RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Merajuk


__ADS_3

Pemandangan pagi hari juga tidak kalah indah. Rista menatap pemandangan di luar jendela kamarnya, sudah banyak orang yang berada di pesisir pantai. Rista ingin keluar, tapi suaminya masih terlelap.


Gak papa kali ya kalau aku keluar sebentar. Abisnya dia tidurnya lama si.


Akhirnya Rista memberanikan diri untuk keluar dari villa. Berjalan di pesisir pantai tanpa alas kaki. Gelombang ombak membasahi kakinya, Rista sangat senang dengan honeymoon hari ini. Dia bisa jalan-jalan juga. Rista duduk di pasir, membiarkan air ombak membasahi kakinya. Rista asyik main pasir layaknya seorang anak kecil. Rista senang melihat pemandangan laut seperti ini.


Dia sudah lama tidak pergi ke pantai, mungkin terakhir kali adalah saat Ibu kandungnya masih ada. Setelah itu Rista tidak pernah lagi menikmati harinya, apalagi bisa jalan-jalan seperti ini. Hidupnya hanya di sibukan dengan sekolah, lalu bekerja setelah lulus sekolah menengah atas. Rista kuliah sambil kerja.


"Hai cantik.."


Seorang pria duduk di samping Rista. Itu adalah pria yang kemarin menjadi huru hara untuk Darren. Rista segera berdiri, dia tidak mau hal ini akan di lihat suaminya dan akan menjadi huru hara kembali.


"Maaf saya harus pergi" Rista berjalan dan segera pergi meninggalkan pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Soni. Namun pria itu malah mengikutinya membuat Rista kesal saja. "Tuan, saya tidak mau sampai di lihat oleh suami saya lagi. Tolong jangan ganggu saya"


Soni tidak peduli, dia tetap berjalan di samping Rista. "Memangnya kenapa? Apa suamimu melarang kamu memiliki teman"


Rista menghembuskan nafas kasar "Tidak, bukan seperti itu..."


"Apa? Tidak papa 'kan kalau aku hanya ingin berteman denganmu? Apa itu salah"


"Tentu saja salah!"


Deg..


Suara bariton itu membuat Rista mematung di tempatnya. Dia berbalik dan melihat suaminya yang sedang melangkah cepat ke arahnya. Duh, gimana ini? Rista sudah melihat wajah merah padam suaminya, sudah pasti jika Darren sangat marah saat ini.


Darren berdiri di samping Rista, merangkul bahunya dengan sedikit mencengkram bagian lengannya. Rista menatap tangan suaminya yang mencengkram lengannya. Dia tahu Darren sedang marah padanya.


"Istriku tidak bisa berteman dengan pria sepertimu. Kau tidak pantas berteman dengan istriku!"


"Waw.. Posesif sekali anda, apa anda sangat ketakutan kehilangan istri anda yang cantik ini ya"

__ADS_1


"Kau!"


"Kak udah Kak, ayo kita pergi saja sekarang" Rista menarik tangan suaminya saat amarah Darren semakin memuncak. Rista menatap tidak suka pada Soni yang seolah sengaja memprovokasi suaminya.


"Sudah ya, jangan hiraukan dia, kan aku gak ngelakuin apa-apa sama dia"


Darren berhenti berjalan membuat Rista juga ikut berhenti. Rista berbalik dan menatap suaminya dengan bingung. "Kenapa?"


Darren melengos, dia tidak mau menatap wajah istrinya. Sungguh Darren sangat marah dan sedang ingin merajuk sekarang. "Kau pergi tanpa memberi tahuku, kau benar-benar tidak menghargai perasaanku ya"


Apasi? Kenapa marah begitu, tapi wajahnya malah terlihat menggemaskan.


Untuk pertama kalinya Rista melihat Darren yang merajuk. Pria itu malah terlihat menggemaskan di mata Rista. Wajah yang dingin tapi sedang merajuk. Bagaimana Rista tidak ingin tertawa melihatnya. Rista berjalan mendekati suaminya, merangkul lengannya dan menyandarkan kepalanya di lengan Darren. "Jangan marah dong, kan aku gak ngapa-ngapain sama dia. Lagian yang aku cintai tetap hanya kamu. Tidak akan berpaling pada hati yang lain"


Darren cemberut, dia menatap Rista dengan kesal. "Cium aku!"


Hah?!


Rista hampir saja tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari suaminya. Rista langsung menatap ke sekelilingnya, ada beberapa orang di sekitar mereka. Rista tidak akan sanggup melakukan apa yang Darren katakan. Dia akan sangat malu.


Darren melengos kesal "Terserah, giliran mengobrol dengan pria lain saja bisa. Kenapa saat suamimu meminta di cium saja banyak sekali drama"


Eh.. Kok marah


Rista langsung mengejar suaminya yang berjalan menjauh. Darren benar-benar marah sepertinya, dia kembali ke villa dan Rista mengejarnya segera. Takut kalau suaminya akan semakin marah padanya. Darren duduk di sofa ruang tengah, Rista mendekatinya namun dia tetap cuek dengan memainkan ponsel di tangannya.


"Sayang"


"Mandi!"


Ucapan Darren yang bernada perintah itu membuat Rista tidak bisa mengelak, dia langsung berlalu ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Berendam sambil memikirkan bagaimana cara meluluhkan suaminya yang sedang marah itu. Apa dia harus memakai gaun tidur transparan itu, hanya untuk meluluhkan suaminya yang sedang marah.

__ADS_1


Aaa. Tidak..tidak.. Rista menggeleng cepat, menghilangkan fikiran kotor di kepalanya. Akhirnya selesai mandi dan berganti pakaian, Rista kekuar dan menemui suaminya. Pria itu masih duduk di sofa, namun tidak lagi memainkan ponselnya. Dia duduk menyandar pada sandaran sofa dengan matanya yang terpejam. Rista duduk di sampingnya, menatap pahatan wajah Darren yang sangat sempurna.


Sampai saat ini Rista masih belum percaya jika dia telah benar-benar memiliki pria yang dulu selalu membencinya.


"Sudah mandi? Ayo makan" tiba-tiba Darren bersuara dengan kedua matanya yang terbuka. Dia melirik Rista yang duduk di sampingnya. Dia berdiri dan berjalan menuju meja makan, dia sudah memesan makanan tadi saat Rista masih mandi.


Rista segera mengikuti pria itu, sebenarnya dia tahu kalau Darren masih sangat marah padanya. Tapi, Rista tidak mau membuat suaminya semakin marah jika dia tidak menuruti dulu apa yang dia inginkan.


"Sayang, jang cemberut terus dong. Aku minta maaf"


Darren tidak menjawab, dia hanya memakan makanannya tanpa menghiraukan ucapan istrinya. Rista cemberut, dia memakan makananya dengan sesekali melirik ke arah suaminya yang masih saja kesal padanya.


Cuma gara-gara nolak cium dia, masalahnya sampai serunyam ini sekarang. Duh.. Darren.. Kenapa jadi begini ya?


Darren yang Rista tahu adalah sosok pria dingin dan tidak pernah peduli pada apapun yang Rista lakukan. Tapi, kali ini Darren benar-benar berbeda. Dia akan marah hanya karena melihat Rista di sapa oleh pria lain. Padahal Rista tidak menanggapi pria itu, sama sekali tidak.


Selesai makan, Darren mengelap bibirnya dengan tisu lalu dia berdiri dari duduknya. Namun Rista segera menahan pria itu. Semuanya harus segera selesai, menurut Rista.


"Sayang, udah dong marahnya. Kan aku udah minta maaf juga, kok masih saja marah" Rista berdiri di depan Darren, mencegah pria itu agar tidak jadi pergi dari ruang makan ini. "... Kenapa si marahnya segitunya"


Cup..


Rista terdiam saat Darren yang tiba-tiba mengecup bibirnya, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. "Awas saja kalau masih berani pergi keluar villa tanpa memberi tahuku dulu, jangan buat aku kesal dan khawatir lagi Sayang"


Darren benar-benar seperti orang kesetanan saat dia bangun tidur dan tidak menemukan keberadaan Rista dimana pun. Fikirannya langsung melayang kemana-mana. Takut jika Ristanya akan meninggalkannya lagi. Tapi saat dia mencarinya ke pantai, pemandangan yang tidak dia suka langsung membuat kekhawatirannya berubah menjadi sangat kesal.


Rista mengangguk dalam pelukan Darren. "Iya, aku minta maaf ya untuk kejadian yang tadi"


"Minta maaf saja tidak cukup..." Darren langsung menggendong tubuh Rista, membuat gadis itu terkejut. "...Ayo kita selesaikan di kamar"


Berjalan menuju kamar dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2