
"Ya, saya takut Anda dihindari para fans karena dekat sama janda seperti saya."
"Kamu bukan janda pirang, kan?" tanyanya yang sontak membuatku menoleh kepadanya.
"Ck! Bisa aja bercandanya, Pak. Ikutin banget yang lagi viral itu," ucapku diiringi gelak tawa.
Pak Arbi pun ikut tersenyum mendengarnya. Ia menarik rem tangan dan melaju pelan. Entah dia akan membawa ke mana. Sejak tadi dia sibuk bertanya, tapi tak ada jawaban dariku.
Benda pipihku berdering tanda pesan masuk, aku merogoh ke dalam tas mengambilnya. Kubuka pesan singkat yang masuk di aplikasi hijau, dari Bu Afifah. Tumben sekali, sudah lama kami tidak berkomunikasi.
"Bu, bagaimana kabar Anda?"
"Baik," balasku yang terus membalas, tak jarang terkekeh sendiri tanpa menghiraukan Pak Arbi yang sibuk mengemudi juga sesekali melirik ke arahku.
"Pesan dari siapa, Ta?"
"Hah? Dari ...." Aku sengaja menggantung kalimatnya ingin melihat ekspresinya.
"Mantan suami kamu?" Aku menggeleng pelan, ia terlihat mengerutkan kening. Lalu berhenti di tepi jalan. Ia menarik paksa ponsel yang ada di genggamanku, jelas aku menggodanya tidak ingin ia melewati privasiku.
"Siniin, Ta."
"Enggak," jawabku yang tangan sudah berpindah-pindah karena Pak Arbi mengikuti pergerakannya. Cukup lama ia melakukan itu hingga berhenti di satu titik. Ketika wajah kami tak berjarak, aku menelan saliva berat. Begitupun Pak Arbi, terlihat jakunnya naik turun.
Perlahan, kupejamkan mata. Entah angin apa yang membuatku begitu. Apa mungkin memori di puncak beberapa waktu lalu mengingatkanku. Ah ... aku sendiri tidak mengerti dengan otak dan hati yang tidak sinkron.
Ponselku berhasil ditarik oleh Pak Arbi, ia tidak melakukan apa pun. Pak Arbi tersenyum melihat tingkahku.
"Kamu ngapain, Ta?" tanyanya yang membuatku malu bukan kepalang. Aku merutuki diri sendiri, memalingkan wajah.
"Kamu berharap aku cium kamu seperti waktu itu?"
"Hah?" Aku langsung berbalik menatap ke arahnya yang tengah menarikan jarinya di layar sentuh milikku.
Aku sedikit mendongak ke arahnya, ia mengecup batang leherku. Aku menarik diri darinya, ia justru mencium buas bibirku.
Aku hanya bisa pasrah, memang benar sekarang status janda sudah kusandang. Bebas berinteraksi dengan siapa pun.
"Pak Arbi," kataku mencoba mencari penjelasan.
"Jangan bicara lagi. Kalau kamu ngomong, saya akan cium lagi."
"Tapi, Pak," kataku lagi, yang benar saja dia mendaratkan kecupan di sana.
Aku merapatkan bibir, tidak berani berkata-kata. Enak sekali Pak Arbi terus-terusan merasakan manisnya bibirku yang ranum.
Pak Arbi kembali melanjutkan mengemudi. Entahlah akan dibawa ke mana. Mobil terus berjalan menyusuri jalanan yang padat.
Hingga kami berhenti di satu kompleks sederhana. Aku menoleh ke arah Pak Arbi, ingin bertanya. Tapi, takut ia akan menciumku lagi.
__ADS_1
Pak Arbi menoleh ke arahku beberapa detik lalu kembali melihat jalanan.
"Kalau ada yang mau ditanya, tanya aja, Ta. Nggak akan aku cium."
"Em ...."
"Beneran, Ta. Aku nggak akan cium kamu lagi. Ya, setidaknya sampe beberapa menit ke depan," lanjutnya yang membuatku mencubit pinggangnya. Ia beringsut geli, memegangi bekas cubitanku.
"Kita di mana ini, Pak?"
"Lingkungan rumah saya."
"Loh, kok kemari?"
"Singgah sebentar, ya, Ta. Saya mau ganti kendaraan. Pengen naik motor aja."
Pak Arbi turun dan membuka pintu teralis besi berwarna hitam. Aku diam di tempatku semula.
Ia masuk kembali dan memarkirkan mobilnya di garasi.
"Ayo, turun, Ta."
"Ini nggak apa-apa, Pak?"
"Nggak apa-apa. Palingan juga anak gadis tetangga sebelah yang sewot lihat aku bawa kamu."
"Namanya hati, Ta. Mana bisa dipaksa," ucapnya yang tampak mengutak-atik pintu memasukkan kuncinya.
"Kamu mau masuk atau tunggu di teras, Ta?"
Aku celingukan melihat ke arah dalam dan memandang sekitar. Rumah mungil dengan taman kecil dipenuhi rumput hias yang terawat, ada jembatan kecil di sana.
Kolam ikan berada di bawahnya, mini sekali. Lampu taman berwarna hitam berdiri di sudut.
"Ta?"
"He uh?"
"Mau masuk atau di luar?"
Aku melangkah masuk, duduk di sofa ruang tamu. Pak Arbi terlihat mengeluarkan barang-barangku dari mobil, meletakkannya di sisi kananku.
"Sebentar, ya. Aku keluarin motor dulu."
"Kenapa harus ganti, sih, Pak?"
"Pengen aja, Ta. Biar bisa lebih dekat sama kamu, juga kamu peluk."
Aku memutar bola mata malas, bosan setiap kali ia menggodaku. Pak Arbi menyapu lembut bahuku.
__ADS_1
"Tunggu bentar, ya, Ta. Aku masuk kamar dulu."
"Oke."
Denting jarum jam bergerak, detik berganti menit. Sudah sepuluh menit lamanya Pak Arbi berada di kamarnya. Suasana rumah yang dingin, membuatku merasa kantuk.
Mataku sudah sayup-sayup akan tertidur, benar-benar nyaman berada di sofa ruang tamu Pak Arbi.
"Hei, Ananta. Kamu ngantuk, ya?" tanya Pak Arbi yang membuatku duduk terkesiap, dari yang sebelumnya sudah setengah rebahan.
Pak Arbi menyapu lembut pipiku, ia tertawa renyah. Aku masih setengah sadar melihatnya yang sudah berdiri di sampingku.
Aku mengucek-ucek mata, Pak Arbi meminta tanganku dan menuntunku ke kamar mandi.
"Cuci muka dulu, ya. Kita akan melakukan perjalanan jauh."
Aku membasuh wajah, segar memang. Mataku langsung terjaga. Pak Arbi sudah stand by dengan handuk kecil di depan kamar mandi.
Ia mengelap wajah mungilku yang besarnya pas dengan telapak tangan miliknya.
"Udah seger?"
"Hem." Pak Arbi menarik kembali handuk kecil tadi lalu berkacak pinggang dan tersenyum menampakkan baris putih giginya.
"Anda kenapa pakai pakaian begini?" tanyaku bingung yang melihatnya menggunakan celana jeans warna denim juga jaket kulit. Kaos kaki berwarna navy sudah ia kenakan.
Ia hanya menaikkan kedua alisnya, lalu memegang tanganku untuk berjalan di belakangnya.
Aku berdiri di sampingnya, memperhatikan Pak Arbi yang tengah menggunakan sepatu Jim Joker di atas mata kaki berwarna cokelat gelap. Gaya Pak Arbi cocok untuk melakukan touring dan perjalanan jauh. Sesuai dengan perkataannya tadi.
"Kita mau ke mana, Pak?"
"Ikut aja, ya. Nih," ucapnya yang kemudian menyodorkan helm full face. Aku mengerutkan dahi meminta jawaban darinya.
"Ikut aja, ya," ucapnya yang mengusap pucuk kepalaku.
"Tapi, Pak. Saya ini janda!" kataku lagi mempertegas. Aku takut orang salah mengira dengan statusku yang memang dianggap jelek oleh masyarakat.
"Hehe. Yang penting kamu bukan janda pirang, Ta. Ikut aja, ya. Aku nggak akan aneh-aneh, kok. Percaya, deh. Oke?"
Aku meruntuhkan badan, hanya bisa pasrah. Entah mengapa, akhirnya aku mengikuti perkataan pria berkumis di sekitar bibir juga dagu ini.
Aku naik ke atas motornya, map yang kubawa sejak tadi kuselipkan ditengah-tengah kami.
"Kita mau ke mana, sih, Pak?" telisikku yang masih penasaran setelah duduk di kursi penumpang.
"Ke pesantren."
"Apa?"
__ADS_1