
Rista dan Darren berjongkok di depan dua gundukan tanah yang sudah kering. Kesedihan mulai muncul di wajah Rista, bagaikan awan mendung sebelum hujan turun membasahi bumi. Darren mengelus punggung wanitanya, Darren tidak terlalu bertanya tentang orang tua Rista. Yang dia tahu hanya tentang Ayahnya yang meninggal, Darren masih mengingat saat dia ke rumah Rista waktu itu dan mendengar dari tetangga Rista jika Ayahnya meninggal dunia. Meski Darren tidak tahu dimana Ayahnya di kebumikan saat itu. Tapi dua gundukan tanah yang berdampingan itu membuat Darren bingung.
"Ini adalah makam Ibu dan Ayah, tepatnya Ibu kandungku"
Deg..
Jadi selama ini kau tinggal bersama Ibu tiri?
Darren merasa dadanya sesak, membayangkan bagaimana hidup yang di jalani wanitanya ini.
"Ibu meninggal saat aku kecil dan Ayah meninggal saat tahu jika aku hamil tanpa suami. Penyakit jantungnya kambuh dan langsung drop saat itu juga. Makam Ibu baru di pindahkan setahun setelah Ayah meninggal. Aku hanya ingin melihat mereka berdampingan saat di surga nanti. Biarkan jika di dunia ini mereka tidak hidup bersama terlalu lama. Tapi, di sana mereka bisa hidup bersama dengan abadi"
Darren hanya mendengarkan cerita Rista sambil merangkul bahunya erat. Darren mulai merasakan bahu Rista yang bergetar. Gadis itu sudah mulai menangis. Awan mendung tadi sudah mulai menjatuhkan percikan-percikan air.
"Ayah Ibu, Hiks.. Restui Rista yang akan menikah dengan laki-laki pilihan Rista. Maaf kalau Rista belum bisa membuat kalian bahagi. Hiks.. Selalu membuat malu keluarga dan tidak bisa membanggakan kalian"
Kehamilannya yang tanpa suami adalah satu hal yang membuat malu. Bahkan Ayahnya sampai meninggal karenanya. Semuanya terlalu cepat, hingga Rista tidak sadar jika sudah selama ini dia melewati kehidupan tersulitnya hingga dia memutuskan untuk kembali pada Darren.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Semuanya benar-benar di persiapkan Darren sesuai rencana. Mami Alena juga sangat antusias dengan pernikahan putra semata wayangnya ini. Dia mengatur semuanya sesuai dengan keinginan Darren. Alena memesan wedding Organaizer yang terbaik. Cattering dan lain-lain benar dia persiapkan dengan baik.
Sampai hari dimana Rista harus berangkat ke Ibu kota untuk melakukan fitting baju pengantin. Rista di jemput oleh supir suruhan Darren, dan dia langsung di bawa ke butik sebelum ke rumah orang tua Darren. Mami Alena sudah menunggunya di depan butik. Dia menyambut Rista dengan senyuman hangatnya.
__ADS_1
"Rista, ayo kamu langsung coba gaun yang sudah Mami pilihkan. Tapi kalau kamu tidak suka, kamu bisa ganti model lain. Disini masih banyak model lain dengan kualitas yang sangat terjamin"
Rista menatap gaun yang masih terpasang di manekin. Itu gaun yang sangat indah, Rista sampai tidak pernah bermimpi pun untuk bisa memakai gaun seperti itu. Tangan Rista mengelus dan menyusuri gaun itu. Sangat indah. Bagaimana Mami Alena sampai mengatakan jika dirinya tidak suka maka tinggal ganti dengan model lain. Nyatanya ekspetasi Rista jauh lebih rendah daripada ini.
"Bagaimana?" Alena yang menuntun Duta, menatap Rista yang terdiam dengan tangan terus menyusuri bagian gaun.
Rista menoleh dan tersenyum pada calob mertuanya itu. "Rista sangat suka Mi, ini indah sekali"
Alena tersenyum bangga karena pilihannya memang selalu yang terbaik. Untuk masalah fashion memang Alena jagonya. Dia wanita yang begitu elegan dan selalu bisa menyesuaikan dejgan fashion yang dia kenakan. "Yaudah kalau beneran suka, sekarang kamu bisa langsung coba gaun itu. Mami ingin lihat apa masih ada yang harus di perbaiki di gaun itu"
Rista mengangguk, dia masuk ke ruang ganti dengan di antar oleh pelayan butik. Dia yang membantu Rista untuk menggunakan gaun, meski dalam hatinya dia merasa iri dengan Rista yang begitu beruntung karena bisa menggunakan gaun rancangan desainer terkenal ini.
Rista menatap pantulan dirinya di cermin, gaun indah dengan lengan panjang. Sepertinya ini pasti keinginan Darren, karena pria itu mulai menunjukan sisi posesifnya. Dia tidak suka Rista hanya memakai celana pendek saja, padahal hanya di rumah. Darren selalu mengatakan jika Rista hanya boleh memakai celana seperti itu hanya di depannya. Memang sangat posesif.
Rista menatap gaun yang melekat di tubuhnya. Sangat pas dan nyaman, jadi dia rasa tidak perlu merubah apapun. Dia sudah menyukainya sejak awal melihat gaun ini. Pelayan tentu senang karena dia tidak perlu menambah pekerjaan jika client nya bisa langsung pas dan suka dengan gaunnya. Tidak perlu lagi merubah apapun.
Rista keluar dari ruang ganti, disana sudah ada Darren. Entah sejak kapan pria itu ada disini karena saat Rista datang ke butik hanya ada Mami Alena saja. "Loh Kak, kapan datang"
"Barusan Ris, tidak mau ketinggalan dia untuk melihat calon istrinya yang cantik sekali dengan gaun pengantinnya" sahut Mami Alena, terkekeh lucu melihat Darren yang bahkan sampai tidak berkedip melihat Rista yang memakai gaun pengantin.
Rista berjalan mendekat ke arah Darren yang duduk di sofa dengan sedikit mengangkat gaunnya. "Kak"
Panggilan Rista membuat Darren mengerjap dan sadar dari keterkejutannya. Darren berdiri dan memeluk calon istrinya, mencium keningnya. "Sayang, kamu cantik sekali"
__ADS_1
Rista tersenyum malu, apa yang di lakukan Darren sangat membuat wajahnya langsung memerah malu. Apalagi disana masih ada pelayan butik dan Mami yang menutup mata Duta agar anak kecil tak berdosa itu tidak melihat apa yang di lakukan oleh Ayahnya pada Bundanya.
"Kak, malu ihh" bisik Rista di telinga Darren yang masih memeluknya. Namun, Darren tetap tidak menghiraukan. Saat ini selain karena dirinya yang merindukan Rista setelah cukup lama tidak bertemu wanitanya karena Darren yang sibuk di Ibu kota dan Rista yang belum bisa ke Ibu kota.
"Sudahlah, aku sedang mengobati rasa rinduku. Kamu si, kenapa lama sekali disana. Kenapa tidak mau langsung ikut kesini waktu itu?"
Rista tersenyum, tangannya mengelus punggung lebar Darren. "Kan aku harus izin sama Ibu dan memberi penjelasan pada Xien juga Seril"
Darren melepaskan pelukannya, dia menatap Rista dengan lekat. Wanita itu terlihat lebih cerah sekarang, tidak seperti Rista yang dulu. Rista yang dia siksa dan pancaran matanya selalu penuh dengan luka.
"Apa Ibu akan datang? Adikmu juga?"
Darren sudah pernah bertemu dengan Ibu Rista beberapa kali dan juga adiknya. Mereka menerima Darren dengan lapang asalkan Rista juga menerimanya dan bahagia. Awal bertemu Ibu memang sempat terkejut saat melihat wajah Darren adalah tamu tak di undang yang dulu pernah datang ke rumahnya. Tidak menyangka juga pria itu adalah pria yang menghancurkan kehidupan anaknya. Namun, melihat Rista yang menerima kembali Darren dan pancaran cinta dari mata keduanya membuat Ibu luluh dan akhirnya merestui hubungan mereka.
Rista mengangguk, Ibu memang sudah merestui mereka. Jadi tidak mungkin jika dia tidak akan di acara perniakahannya. "Dia akan datang Kak, tapi dia bilang tolong di jemput dua hari sebelum acara di mulai"
Darren mengangguk mengerti "Nanti akan aku suruh orang untuk menjemputnya. Sekalian dengan Seril dan Xien juga"
Rista tersenyum senang, pernikahan ini akan segera di laksanakan. Dan Darren begitu pengertian karena juga mengundang kedua pekerja di toko kuenya yang sudah seperti saudara bagi Rista.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1