
Darren menatap air di kolam berenang yang tenang. Rista langsung pergi setelah mengatakan itu. Rasanya Darren masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Rista. Darren tidak yakin jika Rista benar-benar mengatakan itu. Msnjadi pacarnya? Benarkah Rista mengatakan itu? Atau ini hanya ilusi Darren. Tapi semuanya masih terasa nyata. Sangat nyata. Darren mencubit pipinya, meyakinkan jika ini bukan mimpi.
"Ini bukan mimpi, lalu benar jika Rista ingin memulai dari pacaran seperti yang dia katakan"
Mari mulai pacaran..
Satu kalimat yang membuat Darren tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari wanita yang selama ini perjuangkan. Bodohnya Darren malah terbengong saat mendengar ucapan Rista. Dia benar-benar terkejut dengan itu. Sampai Rista pergi barulah dia sadar dari keterkejutannya.
Darren segera berdiri dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia segera menemui Rista. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah di berikan oleh gadis itu. Darren masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Tidak mungkin Darren menemui Rista dengan penampilannya yang seperti ini.
Setelah berganti pakaian, Darren berlari ke luar kamar dengan wajah berseri. Alena yang bertemu dengan anaknya sampai bingung, kenapa Darren terburu-buru seperti itu sampai hampir menabrak dirinya yang sedang membawa kopi untuk suaminya.
"Apaan si Darren"
"Mi, Rista ngajakin aku pacaran"
Alena tersenyum melihat anaknya yang berteriak senang sambil berlari menuju kamar Rista dan anaknya. Alena tersenyum melihatnya. Semoga saja Rista benar-benar masih mencintai anaknya. Alena sangat berharap jika Rista dan Darren bisa bersatu. Selain demi Duta, juga demi hidup Darren yang sangat kacau sejak kepergian Rista.
Darren sampai di depan pintu kamar yang di tempati Rista. Dia mengetuk pintu kamar. "Ris, ini aku Darren"
Rista yang sedang memakaikan baju pada Duta yang baru selesai mandi. "Masuk saja"
Pintu terbuka dan Darren masuk ke dalam kamar. Dia duduk di pinggir tempat tidur, memperhatikan Rista yang sedang memakaikan baju pada anaknya. Rista yang bar-bar dan terkadang suka ceplas ceplos, tapi sekarang gadis itu menjadi sosok seorang Ibu yang begitu perhatian pada anaknya. Selama 5 tahun, Rista benar-benar berubah.
"Sudah" Rista tersenyum setelah selesai mendadani anaknya. Duta sudah tampan dan wangi. Anak itu berlari ke arah Ayahnya dan memeluknya.
"Anak Papa sudah wangi dan tampan" Darren mengangkat tubuh Duta dan mendudukan anak itu di pangkuannya.
"Duta, tadi Oma menunggu di luar. Suruh Duta sarapan" Darren sengaja mengatakan itu agar anaknya keluar, dia ingin punya waktu berdua dengan Rista.
__ADS_1
"Oke" Duta turun dari pangkuan Ayahnya dan berjalan keluar kamar. Duta senang karena dia bisa punya Nenek. Apalagi Alena yang sangat baik padanya.
Setelah Duta keluar kamar, Darren menghampiri Rista yang sedang membereskan peralatan Duta. Gadis itu sedang menunduk, dia malu untuk bertatapan dengan Darren ucapannya saat di kolam berenang tadi. Rista menjatuhkan handuk Duta di tangannya saat sebuah tangan melingkar di perutnya. Darren memeluknya.
"Sayang..."
Deg..
Apa maksudnya manggil Sayang? Rista hanya bisa terbelalak kaget. Rasanya sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Darren. "Lepasin?"
Darren menyandarkan dagunya di bahu Rista. "Kan udah pacaran, jadi kamu sudah jadi Sayangnya aku"
Pipi Rista terasa panas mendengar itu. Tidak menyangka reaksi Darren akan seperti ini setelah dia mengatakan itu. Kemana Darren yang dulu? Dingin dan kejam. Kini Darren seolah berubah menjadi kucing manis yang selalu menurut. Berbeda sekali dengan Darren di masa lalu. Yang selalu tega menyiksa dirinya dan menghancurkan hidupnya seketika. Bahkan memukul dan menendang Rista sudah menjadi kebiasaan untuk Darren saat gadis itu sedikit saja melakukan kesalahan.
"Ris, jangan pernah meninggalakan aku lagi. Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi. Maafkan aku yang dulu, aku yang bodoh sampai tidak menyadari cinta yang telah tumbuh di hatiku"
"Aku hanya sedang berusaha meyakinkan hatiku. Apa benar jika hatiku masih mencintaimu, atau mungkin cinta itu sudah hilang"
Rista hanya diam, dulu hanya dia yang mencintainya. Apa sekarang bisa untuk saling mencintai? Rasanya Rista masih memiliki keraguan yang tinggi untuk bisa percaya seratus persen pada Darren.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
"Ayo kita pulang" kata Rista saat Darren lagi-lagi menempel padanya. Waktu sudah petang, tapi Darren malah masuk ke kamarnya dan tiduran di atas pangkuannya.
"Kamu gak betah ya disini?"
Darren yang terus menatapnya dari bawah, membuat Rista salah tingkah. Dia langsung memalingkan wajahnya dengan sedikit berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
"Bukan begitu, aku hanya malu saja sama Mami kamu. Aku merasa tidak pantas ada disini, aku wanita kot..."
__ADS_1
"Wanita apa? Hmm. Kamu itu wanita terhebat dalam hidupku..." Darren bangun dari tidurannya di pangkuan Rista. Menangkup wajah wanita itu lalu mencium seluruh bagian wajahnya. "...Kamu hebat, bisa membesarkan Duta seorang diri. Aku saja tidak akan sanggup untuk itu. Kamu wanita terhebat dalam hidupku, bisa bertahan sampai saat ini. Maafkan aku yang bodoh ini karena telah mencipatkan luka di hatimu"
Rista mematung, selain dia terkejut akan ciuman Darren di seluruh wajahnya. Ucspan pria itu juga sangat menyentuh hatinya. Darren benar-benar telah berubah dan tulus pada Rista. Meski hatinya masih memiliki ragu, apa Darren benar-benar mencintainya atau hanya karena kasihan dan rasa bersalahnya atas kehadiran Duta.
"Jadi, mau pulang kapan?" tanya Darren, dia sengaja mengalihkan pembicaraan saat Rista hanya terdiam.
"Besok bisa? Aku ingin pulang dulu saja. Kasihan juga Xien ngurus toko sendirian"
Darren mengangguk, dia mengecup bibir Rista sekilas membuat gadis itu langsung terbelalak terkejut. "Iya Sayang, besok kita pulang"
Rista merasa ada debaran aneh dalam hatinya saat Darren memanggilnya seperti itu. Rasanya masih seperti mimpi bagi Rista, saat mendapati Darren yang sekarang. Dia yang lembut dan memanggilnya Sayang. Mimpi yang nyata.
"Iya Darren"
Darren mendengus kesal mendengarnya. "Emang kita seumuran ya, kok manggil nama?"
Rista bingung untuk menjawabnya, lalu dia harus memanggil apa. Memang pada nyatanya Darren lebih tua tiga tahun darinya. Tapi, Rista juga bingung harus memanggilnya apa.
"Panggil apa dong? Lagian umur kita cuma beda dia tahun doang deh. Gak papalah manggil nama juga"
Darren menggeleng tegas. "No, panggil apa saja selain nama. Aku tidak suka kau memanggilku nama, padahal umur kita berebeda"
Rista menghela nafas, memang tidak sepantasnya dia memanggil Darren dengan nama saja di saat umur mereka yang memang berbeda. Tapi, Rista juga bingung harus memanggilnya apa. Mas? Rasanya terlalu familiar, Sayang? Rista tidak akan seberani itu memanggil Darren dengan panggilan Sayang. Terlalu malu rasanya.
"Yaudah Kak Darren saja"
"Nah, itu lebih baik" Darren mengecup kening Rista sekali lagi.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5