
"Apa? Jadi kau beneran akan segera menikah dengan Soni?"
Xien sedikit menjauhkan ponselnya saat suara keras Rista begitu memekakakkan telinganya. "Iya Kak, aku sudah mengambil keputusan, karena aku sudah.."
"Sudah apa? Kau tidak di paksa oleh Soni 'kan?" Tentu Rista tidak akan rela jika sahabatnya ini di paksa oleh kekasihnya seperti yang terjadi waktu itu. Takut jika Soni hanya mepermainkan Xien saja.
"Tidak Kak, aku memang sudah benar-benar menerima Soni sebagai calon suamiku. Karena aku sudah hamil" Lirih Xien di akhir kalimatnya. Dia sangat malu saat mengatakan itu pada Rista.
Rista menghela nafas mendengarnya, dia hanya berharap jika Soni benar-benar menjadikan Xien yang terakhir dalam hidupnya. Semoga Soni tidak melukai gadis itu lagi. Apalagi saat ini Xien sedang mengandung anaknya. "Tidak papa Xie, aku juga dulu sama sepertimu. Bahkan lebih parah karena aku menikah di saat Duta sudah berusia 4 tahun. Apa yang bisa aku banggakan dari diriku yang kotor ini"
"Kak jangan bicara seperti itu"
Darren yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur langsung memeluk istrinya yang sedang duduk bersila di depannya sambil menelepon Xien. "Jangan bicara seperti itu, kamu bukan wanita yang kotor. Tapi aku yang salah karena telah mengotori kesucianmu. Maafkn aku sayang"
Rista menoleh dan mencium pipi suaminya yang menyandarkan dagunya di bahu Rista. "Semuanya sudah berlalu, mari kita jalani saja hidup kita yang sekarang"
Darren mengangguk mendengarnya, dia mencium pipi Rista dengan gemas. Lalu kecupannya beralih pada leher dan bahunya. Rista mulai merasakan sinyal bahaya, jadi dia harus segera memutuskan sambungan telepon bersama sahabatnya ini.
"Xie, udah dulu ya. Aku mau ke kamar mandi dulu ini"
"Emm. Iya Kak"
Rista segera memutuskan sambungan teleponnya. Dia menyimpan ponselnya di atas nakas. "Lepasin ihh Kak, mau apasi?"
"Tidak mau apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja. Memangnya tidak boleh?"
Iya tapi pelukanmu ini akan berakhir lebih dari sekedar pelukan saja.
Dan benar saja, Darren mulai membuka tali gaun tidur yang Rista gunakan. Tangannya mulai berjelajah di dada istrinya. Dan pada akhirnya Rista benar-benar tidak bisa menolak.
__ADS_1
Dia tetap menikmati apa yang suaminya berikan padanya. Rista bahagia karena saat ini, dia melakukannya dengan Darren atas dasar cinta. Bukan hanya sebuah naf*su saja seperti di masa lalu.
Dan pagi ini Rista terbangun dengan tubuh yang lelah. Entah pukul berapa semalam dia terlelap. Apalagi saat Darren terus memintanya sampai dia benar-benar puas dan ambruk di samping Rista. Rista berbalik dan menatap suaminya yang masih terlelap, tangannya memeluk pinggang Rista dengan erat. Membuat dia juga semakin masuk ke dalam pelukan Darren dan merasakan kenyamanan disana. Pelukan suaminya memang selalu menjadi tempat paling nyaman bagi Rista.
Darren tersenyum tipis dengan matanya yang masih terpejam. Dia kira Rista akan langsung bangun, ternyata malah semakin masuk ke dalam pelukannya. Darren semakin menarik pinggang Rista agar tubuh mereka semakin merapat. Cup.. Darren mengecup kening istrinya itu.
"Tidur lagi saja, lagian hari ini aku juga gak ke kantor"
Rista mendongak, menatap wajah suaminya yang masih memejamkan matanya. Rista tahu jika Darren memang sudah bangun. "Sayang, bangun yuk. Udah pagi juga, aku malu sama Mami keseringan bangun siang. Tapi 'kan itu juga gara-gara kamu yang selalu membuat aku tidur terlalu malam"
Darren tersenyum, dia membuka kedua matanya dan menatap istrinya dengan penuh cinta. "Memangnya aku melakukan apa sampai kamu harus tidur larut malam?"
"Gak usah pura-pura polos deh, kan kamu tiap hari garap aku"
Darren tertawa dengan ucapan istrinya yang selalu asal ceplos itu. "Dasar kamu ini, gak ada malu-malunya bicara seperti itu. Biasanya kalau seorang istri di tanya seperti itu, pasti akan malu-malu. Kamu emang beda ya Sayang"
"Iyalah, ngapain malu-malu toh emang benar 'kan apa yang aku katakan. Lagian kita juga udah sering melakukannya. Kenapa masih malu?"
Darren bangun dan langsung menggendong Rista membuat istrinya terkejut dan langsung mengalungkan tangannya di leher Darren. Dan pagi ini mandi bersama yang Darren ucapkan, tertunda hingga satu jam. Entah apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi sampai selama itu.
...πππππππππ...
Hari ini Xien di ajak Soni untuk kembali ke kota untuk menemui orang tuanya dan orang tua Soni. Kedua keluarga itu telah menentukan tempat di sebuah restaurant berbintang. Xien langsung memeluk Ayah dan Ibunya.
Lalu Xien beralih mencium punggung tangan kedua orang tua Soni. Mereka pun langsung makan malam bersama. Suasana yang sangat hangat, keluarganya dan keluarga Xien memang sudah sangat dekat.Β
"Ibu senang mendengar kalian bisa bersama dan menikah" Ibu benar-benar tidak tahu tentang masalah yang terjadi antara Xien dan Soni sebelum ini. Bahkan tentang kehamilan Xien juga tidak dia ketahui.
"Iya Bu, aku juga tidak menyangka jika akan menikah dengannya" kata Xien dengan melirik Soni, jelas dia sedang menyindir prianya itu. Soni hanya tersenyum manis dengan menatap kekasihnya itu.
__ADS_1
"Jadi, kapan kalian mau melaksanakan pernikahan kalian" tanya Papa
"Secepatnya Pa"
"Bulan depan? Atau minggu depan?"
Xien langsung terbelalak mendengar ucapanΒ Papa, tidak bisa secepat itu. Satu minggu terlalu cepat untuk sebuah pernikahan. "Satu bulan saja, masa minggu depan si? Terlalu cepat"
"Tidak papa Sayang, semuanya bisa di atur kok"
Xien langsung melotot pada Soni, minggu depan terlalu cepat. "Gak, gak bisa. Waktu seminggu terlalu cepat"
"Sayang..." Soni mengelus kepala kekasihnya dengan lembut, dengan tatapan yang membuat Xien sedikit terintimidasi dengan tatapan Soni. "...Kamu nurut saja, kamu hanya perlu menyiapkan diri kamu. Semuanya aku yang mengurusnya"
"Tapikan.."
Xien benar-benar tidak bisa membantah lagi saat Soni sudah menatapnya setajam itu. Akhirnya dia menurut saja saat acara pernikahan mereka di laksanakan satu minggu ke depan. Setelah semuanya di tentukan, Soni langsung membawa Xien pulang. Tapi sepanjang perjalanan dia hanya diam karena kesal harus dengan keputusan Soni.
"Kenapa Sayang?"
Xien menoleh dan menatap Soni dengan mata menyipit. "Kamu kenapa semangat sekali untuk pernikahan kita yang minggu depan?"
Soni tersenyum, tangannya mengelus kepala istrinya. "Sayang, kenapa harus di perlama lagi? Aku sudah sangat siap untuk menikah denganmu. Lagian kamu tidak mau 'kan jika kehamilanmu semakin di ketahui orang lain. Kamu saja tidak cerita apa-apa pada orang tuamu tentang kehamilan ini"
"Ya, jelas aku tidak akan bercerita apapun. Karena aku tidak mau Ibu dan Ayah kecewa"
Soni menghela nafas, semua ini adalah kesalahannya. Dia yang tidak bis menahan nafs*sunya malam itu. "Yaudah, jadi kita lakukan saja minggu depan ya"
Xien mengangguk, dia sudah tidak bisa membantah lagi karena semuanya telah di tentukan.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter..kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5