
Darrem melihat istrinya yang masih bergelung di tempat tidur di hari weekend. Padahal biasanya dia yang selalu bersemangat di akhir pekan seperti ini. Tapi kali ini dia merasa bingung karena istrinya yang masih bergelung di atas tempat tidur. Darren mengelus kepala istrinya, lalu menciumnya dengan lembut.
"Sayang, ayo bangun. Katanya mau jalan-jalan"
Rista masih diam, dia hanya menggeliat pelan. Pagi ini rasanya dia sangat malas untuk bangun, malas untuk melakukan apapun. "Kak, aku mau tidur aja seharian ini. Masa kemana-mana"
Darren mengerutkan keningnya, bingung. Karena ini pertama kalinya Rista seperti ini. Biasanya dia selalu antusias dengan akhir pekan. "Sayang, kamu gak sakit 'kan? Wajah kamu pucat juga"
Darren mengecek suhu tubuh Rista, tapi dia tidak merasakan suhu panas. Suhu tubuh Rista normal saja, tapi Darren tetap khawatir karena tidak biasanya Rista seperti ini. "Aku panggilkan dokter ya, untuk periksa kamu"
Rista akhirnya bangun, memang dia merasa sedikit pusing. Tapi dia tidak papa, mungkin hanya karena efek bangun tidur saja. Rista duduk menyandar di tempat tidur. "Apaan si Kak, panggil dokter segala. Aku gak papa, emangnya aku sakit apa? Aku cuma mau tiduran aja"
Darren mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Tapi Sayang, wajah kamu pucat seperti ini. Kamu pasti sakit, pasti ada yang tidak beres dalam diri kamu. Ayo kita periksa saja"
Darren semakin was-was ketika mengingat riwayat penyakit Rista dulu. Takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi lagi. Darren tidak akan siap untuk itu.
"Gak mau ahh, lagian aku gak ngerasain apa-apa. Aku gak ngerasa kalau aku sedang sakit"
"Tapi Sayang..."
"Udah ahh, aku mau tidur saja. Kamu kalau mau keluar, ya keluar saja ajak Duta jalan-jalan"
Darren hanya menatap istrinya yang kembali merebahkan tubuhnya dan tidur. Ini hal aneh bagi Darren, karena Rista tidak biasa untuk bangun terlalu siang. Tapi kali ini dia benar-benar hanya ingin tiduran saja.
Darren turun ke lantai bawah, dia menemui Mami yang sedang bermain dengan Duta. Semenjak pindah ke rumah ini, maka Duta sudah lebih sering bersama Mami Alena di bandingkan dengan Rista. Tapi hal itu justru membuat Darren senang karena waktunya dengan sang istri lebih banyak.
Darren duduk di sofa tunggal disana, Duta langsung menghampirinya dan duduk di atas pangkuannya. "Bunda mana Pa?"
__ADS_1
"Bunda masih di kamar"
"Kenapa Rista? Kok tumben masih di kamar jam segini?" Tentu Mami Alena juga merasa heran dengan itu.
"Iya Mi, aku juga bingung kenapa Rista tidak mau bangun. Dia malah tiduran di tempat tidur. Katanya lagi malas ngapa-ngapain"
Mami Alena mengangguk, dia sepertinya faham apa yang sedang di alami menantunya ini. "Nanti biar Mami bicara saja sama istrimu"
"Yaudah Mi, aku udah mau panggil Dokter tapi Rista gak mau. Aku takutnya dia sakit"
"Iya nanti biar Mami saja yang bicara"
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Toko kue sudah buka seperti biasanya, sudah ada beberapa pelanggan yang datang. Xien yang baru saja selesai melayani seorang pembeli, langsung melengos saat melihat siapa yang datang. Hampir setiap hari dirinya hanya di ganggu oleh orang yang sama. Bagaimana Xien bisa melupakan perasaannya pada Soni, jika pria itu masih saja menemuinya setiap hari. Jika untuk memulai lagi, Xien rasanya masih terlalu takut. Dia takut jika Soni hanya kembali berpura-pura saja padanya.
Xien tersenyum masam mendengarnya. "Dulu saja kamu memacari ku karena paksaan kedua orang tuamu. Jadi apa sekarang aku bisa percaya dengan itu? Jelas aku tidak akan percaya, karena kamu selalu pandai berakting. Bagaimana waktu itu aku langsung percaya padamu jika kamu memang benar-benar mencintaiku. Tapi nyatanya apa? Kamu hanya berpura-pura saja. Kamu hanya mempermainkan aku"
Suara Xien sudah mulai parau, dia tidak bisa terus menahan air mata yang ingin meluncur untuk mengeluarkan segala sesak di dadanya. Cintanya tidak terbalas seperti apa yang dia rasakan. Xien sudah mencintai Soni dengan sangat tulus. Tapi pada akhirnya dia harus di kecewakan dengan pengakuan pria itu sendiri.
"Sayang, tolong maafkan aku"
Xien menatap Soni dengan mata berkaca-kaca. Rasanya panggilan itu hanya membuatnya sakit. "Sayang? Kamu fikir tidak kalau panggilan itu dulu menjadi kebahagiaan tersendiri dalam hidupku. Tapi saat ini aku merasa jika panggilan itu hanya sebuah luka. Kamu hanya menuruti keinginan keduan orang tuamu. Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku"
Soni langsung memeluk Xien meski gadis itu terus berontak dan memukul dadanya dengan isak tangis yang memilukan. "Kamu jahat, kamu tega melakukan itu padaku. Kamu jahat padaku, kamu jahat. Aku benci kamu"
Soni mengangguk, dia mengecup punca kepala Xien yang terus memukul dadanya dengan emosi. "Iya, aku jahat. Sangat jahat. Tapi tolong jangan membenciku"
__ADS_1
Pukulan Xien mulai melemah, dia hanya menangis dalam pelukan Soni. Tapi lambat lau tangannya membalas pelukan pria itu. Hatinya tidak bisa lagi berbohong, dirinya memang sangat mencintai pria itu. Meski dia berusaha sangat keras untuk bisa melupakan perasaan cinta itu.
"Maafkan aku, aku memang salah. Tapi saat ini aku benar-benar telah menyesali semuanya dan aku sadar jika aku telah jatuh cinta padamu"
"Hiks..Hiks.. Apa semuanya benar? Tidak lagi ada kebohongan dalam diri kamu dan hati kamu?"
"Tentu Sayang, aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Aku mencintaimu dan akan menjaga itu sampai kapan pun. Maafkan aku karena selama ini telah menyakitimu"
Nyatanya kepura-puraan yang Soni lakukan pada Xien, malah menjadi kenyamanan baginya. Bagaimana dia memperlakukan Xien layaknya seorang pacar, dan hal itu yang dia anggap sebagai pura-pura. Ternyata malah membuatnya nyaman dengan apa yang dia lakukan pada Xien.
"Xie..." Soni melerai pelukannya, dia menatap Xien dengan lembut. "...Apa bisa kita mulai semuanya dari awal? Saling mencintai dan menjalani hidup dengan bahagia ke depannya"
Xien menatap lekat bola mata coklat milik Soni, mencari sebuah kejujuran disana. Xien melihat bagaimana Soni yang menatapnya dengan lembut. Seperti Soni yang dulu, tapi apa kali ini adalah nyata. Bukan hanya sebatas pura-pura saja?
"Aku takut..." Xien kembali menundukan wajahnya. "...Aku takut akan terluka lagi jika aku kembali padamu. Kamu adalah cinta pertamaku dan aku berharap akan menjadi cinta terakhir. Tapi, nyatanya aku tetap terluka karena mencintaimu. Karena aku tidak pernah ada di hatimu"
Soni menggeleng pelan, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja. Ucapan Xien berhasil membuatnya hancur. "Sayang, aku minta maaf untuk itu. Aku benar-benar menyesal. Saat ini aku benar-benar telah yakin dengan perasaanku jika aku memang mencintaimu"
"Benarkah itu? Apa aku bisa percaya ucapanmu itu?"
Soni mencium keningnya "Kamu bisa pegang ucapanku. Aku tidak akan melukai hatimu lagi"
Xien mengangguk, pada akhirnya dia bisa mencoba untuk menerima kembali Soni. Xien hanya mencoba untuk memberinya kesempatan meski sebenarnya dia takut jika Soni akan melakukan hal yang sama. Tapi melihat tatapan mata pria itu, Xien mulai yakin jika Soni telah berubah.
Semoga aku telah mengambil keputusan yang benar.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5