, nggak?"


"Nggak dong, Syah. Udah kebelet Abangmu ini, jadi lupa segalanya."


"Ya, kan sunnah. Bila dikerjakan berpahala, bila ditinggalkan tidak berdosa."


Aku dan Aisyah manggut-manggut, bagaimanapun pembelaannya jika sudah menyangkut agama pasti akan kalah. Lebih baik kami berdua mengalah.


"Sayang, bikinin kopi."


"Mas, aku lagi ngajari Aisyah, nih. Sebentar lagi, ya."


"Biar Mas yang gantiin kamu. Aku lagi pengen minum kopi buatan kamu. Semanis orangnya, nggak?"


Aku menaikkan sudut bibir, mulut lelaki memang selalu manis jika meminta sesuatu yang diinginkannya. Jika bosan, menghilang tanpa kabar. Aku beranjak dari kursi, berjalan menuju dapur.


"Mau ke mana, Ta?"


"Tumben? Biasanya dia nggak pernah minum kopi, malah ogah-ogahan kalau diminta minum kopi sekalian begadang sama Ayahnya."


"Nggak tahu, Bu. Pengen katanya."


"Biar Ibu aja yang buat ya, Ta."


"Nggak usah, Bu. Biar Ananta aja. Bang Arbi mintanya Ananta yang buat."


"Ya udah." Ibu mertuaku berjalan menghampiri Kiyai Samad. Aku melangkah menuju dapur, mencari-cari keberadaan bubuk hitam itu. Maklum, bukan rumah dan wilayahku. Jadi, wajar jika bingung.


Cukup lama aku bertaut di dapur, hingga lingkar pinggangku terasa ada yang memeluk.


"Masih lama, Ta?"


"Maaf, Mas. Aku.... " Pak Arbi memang tidak mengenal tempat, ia langsung mengecup bibirku sekilas. Bersyukur ada gorden pembatas jadi tidak langsung terlihat kami beradegan di belakang.


Ehem


Suara deheman ibu mertuaku membuat kami terlonjak kaget. Pak Arbi langsung melepaskan pelukannya. Aku memukul bahunya pelan lalu terkekeh bersama.


"Kamu sih, nggak tahu tempat. Nyosor terus."

__ADS_1


"Aku kecanduan kamu, Ta."


"Heh! Dasar Pak Bucin."


"Ketemu, Ta?"


"Hehe, di mana ya Bu letaknya?" tanyaku nyengir kuda. Ibu mertuaku terlihat bangkit dan bergabung bersama kami. Pak Arbi meninggalkan dapur.


"Kamu, kalau Aisyah lihat gimana," bisik ibunya saat berpapasan dengannya yang masih terdengar di telingaku. Pak Arbi hanya terkekeh.


Tangan keriput itu langsung membuka laci lemari bagian bawah. Ia mengeluarkan wadah kecil transparan lengkap dengan tutupnya. Tidak lupa ia letakkan gula di sampingnya.


"Makasih, Bu."


Aku melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda gara-gara Pak Arbi. Beberapa menit kemudian, aku membawakan dua gelas kopi untuk Pak Arbi juga Kiyai Samad.


Aku berjalan menuju teras tempat Pak Arbi dan Aisyah belajar setelah meletakkan segelas kopi milik mertuaku. Abang beradik ini tampak tidak akur. Pak Arbi menjitak kepala Aisyah, Aisyah bersungut sambil menyapu bekas pukulan sang kakak.


"Kok pake kekerasan sih, Mas?"


"Nggak bisa-bisa dia dari tadi, Sayang."


"Ya, kami harus sabar dong. Kamu guru idola loh di sana."


Aisyah sudah mengerucutkan bibirnya, ia melanjutkan tulisannya yang entah apa itu.


"Aku mau belajar sama Kak Ananta aja! Nggak mau sama Bang Arbi!"


"Eh, ini anak kecil. Diajari malah milih, masih mending Abang mau ajarin kamu."


"Aku nggak minta!" Pak Arbi berdesis kesal mendengar ucapan Aisyah. Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan padanya untuk berhenti menganggu Aisyah.


"Kamu masuk aja sana, Mas. Biar aku yang ngajari Aisyah."


"Enggak, aku mau deket sama kamu aja."


"Bang, aku nggak Abang ada di sini. Sana!" usir Aisyah yang semakin membuat Pak Arbi geram. Aku mengusir dengan bahasa isyarat, Pak Arbi pun beranjak sambil membawa kopi tadi. Saat melangkah dekat Aisyah, ia menyempatkan diri untuk menjitak kepala adik kesayangannya itu.


Jelas saja Aisyah merengek memanggil nama Pak Arbi, ia begitu terusik oleh sikap kakaknya.


"Udah, Syah. Kita lanjutin, ya."


"Bang Arbi memang begitu, Kak. Makanya aku nggak mau diajarin sama Bang Arbi."


"Ya udah, sekarang kan ada aku. Aku yang akan bantu kamu belajar."


"Ya, tapi Kak Ananta lusa udah kembali ke Medan, kan? Kenapa nggak tinggal di sini aja sih, Kak?"

__ADS_1


__ADS_2