Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Adat


__ADS_3

Ia menindih tubuhku dengan sempurna. Aku berusaha untuk bangkit, tapi Pak Arbi seolah tidak mengizinkan aku untuk bergerak. Bernapas saja sulit bagiku.


Pak Arbi mengunci bibirku dan ********** hingga membengkak, rongga mulut tidak lepas darinya. Saling tarik-menarik.


Perlahan turun ke bagian leher. Area itu sensitif bagiku. Aku bergeliat resah, tak jarang ******* napas keluar dari mulut.


"Argh!" pekikku yang terasa sakit di batang leher. Ia menggigitnya, mungkin libidonya sudah tinggi.


Tangannya perlahan membuka kancing kebaya yang melekat, satu persatu terbuka. Setelahnya, ia melepaskan pakaiannya.


Hanya ******* napas berat yang terdengar di atas pembaringan.


"Ini yang mana, Ta?"


"Hah? Maksudnya?" Pak Arbi tertawa yang membuatku semakin bingung dengan tingkahnya.


"Aku bercanda, Ta. Aku mulai, ya!" Aku hanya bisa pasrah sekarang, ia telah sah menjadi suamiku. Terasa ada benda yang masuk ke dalam tubuhku.


Peluh sudah membanjiri tubuh kami berdua akibat perburuan buas beberapa menit yang lalu.


Tak kusangka, ia yang belum pernah melakukannya begitu lihai dan lumayan panas di ranjang. Ah, aku tidak boleh membandingkannya dengan Satria.


Hasrat kami benar-benar tersalurkan. Kini, aku berada di dalam dekapan Pak Arbi tanpa sehelai benang pun. Ia menyisir rambutku dengan jemarinya.


"Maaf, ya, Pak. Kamu menikahi janda seperti aku."


"Hem, kok masih panggil, Pak?" Aku mendongak menatap wajahnya. "Kamu udah tahu semuanya dari luar hingga dalam. Kok masih aja panggil, Pak!"


"Masih canggung."


"Hem, sekarang harus dibiasakan, ya."


Aku hanya nyengir kuda, selimut menutupi tubuh kami berdua hingga batas dada.


"Kertas yang dikasih Aisyah tadi apa isinya?"


Aku melongok ke kiri dan kanan memastikan di mana letaknya kertas yang ada di genggamanku.


Mataku tertuju di lantai keramik bercorak kamar ini. Aku beringsut akan turun, Pak Arbi menghentikan aku. Aku mengernyit heran.


"Mau ke mana?"


"Mau ambil, itu, Pak. Eh," ucapku mengigit bibir bagian dalam, masih aja salah memanggil namanya.


Pinggang rampingku ditarik mendekat padanya, hingga aku berhasil menindih tubuh Pak Arbi. Aku tertunduk malu, tanganku berada di atas dada bidangnya.


"Sekali lagi kamu panggil, Pak. Saya akan mengulangi yang tadi," bisiknya dengan embusan napas berat.


"Itu emang dasar maunya, Pa... eh, kamu," kataku tergagap dan menutup bibir rapat. Tapi pria berkumis tipis ini justru mengulangi pergumulan kami tadi.


Aku maklum dengannya yang baru merasakan manisnya malam pertama. Berbeda denganku yang sudah lelah menikmatinya, tapi hampir lupa bagaimana rasanya. Ah, sial kenapa otak ikutan mesum.

__ADS_1


Selesai dengan pertautan tadi, Pak Arbi menyusupkan jemarinya di sela-sela jariku. Menciumnya lembut, aku merasa amat dimanja dan diperlakukan dengan baik.


"Kamu panggil aku, Mas, ya," ucapnya yang membuatku sontak terbelalak.


"Mas?" tanyaku memastikan.


"Heuh."


"Bukannya kita sebaya, ya?"


Pak Arbi terlihat mengambil dompet miliknya di atas nakas dan memperlihatkan isinya. Satu titik mataku terhenti pada sebuah foto di sana.


Aku langsung menarik paksa, benda warna hitam itu.


"Ini fotoku?" Pak Arbi hanya mengulum senyum. "Kok ada fotoku di dompet kamu?"


"Aku ambil dari foto profil kamu, Ta." Aku menatapnya sinis, ia sepertinya memang paham maksudku. " Maaf, ya," sambungnya lagi yang mengecup bibirku.


"Ck! Pelanggaran IT ini namanya," seruku diiringi senyum. Pak Arbi juga ikut tersenyum padaku. Kami perlahan saling memejamkan mata untuk terlelap. Cukup lelah tubuh ini, akibat menikmati hari pertama jadi pengantin.


Entahlah, otakku seperti memutar kembali memori bersama Satria saat malam pertama dulu, lalu membandingkannya. Jelas, ini yang lebih berkesan.


Azan Subuh berkumandang, aku masih enggan untuk bangkit. Apalagi, pagi di sini terasa amat sangat dingin. Mungkin efek banyak pepohonan, jadi terasa jauh berbeda dengan suasana kota.


Pak Arbi mengusap wajahku lembut dengan jemarinya.


"Salat, yuk, Ta."


"Emh," desisku malas membuka mata. Aku mengerjap pelan, dan mengucek kedua bola mata.


"Bau ences," ejeknya yang sontak membuatku melebarkan mata. Tengsin, ini kali pertamanya aku diperlakukan sedemikian unik, menurutku.


Aku langsung menarik selimut hingga ujung kepala. Pak Arbi mengusap hidungnya di sekitaran wajahku meski tertutupi oleh kain.


"Lagi, yuk, Ta!" Aku langsung membuka kain penutup kasar dan bangkit. Pak Arbi menahan lenganku dan menarik kembali tubuh ini ke pembaringan.


Kembali kami bergumul, meski tubuh telah letih dan raga sudah hampir tak bertenaga Pak Arbi masih saja menginginkannya lagi.


"Pak Arbi...!" teriakku yang kulihat dia sibuk menggerayangi tubuhku.


Suara ketukan pintu terdengar, kami berdua serempak menoleh ke asal knop yang sibuk berputar diiringi panggilan nama kami berdua.


"Kak Ananta, Bang Arbi," panggil Aisyah dari balik pintu.


"Ck! Aisyah ganggu aja, sih!" gerutunya kesal. Aku menepuk pelan bahunya.


"Masih ada nanti malam, Pak."


"Kamu, sih," ucapnya mengerucutkan bibir. Lalu perlahan bangkit menyibakkan selimut. Beruntung, baju Pak Arbi belum terlepas semua.


Pak Arbi melangkah mendekati daun pintu.

__ADS_1


"Mau apa, Syah?"


"Kata, Ibu sama Bapak, Kak Ananta disuruh masak."


Pak Arbi terlihat menggaruk pelipisnya dengan ujung kuku.


"Emh, ntar Abang kasih tau, ya. Salat dulu sana," usir Pak Arbi yang melangkah kembali ke kamar mandi.


"Kamu ke kamar mandi? Ngapain?"


"Wudu lagi."


"Loh, kok?"


"Ya, udah ngences tadi," jelasnya yang membuatku terbahak-bahak. Pak Arbi melemparkan handuk asal ke arahku.


Ia melongok dari pintu, "Kamu mau ikut?"


"Cih, nggak ah."


"Kamu hutang itu, ya. Sore nanti aku tagih!"


Pak Arbi melanjutkan aktivitasnya tadi. Aku bangkit menuju kamar mandi setelah ia selesai.


Ia mencium pipiku lembut sambil lewat menuju lemari.


"Gemesh," katanya lagi yang membuatku menaikkan sudut bibir. "Ayo cepetan keluar."


"Mau ngapain? Masih Subuh, juga!


"Cepet, ya. Aku tunggu di depan."


Aku menarik napas panjang, lalu berjalan menuju kamar mandi. Menyelesaikan acara mandi.


Aku keluar dengan rambut basah, Aisyah sontak melotot lalu berbisik.


"Kak, nggak lupa baca surat aku, kan?"


"Surat?"


Ya Tuhan, aku lupa surat yang diberikan Aisyah kemarin. Tadi di lantai sudah tidak ada. Mungkin Pak Arbi sudah membacanya. Aku juga penasaran apa isinya.


"Emh, isinya apa?" tanyaku memastikan.


"Kumpulan doa, Kak."


"Doa apa?"


"Dia supaya lancar berbuat begituan diiringi dengan tata cara salatnya sekalian, Kak."


"Ih, kamu."

__ADS_1


Aisyah hanya nyengir dan menunduk malu dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Beruntung, tidak semua orang melihat kami yang sedang membicarakan hal intim.


Pak Arbi terlihat memberi kode untuk pergi keluar. Apa maksudnya? Harusnya, ia membantuku masak. Katanya, begitu adat di sini.


__ADS_2