
Cukup lama bermain di taman, Duta sangat senang. Kini Darren membawa keluarga kecilnya ke sebuah mall, untuk makan siang dan jalan-jalan sejenak. Mereka sudah berada di restaurant yang ada di dalam mall. Pesanan telah datang.
"Makan yang banyak Sayang, biar kamu makin sehat"
Rista menatap suaminya yang selalu menatap khawatir padanya. Darren selalu memperlakukan Rista seolah dirinya masih Rista yang pesakitan. Padahal nyatanya dia sudah benar-benar sembuh sekarang, semuanya juga berkat pengorbanan Darren yang mendonorkan satu ginjal padanya.
"Sayang, aku sudah baik-baik saja. Kamu jangan terus menganggap kalau aku ini wanita yang sakit. Aku sudah sembuh karena ginjal yang kamu berikan padaku. Terimakasih ya, sudah menolongku"
Darren menggenggam tangan istrinya yang ada di atas meja. Menatapnya dengan lembut. "Aku akan melakukan apapun untuk kamu tetap bertahan. Aku dan Duta tidak akan bisa hidup tanpamu. Kami membutuhkan kehadiran kamu"
Rista tersenyum, dia mengelus punggung tangan suaminya. "Terimakasih karena sudah mencintaiku. Terimakasih juga karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku"
"Semuanya demi aku dan Duta, bukan hanya demi dirimu saja. Karena aku dan Duta tidak akan siap kehilanganmu"
Rista tersenyum, dia juga tidak akan siap meninggalkan anaknya yang masih kecil. Meski hidup Duta mungkin akan lebih terjamin saat bersama Darren. Tapi hati Rista tetap tidak rela meninggalkan anaknya.
"Sudah, ayo kita makan sekarang"
Makan siang kali ini terasa sangat enak bagi Darren. Untuk pertama kalinya dia makan siang di luar bersama anak dan istrinya. Perasaan bahagia tidak bisa lagi Darren ucapkan dengan kata-kata. Bersama anak dan istrinya adalah kebahagian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Meski dirinya bergelimang harta, tapi kebahagiaannya tidak sesempurna sekarang.
Selesai dengan makan siang, mereka berjalan-jalan sejenak di sekitar mall. Darren membelikan beberapa mainan baru untuk Duta dan pakaian juga. Setelah itu, dia membawa Rista dan Duta ke sebuah butik terkenal di dalam mall ini.
"Ngapain kesini?"
"Membelikan baju untukmu"
Rista menatap suaminya yang mulai memilih baju untuk istrinya. Mencocokannya di tubuh Rista. "Sayang, aku tidak mau beli baju kok. Lagian baju di lemari juga sudah banyak, malah ada yang belum aku pakai. Kenapa sekarang beli lagi"
"Tidak papa, beli saja satu. Atau kamu mau menambah koleksi gaun tidur" Darren menatap istrinya dengan mata yang berkedip menggoda.
"Apasi ihh" Rista mencubit pinggang suaminya, dia menatap ke arah pelayan butik yang sedikit menahan senyum dengan wajahnya yang memerah saat mendengar ucapan Darren barusan.
__ADS_1
Darren hanya tertawa saja, dia masih memilih baju untuk istrinya. "Yang ini cocok untuk kamu"
Akhirnya pilihan Darren jatuh pada dress warna hijau mint dengan panjang di bawah lutut dan panjang lengan hingga ke siku. Tentunya Darren tidak akan memberikan pakaian terlalu terbuka untuk istrinya. Dia tidak akan rela keindahan tubuh istrinya di lihat orang lain.
"Mbak saya beli yang ini"
"Baik Tuan"
Darren menggandeng tangan Rista dan membawanya ke arah sofa di dalam butik itu. Duta masih anteng dengan mainan baru yang di belikan Ayahnya. Rista mengelus kepala anak itu.
"Kenapa harus beli baju segala si, padahal aku masih punya banyak baju. Aku juga gak pernah pergi kemana-mana, jadi untuk apa membeli baju baru"
Rasanya Rista masih belum rela saat suaminya membelikan dia baju yang baru. Bukan apa-apa, tapi Rista masih memiliki banyak baju di lemarinya. Bahkan masih ada baju yang belum pernah dia pakai sama sekali.
Darren hanya tersenyum, dia tahu jika istrinya itu adalah tipe orang yang irit. Setelah mendapatkan baju yang di belinya, Darren segera mengajak istri dan anaknya pulang. Duta sudah terlihat sangat mengantuk.
"Kamu tunggu saja disini, aku ambil mobil dulu"
Seseorang yang duduk di sampingnya tidak Rista hiraukan, dia tetap fokus pada anaknya. Karena dia berpikir jika itu palingan hanya orang yang juga ikut duduk saja.
"Hai, bertemu lagi kita"
Deg..
Namun suara itu membuat Rista langsung menoleh ke arahnya. Dia hampir saja terjatuh dari tempat duduknya saat menyadari siapa yang duduk di sampingnya.
"Awas jatuh"
Soni memegang lengan Rista agar gadis itu tidak benar-benar terjatuh dari tempat duduknya. Namun Rista segera menepis tangannya dengan kasar. Dia kembali membenarkan posisi duduknya.
"Mau apa kau?"
__ADS_1
Soni tersenyum, dia menatap Rista dengan lekat. "Tidak ada, aku hanya berpikir jika kita ini memang jodoh. Buktinya selalu di pertemukan kembali"
Jodoh dia bilang? Apa dia ini gila, aku adalah istri orang. Kenapa masih saja mengejarku.
"Hei, aku ini sudah menikah. Aku mempunyai suami dan anak. Apa kau tidak malu mengejar istri orang. Wanita di luaran sana masih sangat banyak"
"Aku tidak peduli dengan wanita di luaran sana, yang aku mau hanya kamu. Biarkan saja orang lain atau kamu sekalipun mengatai aku gila. Karena aku memang sudah tergila-gila denganmu"
Rista menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Rista berdiri dengan sedikit kesusahan karena Duta yang tertidur dalam gendongannya.
"Maaf ya Soni, aku tahu apa yang kamu rasakan padaku bukan cinta. Kamu hanya penasaran saja padaku. Entah apapun yang kamu alami di masa lalu, tapi aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku. Aku mencintainya dan aku ingin hidup bersamanya. Hanya bersamanya!"
Rista segera berjalan menjauh darisana, terdiam sejenak saat menyadari jika mobil suaminya sudah berada di bawah tangga. Rista segera menuruni anak tangga dan masuk ke dalam mobil Darren.
Mobil melaju, Darren hanya diam. Rista menjadi was-was sendiri melihat suaminya yang diam saja. Pasti Darren sudah melihat dirinya yang tadi berbicara dengan Soni.
"Kak, aku bisa jelasin soal tadi. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia ada disini juga. Tiba-tiba saja dia datang dan duduk di sampingku"
"Sudahlah, aku sudah malas membahasnya"
Ucapan Darren membuat Rjsta diam, dia tidak mau membuat suaminya semakin kesal jika dia terus membahas soal kejadian tadi.
Entah apapun yang kamu alami di masa lalu, tapi aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku. Aku mencintainya dan aku ingin hidup bersamanya. Hanya bersamanya.
Ucapan istrinya benar-benar terngiang-ngiang di telinga Darren. Dia merasa sangat bersykur karena Istrinya begitu setia dan tidak tergoda oleh pria manapun.
Aku akan selalu menjagamu dan membuatmu bahagia, Sayang.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1