
Soni kembali ke toko kue setelah dia cukup untuk beristirahat. Namun saat dia sampai disana, Soni langsung terkejut saat melihat Seril yang sedang panik dan kebingungan dengan Xien yang terbaring lemah di atas sofa.
"Ada apa ini?"
"Untung kamu datang, Xien tiba-tiba pingsan. Sejak tadi pagi dia sudah terlihat pucat, dan barusan dia tiba-tiba pingsan saat melayani pembeli. Kamu bawa saja dia ke rumah sakit"
Soni mengangguk, dia segera menggendong Xien dan membawanya ke mobilnya. Soni membawa Xien ke rumah sakit terdekat, gadis itu masih belum sadarkan diri. Namun saat mobil terhenti di depan rumah sakit, Xien mulai mengerjap dan membuka kedua matanya. Xien memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Dia menoleh ke ara Soni yang sedang membuka sabuk pengaman di tubuhnya.
"Soni, kita mau kemana?" Xien melihat ke luar jendela, dia baru tahu jika sekarang dirinya berada di depan rumah sakit.
Soni menoleh dan dia menghela nafas lega saat melihat Xien yang sudah sadarkan diri. "Kamu pingsan tadi, sekarang apa yang kamu rasakan? Apa yang sakit?"
Xien sedikit menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan untuk menghilangkan rasa pusingnya. "Aku tidak papa, mungkin hanya kecapean saja. Kepalaku hanya sedikit pusing"
"Kita periksa saja sekarang, aku gak mau kamu sampai kenapa-napa Xien. Kamu harus di periksa"
"Aku tidak papa, kenapa harus sampai ke rumah sakit segala. Aku hanya butuh istirahat sebentar saja"
Soni mengabaikan ucapan Xien, dia turun dari mobilnya dan memutari mobil untuk membukakan pintu. "Cepat buka sabuk pengamannya, aku gak mau kamu sampai kenapa-napa"
Akhirnya Xein tidak bisa menolak, dia menurut saja saat Soni yang menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Soni membawa Xien ke ruang pemeriksaan. Dia menunggu di luar saat Xien di periksa oleh Dokter. Hingga beberapa saat kemudian, Dokter telah selesai memeriksa Xien dan keluar dari ruang pemeriksaan.
"Dok, bagaimana keadaannya?"
"Istri anda hanya kelelahan, apalagi dengan kehamilannya yang baru saja 3 minggu. Sangat rentan untuk keguguran. Jadi tolong di jaga, istri anda hanya perlu banyak istirahat saja. Jangan terlalu kecapean"
Soni tersenyum tipis, benar dugaannya jika Xien pasti akan hamil setelah dia melakukannya waktu itu. "Terima kasih Dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik"
Xien terdiam di atas ranjang pasien, dia melihat punggung Dokter dari kaca di pintu ruangan. Xien juga jelas mendengar ucapan Dokter barusan. Tangannya refleks mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Aku hamil? Benarkah? Lalu aku harus bagaimana?
Rasanya Xien masih belum siap untuk mengandung anaknya Soni. Apalagi di saat hatinya yang masih belum yakin jika pria itu benar-benar tulus padanya. Xien masih ragu tentang cinta yang Soni ucapkan padanya. Dia takut jika pria itu hanya kembali berpura-pura agar Xien kembali padanya. Tapi jika Xien hamil saat ini, maka dia sudah terikat dengan Soni. Apapun yang terjadi, Xien tidak bisa pergi dari sisi pria itu. Karena ada darah dagingnya di dalam perut Xien.
Soni masuk ke dalam ruangan Xien, dia mencium kening Xien dengan rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah. Soni menarik kursi di samping ranjang pasien, lalu duduk diasana. Tangannya meraih tangan Xien dan menggenggamnya. Mengecup punggung tangan gadis itu.
"Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan ini dalam hidupku"
Xien hanya diam, dia menatap Soni dengan lekat. Pria itu berkata dengan jujur, tapi entah kenapa Xien masih saja merasa ragu padanya. Xien membenarkan posisi tidurnya, menjadi tidur terlentang dan menatap langit-langit yang putih bersih itu. Tatapannya menerawang, menembus pada saat dirinya awal jatuh cinta pada Soni dan siap di jodohkan dengan pria itu. Hari-harinya sangat bahagia, sebelum Xien mengetahui perasaan Soni yang sebenarnya padanya.
"Apa kamu akan menikahiku?"
Soni tersenyum mendengar ucapan Xien, tentu saja dia sudah memikirkan hal itu. "Ya, aku akan segera menikahimu"
Xien masih diam di posisinya, menatap langit-langit kamar rumah sakit. "Apa karena kamu benar-benar mencintaiku atau karena hadirnya bayi ini dalam perutku?"
Xien menoleh dan menatap Soni, dia tersenyum tipis karena hatinya mulai yakin jika pria itu memang sudah benar-benar mencintainya dengan tulus. Bukan karena paksaan apapun.
"Baiklah, aku siap menikah denganmu"
Soni menghela nafas lega, dia mengecup tangan Xien dan menatap wanitanya dengan lembut. "Aku tahu kalau kamu masih memiliki rasa ragu pada perasaanku. Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati kamu dan keyakinan dalam diri kamu terhadap cintaku"
Xien hanya tersenyum dan tidak menjawab apa-apa atas ucapan Soni barusan.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
"Bangun ih.. cepetan" Rista menggoyangkan tubuh suaminya agar bangun dari tidurnya. Dia sudah tidur, tapi tiba-tiba saja dia sangat menginginkan makanan yang tidak ada di rumah ini. Jadi, Rista membangunkan Darren dengan paksa agar suaminya itu mau menuruti keinginannya.
Darren menggeliat dengan mata yang masih terpejam, rasanya dia baru tidur beberapa menit saja tapi kenapa istrinya sudah membangunkannya. "Sayang ada apa?"
__ADS_1
"Aku ingin mangga muda"
Hah?!
Darren bangun dan terduduk di atas tempat tidur. Melirik jam dinding yang baru saja menunjukan pukul 11 malam. "Sayang mana ada yang jualan mangga muda di jam segini? Super market juga sepertinya sudah pada tutup. Besok saja ya"
Rista cemberut, dia sudah sangat menginginkan mangga muda. Air liurnya bahkan hampir menetes saat dia membayangkan memakan rujak mangga muda yang di buat oleh suaminya.
"Tapi bayi kamu maunya sekarang. Kamu tega banget gak mau turuti keinginan bayi kamu, padahal ini adalah ngidam pertama aku. Saat Duta 'kan kamu tidak ada di sampingku, jadi aku banyak menahannya"
Deg..
Darren merasa sangat bersalah karena ucapannya sendiri. Benar apa kata Rista, ini adalah ngidam pertamanya. Karena saat kehamilan Duta, Darren benar-benar tidak tahu bagaimana dan apa saja yang Rista inginkan saat mengidam.
Cup..
Darren mengecup bibir istrinya yang cemberut, lalu dia menurunkan kedua kakinya ke lantai. "Baiklah, aku akan carikan mangga muda untuk kamu"
Akhirnya Darren pergi dengan bermodalkan nekat. Dia tidak tahu apa masih ada penjual buah yang buka di jam segini. Darren mengelilingi kota dan mencari-cari penjual buah. Namun tidak ada, semuanya benar-benar sudah tutup. Wajar saja karena ini udah hampir tengah malam.
Hingga entah keberuntungan apa yang membuat Darren bertemu dengan seorang kakek-kakek yang menjual buah di sebuah gerobak. Darren langsung membeli mangga muda dan membayar semua dagangan Kakek itu, tapi dia hanya mengambil 3 buah mangga muda saja. Kakek itu sangat berterima kasih pada Darren. Dia tidak menyangka akan mendapatkan rezeki di malam hari seperti ini.
"Saya do'akan istri dan anak yang di kandungnya sehat"
"Terima kasih do'anya Kek"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1