
Operasi berjalan lancar, Rista telah di bawa kembali ke ruang perawatan beberapa jam lalu. Semuanya benar-benar lancar, tinggal menunggu respon tubuh Rista terhadap organ baru di tubuhnya. Begitulah penjelasan dokter. Rista sangat kecewa saat dia membuka mata, Darren masih tidak ada disana. Entah kemana pria itu pergi setelah kemarin menemaninya cuci darah, Darren benar-benar menghilang bahkan sampai saat ini. Rista yang baru saja akan membuka kembali sedikit pintu hatinya, kini harus kembali kecewa saat Darren benar-benar menghilang. Entah kemana pria itu sejak kemarin.
"Istirahat Kak, jangan terus memikirkan Tuan Darren. Mungkin dia sedang ada urusan lain. Dia juga pasti sibuk dengan urusan perusahaannya. Mungkin saja ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal" Xien mencoba meyakinkan Rista dengan segala kemungkinan yang logis. Namun sepertinya perkataan Xien tidak berarti apa-apa untuk Rista. Gadis itu tetap diam dengan tatapan penuh kekecewaan.
Ternyata hanya sampai sini saja perjuangannya.
Rista ingin memberikan Darren kesempatan, karena apa yang di lakukan laki-laki itu beberapa hari ini benar-benar menunjukan ketulusan. Membuat hati Rista sedikit luluh. Namun, hari ini Rista tetap harus kecewa untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama. Darren bahkan tidak menampakan wajahnya saat Rista sebelum operasi hingga saat ini setelah Rista selesai operasi.
Di ruang rawat ini hanya ada Xien yang menjaga Rista. Memang hanya baru satu orang saja yang diizinkan dokter untuk menemui Rista. Ibu dan Rindi membawa pulang Duta dan menjaganya di rumah. Mereka akan datang malam hari untuk menggantikan Xien menjaga Rista.
"Kak, dokter bilang keadaan Kakak cukup baik. Tinggal menunggu respon dari tubuh Kakak saja pada organ yang baru" Sengaja Xien membahas beberapa hal agar Rista tidak terus murung karena Darren yang tidak menepati janjinya.
Kemarin Xien sempat mendengar Darren yang mengatakan jika dia akan datang saat Rista sudah sembuh. Darren akan menyerahkan dirinya untuk di pukuli oleh Rista. Xien sampai ikut meneteskan air mata saat mendengar itu. Darren mengatakannya dengan suara parau. Pria itu sedang menahan tangisannya agar tidak terlihat lemah si hadapan Rista.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Dua hari..
Tiga hari...
Empat hari..
__ADS_1
Darren benar-benar menghilang bak di telan bumi. Kekecewaan Rista tidak bisa lagi dia tutupi. Rista merasa Darren kembali membohonginya. Hanya karena ingin dirinya sembuh dan kembali menjaga Duta. Setelah itu dia benar-benar menghilang entah kemana. Terlihat jelas sekali jika Darren hanya tidak ingin mengurus Duta jika Rista pergi. Darren hanya ingin Rista sembuh agar Duta tidak dia yang menjaganya. Karena dia tidak mau menjaga Duta.
Benar-benar berengsek, dia hanya ingin aku sembuh agar dia tidak harus menjaga Duta. Dia hanya tidak mau merawat Duta jika aku pergi.
Rista benar-benar kecewa dengan pemikirannya sendiri. Jika benar Darren seperti itu, maka Rista telah benar-benar menutup hatinya.
"Kak, dokter sudah mengizinkan Kakak untuk keluar. Jalan-jalan di taman rumah sakit sambil berjemur" Xien masuk ke dalam ruang rawat Rista dengan mendorong kursi roda kosong. "...Ayo kita keluar Kak, nanti siang katanya Kak Reina akan kesini"
Rista mengangguk, semoga saja dengan jalan-jalan ke taman maka dia akan merasakan ketenangan. Xien membawa Rista ke taman rumah sakit. Berjemur di bawah sinar matahari pagi yang masih sangat hangat dan terasa nyaman bagi tubuh.
Rista menatap hamparan rumput taman dengan senyuman tipis di bibirnya. Tidak pernah menyangka jika dirinya akan bisa sembuh dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya selama hampir 4 tahun ini. Bersyukur karena Rista masih bisa merasakan hangatnya matahari pagi saat ini, setelah apa yang dia lewati selama ini. Tidak mudah bagi Rista.
Xien mengambil sarapan yang di berikan perawat untuk Rista. Dengan telaten dia menyuapi Rista. "Habiskan sarapannya ya Kak, biar kita bisa cepat pulang"
Jauh di sudut sana, sepasang mata menatap ke arah Rista dengan senyuman tipis di bibirnya. "Dia sudah bahagia, ayo pergi"
"Baik"
Rista menoleh saat merasa ada yang memperhatikannya di ujung sana. Tapi saat dia menoleh tidak ada siapapun disana. Mungkin itu hanya sebuah halusinasi tidak jelas dalam dirinya.
"Sudah mulai terik panasnya Kak, ayo kembali ke ruang rawat" Xien mendorong kursi roda Rista dan membawanya ke ruang rawat.
__ADS_1
Setelah di pastikan semuanya baik-baik saja, dokter akhirnya mengizinkan Rista untuk pulang setelah satu minggu di rawat pasca operasi. Sampai di rumah, Rista di sambut oleh Ibu, Rindi, Reina, Rion dan anaknya, Duta. Rista tersenyum, dia melihat ke sekelilingnya. Dia sangat merindukan suasana rumah ini. Dua minggu lebih berada di rumah sakit benar-benar membuat Rista sangat bosan.
"Aku kangen banget sama suana rumah..."Rista menoleh ke arah pintu menuju tokonya. "...Sudah lama juga toko gak buka ya Xie"
Xien memegang bahu Rista "Udah Kak, gak usah mikirin toko dulu"
"Iya Ris, masih aja mikirin toko. Yang penting sekarang Lo benar-benar sembuh dulu. Jangan mikirin yang lain dulu" kata Reina
"Mama, apa Mama tahu dimana Papa Duta? Waktu itu Papa pernah bilang kalau dia itu saudara Papanya Rion"
Reina dan Rista saling tatap mendengar ucapan Duta. Reina bingung harus berkata apa saat Duta menanyakan itu. "Mungkin Papa Duta sedang ada urusan, kan Papa Duta juga harus bekerja"
Reina hanya berharap Duta mengerti dan tidak lagi menanyakan tentang Darren padanya. Reina sudah bingung harus mencari jawaban apalagi jika Duta menanyakan hal seperti itu. Reina juga bingung harus bagaimana menjelaskannya. Jangankan pada Duta, pada Rista saja dia tidak bisa menjelaskan apapun apabila sahabatnya itu menanyakan hal yang sama seperti Duta.
"Yaudah ayo ke kamar Ris, kamu masih harus banyak istirahat" Ibu menuntun Rista menuju kamarnya. Membiarkan Rista untuk istirahat. Meski begitu, Rista tetap tidak bisa memejamkan matanya sebentar saja. Rist tetap memikirkan hal yang menjadi fikirannya akhir-akhir ini. Entah kenapa Rista sangat memikirkan Darren. Padahal pria itu jelas-jelas sudah membuat kecewa untuk yang ke sekian kalinya. Tapi entah kenapa Rista masih saja memikirkannya.
Dia menghilang setelah tahu kamu dapat donor dan akan sembuh. Dia hanya tidak mau merawat Duta jika aku benar-benar pergi. Makanya setelah tahu aku akan sembuh, dia benar-benar menghilang. Benar-benar Darren bajingan.
Rista menangis, hatinya kembali sakit karena rasa kecewa yang dia rasakan untuk ke sekian kalinya dan oleh orang yang sama. Bodohnya dia sudah membuka hatinya setelah melihat ketulusan Darren beberapa hari ini. Darren benar-benar menunjukan penyesalan pada Rista. Hingga Rista kembali luluh dan tidak bisa lagi membohongi perasaan cinta yang masih tersimpan rapi di hatinya.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter..kasih hadiahnya dan votenya..berikan bintang rate 5