
"Ck! Random banget, sih, Mas." Hanya kekehan yang terdengar dari seberang telepon. Aku mengakhiri panggilan itu. Mbak yang menyusun buah di rak itu ikut tersenyum.
"Lucu, kan Mbak?" Mbaknya hanya tersenyum. Aku sibuk memilih buah.
Selesai dengan acara buah, aku berjalan memperhatikan pernak-pernik peralatan dapur. Entah itu mangkok atau piring yang unik. Memang, kalau soal rumah, aku pasti suka usil lihat yang unik.
Kulihat di ujung sana, ada mangkok berbentuk daun. Aku mengambil beberapa buah untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Merasa sudah puas berbelanja, aku akhiri dengan berjalan menuju kasir.
"Ananta?" Sontak aku berbalik mendengar suara itu. Pria memakai topi juga hoodie hitam berdiri tidak jauh dariku.
"Tama?" Aku menyatukan kedua alis, bingung. Kenapa dia harus ada di sekitar lingkungan rumahku? "Kamu ngapain di sini?"
"Ta, kita bicara di luar, ya. Mbak, ini," ucapnya menyodorkan minuman kemasan pada kasir. Aku melongo, sungguh tidak percaya dengan keberadaannya yang di sini.
Aku sengaja berlama-lama dan memilih menghindari Tama. Tidak ada gunanya lagi berbicara dengannya, itu hanya mengungkit masa lalu, dan aku nggak mau itu.
Aku melipir dan berjalan sedikit cepat. Rupanya, keberadaanku diketahuinya. Ia mengejar, terdengar derap langkahnya yang mengikuti. Lenganku dipegang olehnya.
Aku menatap tajam jarinya yang sudah melingkar di sana. Ia yang sepertinya mengerti, melepaskannya.
"Ta, udah satu minggu aku cari kamu. Aku keliling di sekitar sini."
"Itu bukan urusan aku, Tama!"
"Benar, tapi kamu menghilang dari hidupku."
"Kamu tahu aku menghilang, jadi stop ganggu aku."
Tama terus mengejar hingga ke depan rumah. Bukan apa-apa, pandangan orang tentangku sudah buruk sejak kali terakhir video itu. Mereka menyebutku sampah dan pelakor.
Sialnya, itu memang benar. Tuduhan mereka atas diriku benar adanya. Aku memang pelakor dan pezina, juga sampah. Pak Arbi yang mengeluarkan aku dari sana.
"Ta, dengerin aku dulu!"
"Tama! Stop ganggu di hidupku. Aku sudah menikah!" bentakku akhirnya. Tama mundur satu langkah, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Nggak mungkin, Ta. Nggak mungkin secepat itu. Kamu bohong, kan?"
Aku memutar bola mata malas. Terserah dia mau percaya atau tidak, yang jelas bukan tugasku untuk mendapat kepercayaannya.
__ADS_1
"Sekarang aku tengah hamil. Jangan ganggu aku lagi."
"Hamil?" tanyanya ia tampak menyapu pandangannya ke arah perutku. Ya, aku meletakkan tanganku di sana.
"Anak aku, Ta?"
Aku menaikkan sudut bibir, sungguh gila pertanyaannya. Mana mungkin ini anaknya, sedangkan berhubungan dengannya sudah berbulan-bulan lamanya.
"Anak aku dan suamiku!" tandasku penuh keyakinan. Tama mencengkeram bahuku, sangat kuat hingga aku meringis.
"Tam, lepas," pintaku padanya. Ia tampak melotot tidak suka, raut wajahnya geram.
"Katakan kalau itu anakku, Ta!" teriaknya yang membuatku memejamkan mata takut. "Ananta, katakan!" bentaknya yang mengguncangkan tubuhku.
"Kamu sakit jiwa, Tama. Ini anakku dan suamiku. Tidak ada hubungannya denganmu."
Tama mengangkat tubuhku, ia membawaku di bahunya. Aku meronta meminta tolong, ponsel di dalam kantong plastik bersama buah. Ya, aku meletakkannya di sana tadi.
"Berhenti...!" teriak suara berat pria. Aku langsung menerka suara itu. Sepertinya suara Pak Arbi.
"Beraninya kau!" bentaknya lagi yang kini, tubuh rampingku sudah berpindah alih. Aku berdiri di belakang Pak Arbi, memegang kemejanya kuat.
"Kamu pinggi dulu, Sayang. Biar aku yang hadapi."
Pak Arbi terlihat sudah mengambil kuda-kuda, ia tampaknya siap akan bertarung. Begitu juga dengan Tama, pria yang begitu tergila-gila denganku.
Tama melayangkan satu pukulan yang berhasil Pak Arbi mengelak. Kini, giliran Pak Arbi yang menyeretnya masuk ke mobil.
"Mas, kamu mau apain dia?"
"Aku mau bawa ke kantor polisi. Dia sudah menganggu kita."
Aku takut Pak Arbi kalap, lagian aku korbannya di sini. Akan lebih cepat prosesnya jika ada korban dan saksi. Pak melemparkan tubuh Tama kuat, lalu kami masuk dan mengunci pintunya.
Aku was-was, entah apa yang ada di pikiran Tama. Mungkin dia memang sudah gila. Aku bahkan tidak pernah membayangkan bisa bertemu dengan pria tidak waras seperti dia di hidupku.
Pak Arbi membelah jalanan dengan cepat, raut wajahnya jelas penuh dengan amarah. Aku menggenggam tangannya, aku sendiri takut dengan sikapnya yang di luar out there box.
"Mas," panggilku hati-hati. Pak Arbi menoleh sekilas lalu melirik Tama yang duduk menunduk di jok belakang.
__ADS_1
"Mas," panggilku lagi yang kini menyapu lembut bahu lengan atasnya yang berotot. Tatapannya berubah menjadi sendu.
"Ya, Sayang."
"Jangan gegabah, ya. Tetap pakai logika," pintaku yang kemudian dia membawa tanganku ke dalam genggamannya. Mencium telapak tanganku lembut.
"Bisa-bisanya kalian bermesraan di depanku! Mati saja kalian!" bentak Tama yang kemudian mencoba meraih setir hingga berebutan dengan Pak Arbi.
"Tama, stop!" kataku yang kini mobil sudah bergerak ke sana kemari. Beruntung tidak terjadi apa-apa, Pak Arbi yang tampak kalap menyikut dagu Tama hingga tersungkur ke jok belakang dan pingsan.
"Allahu Akbar," ucapku yang menarik napas dalam-dalam.
"Sebaiknya kita bawa di ke rumah sakit jiwa. Percuma dibawa ke kantor polisi."
Aku hanya diam, masih syok rasanya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami sudah tiba di depan kantor polisi, Pak Arbi keluar dengan sedikit membanting pintu.
Ia langsung menyeret keluar Tama, wajahnya begitu dingin dan beringas. Tama masih belum sadarkan diri. Pak Arbi memapahnya lalu melemparkan tubuh Tama di lantai kantor polisi.
Polisi yang bertugas terlihat bingung, ia menatap Tama dan Pak Arbi bergantian. Aku hanya jadi penonton saat Pak Arbi langsung duduk di hadapan pria berseragam cokelat itu.
"Saya datang kemari untuk membuat laporan."
"Laporan apa?"
"Dia," tunjuk Pak Arbi yang ke arah Tama, "melakukan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap istri saya," sambungnya yang sorot mata Pak Arbi kini memintaku untuk duduk di sebelahnya.
"Jelaskan semuanya, Ta," ucap Pak Arbi untuk mengkonfirmasi laporannya. Aku mengangguk, di hadapan polisi itu.
"Baik, apa ada saksi?"
"Saya korban sekaligus saksi, Pak. Dan suami saya juga saksi atas perbuatannya. Barusan, dia hampir mencelakakan kami karena cemburu melihat kemesraan kami."
Polisi itu terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Aku mengatur napas, berusaha untuk tetap tenang.
"Kalau boleh tahu, apa penyebabnya? Hubungan Anda dengan terdakwa, mungkin."
"Dia mantan pacar saya, Pak."
"Oke.Jadi, motifnya karena cemburu, ya." Polisi masih terlihat sibu menulis laporan, Tama bangkit dan berusaha untuk kabur. Aku yang tidak ingin dia berkeliaran, menepuk bahu Pak Arbi untuk menangkapnya lagi.
__ADS_1
"Mas. Jangan sampe dia kabur."