Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Titip Kamu


__ADS_3

Pak Arbi menghela napas, bahunya juga ikut turun mendengar penuturan dokter. Ya, itu artinya dia harus puasa hingga bulan depan.


Selesai pemeriksaan, kami putuskan pulang, Pak Arbi juga masih harus bekerja. Vitamin dan susu dari dokter tadi sudah berada di jok belakang. Pak Arbi sesekali menyapu perutku.


"Masih rata, Mas."


"Biarin, aku mau Bijun tahu, kalau Papanya lagi berkorban untuk dia."


"Ck! Berkorban apa?" tanyaku dengan kekehan kecil.


"Ya berkorban untuk nggak lihat dia di dalam rahim kamu."


Aku mengulum senyum, Pak Arbi justru melotot padaku. Kini, tanganku digenggamnya, lalu ia mencium punggung tangan dan bagian telapaknya juga.


"Makasih, Ta."


"Aku yang makasih sama kamu, Mas. Kamu wujudkan impian aku jadi seorang ibu."


Kami sudah tiba di rumah, Pak Arbi membuka pagar dan pintu untukku. Memastikan aku dan Bijun aman, bahkan ia mengantar hingga ke kamar.


"Nggak mau di kamar, Mas."


"Udah, di kamar aja."


Aku akhirnya mengalah, ia jadi over protective. Pak Arbi duduk di tepi kasur, mobil sengaja dibiarkan di depan, ia juga akan berangkat bekerja.


"Kamu ada mah makan apa?"


"Nggak ada, Mas."


"Kalau ada pengen makan apa-apa, bilang aku, ya."


Aku mengangguk patuh, Pak Arbi membelai wajahku. Memeluk tubuhku, tangannya mengusap lembut punggungku.


"Mas berangkat, ya, Sayang. Jaga Bijun baik-baik, ya."


"Pasti."


"Jangan, mengerjakan apa-apa."


"Ya, Mas. Udah sana!" usirku dengan gerakan tangan yang memintanya keluar.


Dokter sebenarnya tidak mengharuskan bed rest, bahkan boleh beraktivitas tapi jangan berlebihan dan yang berat. Memang, trimester pertama yang paling rentan.

__ADS_1


Belum lagi, ini kehamilan pertama. Lima tahun menantinya, bukan waktu yang sebentar. Meski dulu dengan Satria, sedangkan dengan Pak Arbi masih satu bulan sudah membuahkan hasil.


Ah, takdir memang lucu. Aku turun dari kasur, duduk di teras depan. Memandangi rumah Arini yang tampak begitu sepi dan senyap. Kuangkat ponsel yang ada di meja bundar sampingku.


Aku mencoba menghubunginya, untuk sekadar bertanya kabar. Bagaimana dia sekarang dan di mana dia. Panggilanku terus menderita, tapi tidak ada jawaban dari sana.


Lagi, aku menelepon, aku ingin tahu kabarnya. Memang, kami adalah dua orang peselingkuh. Aku menggigit ujung kuku, sesekali menatap layar ponsel yang masih belum diangkat olehnya.


Tak lama, mobil sedan hitam milik Zaki terlihat berhenti di depan rumahnya. Rupanya, Alisha baru pulang sekolah. Ada seorang wanita dengan seragam berwana pink ikut serta bersama mereka. Zaki memilih menyewa perawat untuk mengurus anaknya.


"Pagi, Alisha," sapaku lembut yang sudah berdiri di dekat pagar. Zaki menoleh, genggaman tangan Alisha masih mengerat di tangannya.


"Eh, Ananta," sapa Zaki yang memang pria ini cukup ramah.


"Kamu baru pulang sekolah?" tanyaku lagi, gadis kecil itu masih diam dan hanya mengangguk lemah.


"Saya kok nggak lihat Mbak Arini?" Kali ini pandanganku ke arah Zaki, meminta jawaban untuk itu. Zaki terlihat menginterupsi suster untuk masuk membawa Alisha.


"Kamu baru pulang lagi ke sini?"


"Ya, Mas. Makanya, saya tanya soal Mbak Arini, kebetulan beberapa hari di sini, aku nggak lihat dia."


Zaki menarik napas panjang, tangannya diletakkan di saku celananya. Ia membuang kasar wajahnya sebentar, terlihat jelas raut wajahnya yang tidak suka.


"Jadi?"


"Enggak, saya nggak akan mengabulkan permintaan dia untuk cerai!"


"Sekarang, Mbak Arini di mana, Mas?"


"Aku nggak tahu, mungkin lagi sama selingkuhannya. Lihat aja, cepat atau lambat, aku akan tuntut mereka berdua atas hukum perzinahan."


Aku diam, tidak tahu harus berkata apa. Sekarang Zaki masih terlihat emosi dengan sikap Arini. Dia bahkan berkacak pinggang berdiri di depanku.


"Kamu, aku dengar kamu menikah lagi. Ya?"


"Ya, Mas. Kalau begitu, permisi, Mas. Saya mau masuk dulu."


"Ya, kalau Arini telepon kamu, tolong bilang, jangan pernah temui Alisha di sekolahnya. Aku akan menutup akses dia ketemu sama anak-anak."


Aku hanya mengangguk, tidak ingin ikut campur urusan mereka berdua. Biarlah, rumah tangga mereka menjadi urusan mereka. Tidak ada hubungannya denganku.


Sekarang, aku lagi fokus sama Bijun. Begitu masuk ke rumah, aku tiba-tiba pengen makan pisang. Pisang yang besar yang ada di supermarket depan.

__ADS_1


Aku melangkah mengambil dompet, berjalan sedikit saja juga nggak apa-apa kayaknya. Daripada harus naik motor, guncangannya juga nggak tahu seberapa besar. Belum lagi kalau ada lubang. Nunggu Pak Arbi kelamaan, bisa-nisa ngiler duluan.


Berjalan pelan dan hati-hati menuju ke arah supermarket. Sesampai di sana, aku langsung mengambil keranjang dan berjalan menuju bagian buah. Jelas, kalau udah sampai di sini, bukan cuma satu yang akan dibeli.


Tengah asyik melihat-lihat buah, Pak Arbi melakukan panggilan video. Malas sebenarnya mengangkatnya, apalagi ini di tempat ramai begini. Akan mengundang tanya para pengunjung dan menjadi pusat perhatian.


"Mas, aku lagi di supermarket. Nanti aja ya, VC." Aku mengirim pesan itu padanya. Pak. Arbi justru kembali menelepon, masih dengan panggilan video.


Oke, akhirnya aku angkat juga. Ia terlihat tampan di layar. Ia sepertinya belum memulai kelasnya, atau mungkin udah selesai.


"Kamu kenapa ke situ sendirian?"


"Aku lagi pengen makan pisang, Mas."


"Ya, kan bisa tunggu aku, Sayang."


"Kelamaan, Mas. Pengennya tuh sekarang," jawabku yang masih sesekali melihat buah di hadapanku.


"Aku takut kamu sama Bijun kenapa-kenapa."


"Doain yang baik, dong."


"Ya, aku pasti doain."


"Bijun siapa?" tanya seorang wanita yang kini sudah berada di belakang Pak Arbi. Jelas aku tanda suaranya, itu suara Bu Afifah danr mbuBu Lubis. Mereka ikut memenuhi layar ponsel Pak Arbi dan menatap penuh tanya pada Pak Arbi.


"Calon anak kami, Bu," jawab Pak Arbi, Bu Afifah langsung menyabet ponsel Pak Arbi. Ia sudah mengambil alih, benda pipih itu.


"Wah, Bu Ananta. Akhirnya kami dapat kabar baik loh, dari Anda."


"Ya, Bu. Ternyata, Pak Arbi topcer juga, ya," ucap Bu Lubis yang kini sudah mencolek bahu Pak Arbi. Kami hanya mengulum senyum.


"Baru kemarin makan-makan, eh tau-tau udah dapat kabar gembira begini. Kami ikut senang dengarnya, Bu," ucap Bu Afifah dan Bh Lubis memberi selamat.


Mereka mengembalikan ponsel Pak Arbi setelah mengatakan itu. Pak Arbi terlihat tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa? Kamu kikuk, Mas?" tanyaku yang memang terlihat canggung di raut wajahnya. Aku mengambil dua buah mangga.


"Sayang, mumpung kamu lagi di sana, Mas titip."


"Titip apa?"


"Titip kami biar dijagain dengan baik sama Mbaknya," ucapnya yang membuat karyawan wanita yang di sampingku ini mengulas senyum.

__ADS_1


"Kamu apaan sih, Mas."


__ADS_2