RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Bundamu Tidak Salah, Papa Yang Salah


__ADS_3

"Papa...."


Duta berlari cepat saat melihat seseorang yang turun dari sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumah mereka. Darren yang melihat itu ikut berlari dan menggendong anaknya. Mencium pipi Duta dengan gemas. Darren sangat merindukan anaknya ini.


"Kenapa Papa lama tidak datang menemuinya Duta?"


"Maafkan Papa Nak, Papa sedang banyak pekerjaan"


Duta mengangguk, apa yang Darren katakan sama dengan yang Bundanya katakan. Anak itu memeluk leher Darren dan menyandarkan kepalanya di dada Darren. "Duta rindu Papa"


Darren tersenyum mendengar itu, percayalah dia juga lebih rindu dengan anaknya ini. "Papa juga merindukan Duta"


Rista masih mematung di ambang pintu saat dia melihat Duta yang di gendong oleh Darren. Tidak menyangka setelah satu bulan lebih, pria itu menghilang dan sekarang tiba-tiba datang lagi di kehidupan Rista.


Darren menatap ke arah Rista, dia berjalan mendekati wanita itu. "Hai Ris, bagaimana keadaanmu?"


Tanggapan Rista yang sama sekali tidak Darren duga. Dia langsung mengambil paksa Duta dari gendongan Darren. "Pergi dari sini dan jangan temui kita lagi"


"Tapi Ris..."


"Bunda, kenapa Bunda mengusir Papa. Bunda, Duta mau sama Papa. Duta rindu Papa. Lepasin Duta, Bunda" Duta yang merengek dengan tangan yang terus berusaha untuk menyentuh Ayahnya. Duta ingin turun dari gendongan Rista dan berlari pada Ayahnya. Namun, Rista menahannya dengan erat.


"Ris, maafkan aku. Tapi tolong jangan sakiti anak kita"


"Anak kita? Memang sejak kapan Duta menjadi anakmu? Selama ini Duta hanya menjadi anakku, dan hanya akan menjadi anakku. Bukan anakmu! Apalagi anak kita!"


"Ris, kamu kenapa si? Jangan egois seperti ini. Kasihan Duta"


"Duta adalah anakku, jadi terserah aku mau melakukan apa padanya"


Tepat pada saat itu Xien berlari ke arah mereka saat mendengar suara ribut. Rista langsung menyerahkan Duta pada Xien dan menyuruhnya untuk membawa anaknya itu ke masuk ke dalam rumah. Xien yang mengerti jika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Maka dia segera membawa masuk Duta yang terus meronta dengan memanggil Ayahnya.

__ADS_1


"Ris, pliss jangan seperti ini. Kamu kenapa si? Kalau kamu marah, kamu benci sama aku. Benci dan marah saja padaku, jangan korbankan Duta. Dia juga butuh aku sebagai Papanya"


"Selama ini hidup kami tetap baik-baik saja tanpa kehadiranmu. Jadi, jangan ganggu kami lagi. Biarkan kami bahagia dan hidup tenang"


"Ris apa tidak ada lagi kesempatan untuk aku?"


Rista menatap Darren, matanya mulai berkaca-kaca. "Kesempatan apalagi? Hampir saja dengan bodohnya aku kembali membuka hatiku untukmu. Tapi apa? Kamu hilang entah kemana, lalu sekarang kembali lagi. Untuk apa? Hanya untuk mempermainkan perasaanku?" Rista terkekeh dengan air mata yang dia usap kasar di pipinya. "Ya, karena selama ini aku selalu menjadi mainan mu yang bisa kau permainkan kapanpun. Tapi saat ini mainanmu ini telah rusak dan tidak bisa lagi di permainkan"


Darren merasa ucapan Rista benar-benar menjadi ungkapan perasaan Rista selama ini. Dadanya terasa sakit mendengar Rista berbicara seperti itu. Ya, dia memang pernah menjadikan Rista hanya sebatas mainan yang bisa dia permainka setiap saat. Tapi saat mainan itu hilang, Darren mulai sadar jika mainan itu sangat berarti baginya.


"Ris, maafkan aku"


"Pergi! Aku hanya ingin kamu pergi dari hadapanku dan jangan lagi menemuiku"


"Tapi, Ris aku tidak bisa untuk tidak lagi menemuimu. Aku juga harus menemui Duta. Mau kamu bilang apapun itu, kenyataannya Duta tetaplah anakku. Anak kandungku"


Rista tidak menjawab, dia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan kasar. Darren mengusap ujung matanya yang berair. Tidak menyangka Rista akan kembali bersikap seperti ini setelah saat dia di rumah sakit, sikapnya sudah mulai baik pada Darren. Tapi, hari ini dia malah kembali membenci Darren.


Darren menoleh saat mendengar suara rengekan anaknya. Dia menatap jendela yang di ketuk dari dalam. Darren segera berjalan kesana. Duta berdiri di atas tempat tidur yang berada tepat di samping jendela kamarnya. Darrena menatap nanar anakanya yang menangis terisak dan terus memanggil namanya.


"Kak Xien tolong buka jendelanya" pinta Duta pada Xien yang berdiri di samping tempat tidur. Xien tidak tega juga pada anak itu, dia membantu Duta untuk membuka jendela kamar.


"Papa"


Darren mengusap air mata anaknya yang mengalir di pipi. "Jangan menangis Sayang, Duta kan laki-laki yang kuat"


"Hiks.. Papa kenapa Bunda jahat sama Papa? Kenapa Bunda ngusir Papa?"


Bukan Bunda yang jahat Duta, tapi Papa yang jahat sama Bunda.


"Duta, Bunda tidak pernah jahat sama Papa. Dia hanya sedang marah karena Papa sudah lama tidak datang, mungkin karena Bunda yang sangat merindukan Papa sehingga dia sangat marah pada Papa"

__ADS_1


Bundamu tidak pernah salah Nak, hanya Papa yang salah dan selalu membuat Bundamu menderita.


"Terus kalau Bunda memang merindukan Papa, kenapa Bunda marah sama Papa. Harusnya dia peluk Papa saat Papa datang kalau memang Bunda sangat merindukan Papa. Duta saja langsung memeluk Papa saat Duta sangat merindukan Papa"


Itu karena hanya harapan Papa saja Nak, Papa yang berharap kalau Bundamu juga merindukan Papa seperti kamu.


"Tidak papa Duta, Bunda hanya sedang merajuk agar Papa mau membujuknya. Jadi, apa Duta bisa bantu Papa untuk membujuk Bunda agar tidak marah lagi sama Papa"


Anak kecil itu tentu langsung mengangguk cepat. "Iya Pa, Duta akan membantu Papa. Pokoknya besok Papa datang, Bunda pasti sudah tidak marah lagi"


Darren tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala Duta. "Baiklah, sekarang Duta yakinkan Bunda ya. Papa mau pulang dulu dan besok akan datang lagi. Papa akan bawakan mainan baru untuk Duta"


"Siap Papa"


Darren berbalik dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Rista. Aku menghilang demi kamu juga Ris.


Xien menutup kembali jendela kamar, dia membantu Duta turun dari tempat tidur. Anak itu berdiri di ambang pintu, menghadang Xien yang mau keluar dari kamar. Xien sangat terharu dengan percakapan Ayah dan anak barusan. Xien tahu jika masalah Darren dan Rista tidak semudah itu.


"Kak Xien bisa bantu Duta 'kan?"


Xien menatap Duta dengan bingung "Bantu apa Duta?"


"Bantu buat bujuk Bunda agar tidak marah lagi sama Papa. Bisa 'kan?"


Xien tersenyum, dia mengelus kepala anak itu dengan gemas dan juga kasihan karena anak sekecil Duta harus ikut kena imbas dari permasalahan orang tuanya yang tidak kunjung selesai. "Iya, Kak Xien akan membantu Duta"


Anak itu langsung berjingkrak senang, dia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Yes, makasih ya Kak Xien. Kita harus membujuk Bunda agar tidak marah lagi sama Papa"


"Iya, kita akan bujuk Bunda ya"


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2