RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Keraguan Yang Belum Hilang


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Darren masih melihatmu keraguan di balik tatapan mata Rista. Meski begitu, dia tetap tidak akan menyerah untuk meyakinkan Rista dengan cintanya. Darren akan terus berusaha meski sampai waktu bertahun-tahun dia habiskan hanya untuk meyakinkan Rista. Darren tidak akan menyerah begitu saja.


Biarkan aku yang memperjuangkan cintanya kali ini. Biarkan aku merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Rista yang memperjuangkan cintanya di masa lalu.


Begitulah tekad Darren, dia tidak akan menyerah begitu saja untuk bisa meyakinkan Rista. Dia akan terus berusaha sampai akhir hayatnya. Biarkan waktu memutar balikan keadaan. Jika dulu, Rista yang memperjuangkannya dan cinta dia. Sekarang justru berbalik, dirinya yang harus memperjuangkan Rista dan cintanya.


Pagi ini Darren kembali datang ke rumah Rista, kedatangannya yang tidak lagi dapat pengusiran dari Rista sudah sangat beruntung baginya. Darren menemani anaknya bermain di depan televisi yang menayangkan acara kartun kesukaannya. Duta yang selalu terlihat bahagia saat bersama Darren. Tawa ceria selalu menghiasi wajahnya.


Rista berdiri di ambang pintu kamar, melihat bagaimana kedekatan Darren dan Duta. Bagaimana Rista melihat ketulusan Darren dalam menjaga Duta. Ya, wajar saja karena Duta adalah anak kandungnya. Sudah seharusnya Darren memperlakukan anaknya dengan baik.


Mungkinkah dia juga benar-benar tulus padaku? Bukan karena kehadiran Duta dan rasa bersalahnya saja?


Keraguan itu masih ada, meski sudah mulai mengikis dengan seirinya waktu berlalu. Tapi, Rista masih memilikinya. Perasaan ragu yang masih memenuhi hatinya. Rista menghela nafas, lalu dia berjalan mendekati anaknya dan Darren. Ikut bergabung dengannya, selalu merasa bahagia jika melihat wajah berseri Duta.


"Bunda, mainannya bagus loh. Dia bisa gerak sendiri terus bisa bicara juga"


Rista tersenyum, dia mengelus kepala anaknya. "Bagus ya, di jaga baik-baik mainannya biar gak gampang rusak"


"Oke Bunda"


Darren menatap Rista dengan kekaguman yang semakin bertambah. Bagaimana cara gadis itu mendidik Duta, dengan caranya yang lembut tapi penuh dengan pengertian hingga anaknya menurut dan mengerti dengan apa yang di ucapkan Ibunya.


"Ris, besok aku kembali ke Ibu kota lagi. Jangan kangen aku ya" Darren sengaja menggoda Rista dengan menaik turunkan alisnya.


Rista memalingkan wajahnya sambil menggeleng heran dengan apa yang di lakukan Darren. Sampai saat ini Rista masih merasa heran dengan perubahan sikap Darren. "Sejak kapan?"


Darren mengerutkan keningnya, bingung sendiri dengan pertanyaan Rista. Apanya yang sejak kapan? Aku tampan memang sudah dari lahir.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Sejak kapan kamu berubah jadi baik begini?"


Darren tersenyum, lagi-lagi itu adalah senyuman menggoda dan penuh dengan percaya diri. "Memang aku sudah baik dari lahir kok. Lihat saja Duta, dia juga baik karena menurun dari sifatku"


Bohong. Duta baik karena menurun dari kamu.


Rista memutar bola mata malas, Darren benar-benar menjadi sosok yang pecicilan sekarang. "Kalau baik, kenapa dulu menyiksa ku?"


Deg...


Darren terdiam mendengarnya, hatinya sakit mendengar itu. Trauma Rista padanya masih sangat besar. Apa yang di lakukannya di masa lalu sudah membuat Rista terluka dan trauma sampai saat ini. Bodohnya kamu Darren. Setega itu menghancurkan hidup seorang gadis yang begitu tulus padamu.


Rista juga terkejut dengan apa yang di ucapkannya barusan. Dia tidak bermaksud untuk mengingatkan Darren pada masa lalunya. Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


"Maaf" lirihnya


"Maaf kalau ada ucapanku yang menyinggung perasaanmu" kata Rista dengan wajahnya yang menunduk


Darren tersenyum, dia mengelus kepala Rista. Apanya yang membuat dia tersinggung? Semua yang di ucapkan Rista adalah kebenaran. Itu memang dirinya yang dulu. Riko Darrendra yang dingin dan kejam. Sampai tega menyiksa seorang perempuan tidak bersalah seperti Rista.


Darren memeluk Rista dan mencium puncak kepalanya. "Maaf ya, aku yang dulu memang sangat jahat. Tapi percayalah jika sekarang aku sudah benar-benar menyesali perbuatanku di masa lalu"


Rista membalas pelukan Darren, dia tahu jika Darren memang sudah berubah. Tapi hatinya masih ragu tentang perasaan Darren padanya. Apa benar tulus karena dia mencintainya, atau hanya karena Duta dan rasa bersalah saja. Hingga Rista masih harus membatasi hatinya karena takut terluka lagi seperti yang telah terjadi di masa lalu. Mencintai tapi hanya di balas luka hati.


"Tidak papa, aku sudah memaafkan kamu di masa lalu. Tapi, untuk saat ini aku masih harus memulihkan luka hatiku. Jadi jika Kakak sudah menyerah, Kakak boleh berhenti sampai disini"

__ADS_1


Darren menggeleng tegas, dia tidak akan berhenti memperjuangkan Rista meski masih harus bertahun-tahun kemudian. "Tidak akan pernah aku menyerah. Aku akan terus menunggumu sampai kamu bisa menerimaku dan menghilangkan keraguan di hatimu"


Bohong jika Rista tidak merasa tersentuh dengan ucapan Darren. Pria itu jelas sudah berubah. Namun, kenapa hatinya masih ragu? Mungkin karena trauma di hatinya yang masih belum bisa hilang.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Rista berdiri di depan jendela kamarnya, menatap lampu-lampu di jalanan yang terlihat berkedip. Hatinya sedang gelisah. Dia terus mencoba meyakinkan hatinya, tapi tetap saja. Keraguan itu masih ada. Apa yang di lakukan Darren di masa lalu tidak bisa terhapus begitu saja di ingatan Rista. Bagaimana luka itu masih sangat lebar untuk bisa merasakan cinta kembali. Apalagi dengan cinta yang hadir dari orang yang sama, orang yang juga telah meciptakan luka itu.


Semuanya masih sama, Rista tidak pernah merasakan cinta yang terbalas. Hingga Darren melakukannya seperti ini, bodohnya Rista masih saja mencintai pria itu.


Darren turun dari atas tempat tidur setelah dia puas melakukannya dengan Rista. Tubuh Rista sudah di penuhi dengan lebam dan merah-merah. Bukan bekas kecupan, tapi bekas pukulan dan tendangan Darren tadi siang. Tapi masih tidak puas begitu saja, sampai malam hari Darren masih menjamah Rista dengan kasar.


"Jangan berharap apapun dariku, kau hamil sekalipun aku tidak akan berubah padamu. Cintaku hanya untuk Reina"


Rista terisak dengan tangan semakin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Silahkan kejar ambisimu itu, suatu saat nanti kau tetap akan kembali padaku!"


Darren tidak memperdulikan ucapan Rista, dia berlalu keluar kamar setelah memakai kembali pakaiannya.


Tes..


Air mata yang sudah berjuta-juta kali berjatuhan di pipi Rista. Semua tentang Darren dan masa lalunya masih terlalu membekas di ingatan Rista. Semua ucapan menyakikan Darren masih terlalu membekas di ingatan dan luka hatinya.


"Sekarang, apa cinta itu masih ada? Apa aku hanya pelampiasannya saja karena kehadiran Duta dan juga Reina yang sudah kembali bersama dengan Elion? Tuhan, kenapa aku masih ragu"


Rista sangat ingin menghilangkan keraguan di hatinya itu. Tapi tetap belum bisa. Semuanya masih terasa sakit dengan luka yang pernah Darren torehkan di hatinya.


Jangan di paksa, biarkan semuanya mengalir seperti air.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2