RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Memberikan Cucu Kedua?!


__ADS_3

"Dih, mau pulang sekarang nih? Baru juga sebentar Ris"


"Suami gue ngelarang gue pulang kesorean" bisik Rista pada sahabatnya itu.


Reina tertawa, tapi dia bahagia melihat sahabatnya yang kini telah menemukan kebahagiaannya. "Gak nyangka ya kalau Darren bisa sebucin itu sama lo. Padahal dulu, gue tahu banget gimana dia sama lo"


"Makanya, lo aja gak nyangka. Apalagi gue dong"


Reina menepuk bahu Rista "Semuanya sudah ada yang ngatur Ris. Lo hanya perlu sabar dan sekarang jalani hidup lo yang bahagia ini. Takdir memang tidak akan bisa kita rubah, termasuk takdir lo dan Darren yanh harus melewati ini semua sampai kalian benar-benar bisa menemukan kebahagiaan ini"


"Cieleh tumben bijak banget"


"Hahaha.. Gue juga gak nyangka kalo gue bisa ngomong sebijak ini"


Rista mengangguk-nganggukan kepalanya. "Maklumlah, kan sekarang udah jadi Tante gue lo"


Plak..


Reina memukul lengan Rista dengan kesal. Meski sebenarnya memang benar apa yang di katakan Rista. Reina yang menikah dengan Elion, otomatis akan menjadi Tantenya Rista juga yang kini menikah dengan Darren, keponakan suaminya. Tapi meski begitu, Reina tetap tidak mau di panggil Tante. Ohh.. Ayolah wajahnya belum setua itu sampai dia harus di panggil Tante.


Rista hanya tertawa melihat kekesalan di wajah sahabatnya itu. "Udah ah, gue pamit ya. Takut Kakak kesayangan gue marah kalau sampai gue pulang telat"


"Dih, Kakak.. Ngapain si lo manggil dia Kakak"


"Lah, emangnya kenapa? Dia suka kok gue panggil Kakak. Asal dia gak panggil gue dedek aja, gue aman-aman aja"


Reina hanya tertawa mendengar ucapan Rista. Emang beda sahabatnya satu ini. Dia selalu terobsesi di panggil Sayang seperti pasangan suami istri lainnya. Dan tidak mau panggilan lainnya selain itu.

__ADS_1


Mami Alena hanya menggeleng heran melihat kedua sahabat yang selalu beradu mulut itu. Terlihat sekali jika mereka sangat saling menyayangi. Mami Alena senang melihatnya, istri dari adiknya dan menantunya bisa akur. Ya, gimana tidak akur. Mereka sudah sahabatan sejak lama.


Akhirnya Rista sampai di rumah sebelum suaminya pulang tentunya. Jika tidak sudah di pastikan akan ada perdebatan panjang antara dirinya dan Darren. Selesai mandi, Rista memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasakan lelah hari ini, mungkin karena kemarin baru saja melakukan perjalanan jauh.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Rista menggeliat saat merasakan ada yang mengganggu tidurnya. Dia menjerit tertahan saat bagian dadanya terasa sedikit sakit, saat membuka mata Rista baru tahu apa sumber masalahnya. Suaminya sudah membuka kancing piyama tidur uang Rista kenakan. Bahkan sudah banyak sekali jejak kemerahan di kulit tubuh Rista.


"Sayang, kapan pulang?" Rista sedikit mendorong suaminya yang masih berada di atas tubuhnya itu.


Darren mendongak, dia lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Rista. Beringsut memeluk istrinya dan menciu bahunya. "Sudah dari tadi, kamu lelap banget tidurnya jadi aku bingung gimana cara banguninnya"


Bilang bingung cara bangunin, tapi malah asyik sendiri. Bilang saja jika sedang mencuri kesempatan.


"Sekarang jam berapa?" Rista melirik ke arah jam dinding di kamarnya, terbelalak saat dia tidak menyangka jika sudah tidur selama itu. "..Kamu gak bangunin aku si, malu tahu sama Mami aku malah enak-enak tidur siang selama ini"


Rista menghela nafas, ya memang dia juga kadang suka bingung harus melakukan apa di rumah ini. Mengingat semua tugas dan pekerjaan rumah sudah di lakukan oleh pelayan dengan bagiannya masing-masing. Itu yang membuat Rista tidak enak hati. Dia yang biasanya melakukan segala hal jika dirumahnya, kini tiba-tiba menjadi seorang putri yang hanya duduk diam, makan dan tidur saja. Tentu Rista merasa tidak enak pada mertuanya. Tapi, mendengar ucapan Darren memang benar jika Mami juga hanya berdiam diri saja saat berada di rumah.


"Kak, mulai besok aku mau masak aja deh. Gak enak juga kalau hanya diam saja d rumah" Jika pekerjaan lain sudah ada yang ngehandel, setidaknya kalau masak aku bisa meminta pada koki di rumah ini agar aku saja yang masak.


Darren mengangkat kepalanya dengan tertumpu pada satu tangannya. Menatap istrinya yang terbaring di atas bantal. "Kenapa si harus gak enak segala, akur hanya mau kamu berdiam diri di rumah dan menyambutku pulang"


Rista menatap mata Darren dengan lekat, ya memang dia dinikahi Darren langsung di jadikan seorang putri. Tapi tetap saja jiwa miskin Rista meronta-ronta melihat kemewahan dan segala fasilitas di rumah Darren ini.


"Kalau gitu aku kerja lagi aja di perusahaan kamu"


Darren langsung menggelengkan kepalanya, dia menikahi Rista untuk membuat gadis itu bahagia. Bukan menjadikannya sebagai pekerja atau karyawan di perusahaanya.

__ADS_1


"No, kamu tetap di rumah. Aku gak mau kamu kecapean Sayang, pokoknya kamu fokus urusin aku dan Duta. Kita fokus aja buatin adik untuk Duta"


Kan, ujung-ujungnya kesitu lagi. Rista memutar bola mata malas saat suaminya kembali pada mode mesum. Namun sebelum Rista bangun, Darren sudah mengambil kendali duluan. Dia sudan menindih tubuh Rista, bertumpu pada lutut dan tangannya. Darren menatap lembut istrinya hingga Rista mulai terbuai juga dengan kecupan-kecupan yang di berikan suaminya.


Akhirnya sebelum jam makan malam, mereka harus mandi terlebih dahulu karena keringat yang membajiri tubuh mereka.


"Aku lapar Sayang ihhh" Rista merengek saat dia baru saja keluar dari ruang ganti dengan handuk kecil di tangannya yang di usap-usap ke rambutnya yang masih basah.


"Iya iya, ayo kita makan. Sini aku bantu keringkan rambutnya" Darren mengambil alat pengering rambut di tangan Rista, lalu dia mulai mengeringkan rambut istrinya dengan cium sana cium sini.


Dan Mami Alena hanya tersenyum saat sepaasang pengabtin itu baru muncul sejak tadi sore si suami pulang bekerja. Hanya menggelengkan kepala saat melihat rambut Rista yang masih setengah basah.


Alena mengambilkan makanan untuk menantunya itu. Lalu menaruh piring berisi makanan itu di depan Rista. "Nih, kamu harus makan yang banyak. Kasihan pasti kelelahan sekali ya"


Uhuk..Uhuk..


Rista langsung merasa wajahnya yang panas, bahkan dia sampai tersedak air liurnya sendiri. Jelas Rista mengerti apa maksud ucapan Mami Alena barusan. Dia menunduk malu, mengambil sendok di atas piringnya dengan wajah yang semakin merah saat melihat wajah Papi Rio yang menahan senyum.


"I-iya Mam, terimakasih"


Rista melirik suaminya, namun Darren terlihat biasa saja. Bahkan dia santai saja memakan makanannya, padahal apa yang Mami Alena ucapkan sudah sangat memalukan bagi Rista.


"Mami harusnya senang, aku hanya berusaha memberikan cucu kedua untuk Mami dan Papi"


Uhuk.. Uhuk..


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2