Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Ditusuk Tama


__ADS_3

Pak Arbi langsung beranjak, berlari tunggang langgang. Diikuti polis yang ikut mengejar. Aku hanya diam duduk di tempatku semula. Aku tengah hamil, jadi lebih baik menjaga kondisi janinku.


Aku resah, sebentar duduk dan berdiri beberapa kali. Aku takut dan pikiran juga menjadi aneh-aneh. Perempuan memang begitu, bukan? Ia selalu berkelut dengan pikiran-pikirannya yang rumit.


Sesekali aku melirik jam dinding di kantor polisi ini, menggigit bibir bagian dalam. Terus saja mondar-mandir. Beberapa orang staf kantor menyuruhku untuk duduk.


Ada juga yang memberikan minuman padaku. Memang kuteguk itu hingga tandas. Aku bangkit lagi, menggigit ujung kuku.


Suara ricuh terdengar dari luar, aku dengan cepat melihat ke sana. Tama sudah dibekuk, bahkan tangannya diborgol. Aku celingukan mencari Pak Arbi.


"Maaf, Pak. Suami, saya mana, ya?"


"Dia sudah mati, Ananta! Sekarang, waktunya untuk kita menikah."


"Dasar gila!"


"Pak, mana suami saya?" tanyaku lagi.


"Suami Ibu kami bawa ke rumah sakit."


"Rumah sakit?" Wajahku penuh tanya menatap polisi yang meringkus Tama juga pada pria berengsek yang pernah masuk di hidupku ini.


"Suami Anda pingsan tadi. Juga...." Polisi di hadapanku ini tampak mengulum bibirnya.


"Juga apa, Pak?"


"Aku bunuh dia, Ananta," sambung Tama dengan wajah yang menyeringai.


Plak! Plak!


Tidak cukup sekali aku mendaratkan tamparan di pipi Tama. Dua kali dan itu kanan kiri, hingga wajah berbalik bergantian. Bagai tersambar petir rasanya mendengar ucapan Tama.


Dengan dada yang bergemuruh, juga tangis yang sudah tumpah, aku melangkah keluar kantor polisi. Memanggil taksi yang lewat, di depanku.


Wajahku terus dibanjiri air mata, sesekali menyapu pandangan ke arah luar. Sebenarnya aku masih tidak tahu rumah sakit mana, hanya saja feeling istri itu kuat. Aku menuju rumah sakit terdekat.


Begitu tiba di tujuan, aku berlari cepat. Hanya Pak Arbi yang aku butuhkan, terserah janin di dalam bagaimana. Sesekali aku mengusap perut yang masih rata.


"Nak, kamu kuat, ya. Kita harus cepat temuin Papa."


Aku membuka tirai di IGD satu persatu, mencari keberadaan suamiku. Salah satu perawat menyapaku.

__ADS_1


"Maaf, Anda mencari siapa?"


"Apa ada pasien bernama Arbi di sini?"


"Oh, itu di sebelah sana. Dekat sudut pintu ruangan staf."


Aku mengangguk dan langsung menuju ke arah jam sebelas. Kubuka tirai itu, kulihat ia terbaring tak berdaya di sana. Sebelah tangannya sudah terpasang infus. Perban di bagian perut sebelah kanan terlihat.


Aku menunduk dalam, mengambil tangannya. Kupeluk tangan itu, lalu kubawa di pipi. Mencium punggung tangannya lama sekali.


"Maafin aku, Mas. Ini semua gara-gara aku," ucapku dengan suara bergetar.


Aku sedikit membungkukkan tubuhku, meletakkan kepalaku di bagian dadanya untuk memastikan detak jantungnya.


"Alhamdulillah, detak jantung kamu normal, Mas."


Sreek


Tirai dibuka oleh dua orang perawat, aku melongo menatap mereka yang perlahan membawa Pak Arbi.


"Loh, mau dibawa ke mana ini?"


"Maaf, Bu. Pasien kita pindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani pengobatan yang lebih intensif.


"Maaf, Bu. Tadi tidak ada keluarga pasien yang menemani. Polisi yang membawanya kemari."


"Benar, tapi saya kan sudah ada di sini. Harusnya kalian hormati saya. Main seenaknya aja bawa-bawa pasien. Emang saya tahu, kalau kalian bakal bawa suami saya ke ruangan mayat atau nggak? Tau saya? Nggak!" tandasku yang tidak Terima dengan sikap mereka. Pergelangan tanganku terasa ada yang memegang.


Aku sontak menoleh, Pak Arbi ternyata sudah sadar. Aku membungkuk mendekati Pak Arbi, ia masih terlihat sangat lemah.


"Ta, udah, ya."


"Tapi, Mas.... "


"Udah, ya. Biarin mereka lakuin tugasnya." Aku menarik napas dalam dan lemah. Kalau sudah begini, hanya bisa pasrah dengan keadaan.


***


Pak Arbi sudah berada di ruang rawat inap biasa. Entah akan berapa hari Pak Arbi di sini. Pria tampan pengisi jiwaku ini tampak tertidur pulas setelah perawat memeriksanya barusan.


Kupandangi wajahnya lekat, tangan beruratnya tergelatak di samping tubuhnya. Aku duduk di kursi plastik, menggenggam jemarinya.

__ADS_1


Kusandarkan kepala di atas perutnya, aku tidak ingin kehilangan orang yang mencintaiku dengan tulus. Kalau Satria dulu tidak melihat perjuanganku untuknya, Pak Arbi justru berbanding terbalik dengannya.


Pak Arbi selalu mendengar ceritaku tentang apa pun, memberi solusi dalam setiap masalah yang hadir menerpa hubungan kami. Dia menjaga juga melindungiku dengan segenap jiwanya.


Tapi sekarang, ia terbaring lemah di atas brankar. Aku menelan saliva berat melihat keadaannya sekarang. Jujur, rasanya sakit.


Aku menenggelamkan wajah di tepi kasur, rasa kantuk mulai menderaku. Butiran cairan bening lolos begitu saja. Kata Allah, ketika kita menangis maka ia hadirkan rasa kantuk untuk pengobat luka.


Mungkin ini yang terjadi, belum lagi aku yang tengah mengandung. Hormon ibu hamil masih tidak stabil. Pagi-pagi jelas malas dan mengantuk. Namun, sekarang sepertinya memang sudah waktunya tidur siang.


Aku melanglang buana di alam mimpi. Tidak jelas mimpi yang seperti apa, yang pasti aku tidur dengan nyenyak saat ini. Aku terusik saat pipiku terasa ada yang menyentuh.


Aku membuka mata perlahan, Pak Arbi terlihat setengah duduk di atas ranjang rumah sakit. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Mas," ucapku yang masih mengucek mata lalu berdiri mendekat ke arahnya. Menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuh Pak Arbi.


Pria ini justru tersenyum, aku menyatukan alis melihat ekspresinya.


"Kenapa, Mas? Ada yang lucu?" tanyaku yang kini tanganku sudah berada dalam genggamannya.


"Wajah kamu imut kalau lagi tidur begitu," ucapnya santai dan masih tersenyum.


"Apaan, sih! Ini bukan waktunya ngomongin aku. Kamu nggak tahu gimana khawatirnya aku, Mas!"


Pak Arbi justru meraih tubuhku untuk ia peluk. Ia mengusap punggungku lembut, sedangkan aku terus menangis sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku takut, Mas."


"Aku nggak apa-apa, Sayang."


"Kamu terluka gara-gara aku!" Pak Arbi melepaskan pelukannya, lalu membingkai wajahku. Mengecup keningku lama sekali.


"Kamu nggak perlu takut, Ta. Aku udah siapkan semuanya untuk kamu dan anak kita," ucapnya yang kini mengelus perutku. Pandangannya juga turun ke sana.


"Persiapan apa? Dan aku juga harus siap berarti."


"Seandainya aku tidak ada di dunia ini, maka rumah juga asuransiku bisa kamu gunakan untuk biaya anak kita." Lalu Pak Arbi menatapku lekat, manik hitam kami bertemu untuk waktu yang lama. "Untuk kamu, aku minta maaf. Hanya itu yang bisa aku bilang sama kamu."


"Kamu egois, Mas!" Aku membuang wajah darinya, mengusap sisa butiran asin itu di pipi.


"Aduh, aduh." Terdengar suaranya merintih, aku sontak berbalik dan refleks menekan tombol untuk memanggil suster.

__ADS_1


"Mas kamu kenapa? Apanya yang sakit, Mas? Mas, jawab aku!" teriakku tidak sabar sambil menggoyangkan tubuhnya.


__ADS_2