
Hampir satu bulan Rista hanya berdiam diri, dia masih harus memulihkan tubuhnya yang belum bisa banyak bergerak apalagi terlalu lelah. Semuanya menjadi sangat membosankan bagi Rista. Hingga satu bulan lebih, dirinya baru bisa mulai beraktivitas seperti biasanya. Mulai membuat kue dan roti. Dia masih harus melakukan kontrol satu bulan sekali sampai tiga bulan ke depan. Mecegah resiko yang tidak di inginkan terjadi. Begitulah penjelasan dokter saat itu. Dan setelah satu bulan lebih akhirnya Rista bisa mulai beraktivitas seperti biasanya. Dia sudah mulai membuat kue dan roti seperti biasa.
"Senang banget deh Xie, aku udah biaa beraktivitas lagi"
"Iya Kak, tapi Kakak tetap tidak boleh kecapean dulu"
"Bunda..." Duta muncul di balik pintu, dia baru saja bangun tidur dan langsung menemui Ibunya di toko kue. "Kapan Papa akan datang menemui Duta kembali?"
Rista menghela nafas, dia berjalan ke arah anaknya dan berlutut di di depannya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Duta. "Mungkin Papa masih banyak pekerjaan. Duta yang sabar saja, nanti Papa juga pasti akan menemui Duta lagi"
Meski Bunda tidak yakin, Bunda saja tidak tahu dimana Papamu berada saat ini, Duta. Dia menghilang begitu saja.
"Kalo misalkan Papa tidak datang juga, bisa tidak kalau kita saja yang menemui Papa"
Rista tidak menjawabnya, dia bisa saja menemui Darren ke kotanya. Tapi itu pasti semakin menjatuhkan harga dirinya yang sudah terjatuh terlalu jauh. Rista tidak mungkin menemui Darren dan meminta pria itu untuk kembali dan menemui Duta setiap hari. Itu hanya akan membuatnya malu.
"Bunda tidak tahu dimana Papa Duta tinggal" Alasan yang di berikan Rista pada akhirnya. Dia tidak mau memberikan harapan terlalu lebih pada Duta, sementara dirinya tidak yakin bisa mewujudkannya.
Duta cemberut mendengar itu "Kenapa Bunda? Rion saja sekarang bisa tinggal bersama Mama dan Papanya. Kenapa Duta tidak bisa?"
Karena posisinya berbeda Duta. Reina dan Elion berpisah hanya karena terhalang restu. Sementara Bunda dan Papa kamu, berpisah karena Papa kamu yang tidak mencintai Bunda.
"Duta masuk lagi saja ke dalam ya, sebentar lagi mandi. Bunda mau selesaikan dulu beres-beres di toko sebelum buka"
Duta semakin cemberut saat Ibunya malah membahas hal lain dan tidak menjawab pertanyaannya. Duta berlari ke dalam rumah. Rista hanya menghela nafas melihat anaknya yang sedang marah padanya.
Maafkan Bunda Duta, tapi Bunda juga bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Rista kembali pada pekerjaannya, memasukan adonan terakhir kuenya ke dalam oven. Rista juga bingung harus bagaimana menjawabnya lagi jika Duta terus menanyakan tentang Ayahnya yang tidak lagi datang menemuinya. Semuanya tidak bisa dia jawab, karena Rista saja tidak tahu dimana Darren berada.
"Kak, kenapa tidak Kakak saja yang menemui Papanya Duta. Kasihan Duta ingin sekali bertemu dengan Papanya"
Rista hanya bisa menghembuskan nafas berat. "Tidak semudah itu Xie, Darren dan aku terikat masa lalu menyakitkan yang aku rasa tidak mungkin untuk bisa kembali. Karena sebelumnya kami pun tidak pernah saling mencintai. Hanya aku yang mencintainya. Jadi, hubungan kami ini bisa di sebut apa Xie?"
Xien merasa bingung harus menanggapi seperti apa cerita Rista ini. Baru kali ini Rista bercerita tentang kehidupannya di masa lalu pada Xien. "Maaf Kak, bukannya aku lancang. Tapi apa rasa cinta Kakak untuk dia masih ada?"
"Entahlah Xie, aku hanya tidak bisa membencinya. Itu saja. Aku hanya sebatas kecewa dengan apa yang dia lakukan padaku, dulu"
Xien mengelus bahu Rista "Seandainya dia datang lagi dan meminta maaf pada Kakak, apa Kakak akan menerimanya?"
"Aku juga masih memikirkan itu, rasanya masih terlalu membekas di ingatanku semua tentang apa yang dia lakukan di masa lalu"
"Sudah Kak, jangan terlalu di paksa. Biarkan hati Kakak sembuh dan terbuka kembali untuk cinta dengan seiring waktu berjalan. Entah untuk cinta yang baru, ataupun untuk cinta yang lama"
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
"Aku akan menemuinya besok. Sudah terlalu lama aku tidak menemuinya. Anakku juga pasti sudah merindukan akau"
"Yaudah terserah kau saja"
Darren sudah tidak sabar untuk bisa menemui Rista dan Duta. Sudah terlalu lama dirinya tidak bertemu dengan dua orang yang berarti dalam hidupnya. "Om, apa dia baik-baik saja? Aku merasa menyesal tidak bisa menemaninya saat dia oprasi"
Elion menatap tidak percaya pada Darren, tidak habis fikir dengan fikiran keponakannya itu. "Kalau kau menemani Rista saat operasi, maka Rista tidak akan sembuh"
Darren hanya terkekeh mendengar ucapan Pamannya. Mereka berlanjut membahas soal pekerjaan. Sampai sore hari, Darren langsung kembali ke rumah. Selesai mandi dan berganti pakaian, Darren merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Ris, maaf atas semua perlakuan ku yang dulu padamu"
"*Aku lelah"
"Diam kau *******. Untuk apa aku memberi kamu makan kalau melayaniku saja tidak memuaskan"
Air mata yang rasanya sudah hampir kering, terus mengalir di pipinya. Harga dirinya di depan pria yang dia cintai hanya sebatas pemuas naf*su saja. Rista ingin menjerit keras.. Meminta keadilan pada Tuhan, kenapa hidupnya harus seperti ini. Kenapa dia harus jatuh cinta pada orang yang salah. Membuat dirinya hancur karena cinta itu sendiri. Membuat Rista hampir tidak lagi mempercayai yang namanya cinta.
Erangan keras dari bibir Darren, menyudahi permainan menyakitkan di atas tempat tidur ini. Rista segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dia menatap Darren yang jatuh ambruk di sampingnya setelah dia mendapatkan kepuasan atas tubuh Rista.
"Kalau aku hamil apa kau akan tanggung jawab"
Darren tertawa mendengar pertanyaan Rista yang dia seharusnya sudah tahu jawabannya. "Jangan gunakan kehamilanmu atau anakmu untuk mendapatkan simpati ku. Karena sampai kapanpun kau hanya sebatas pemuas naf*su dan gairah ku. Yang aku inginkan hanya Reina yang menjadi Ibu dari anak-anakku. Bukan dari wanita sepertimu"
Hancur sudah harapan Rista, harapan terakhirnya saat dia bisa mengandung anak Darren. Maka dia akan mendapatkan perhatian dari Darren. Syukur-syukur kalau bisa merubah Darren yang awalnya membencinya jadi mencintainya. Tapi, nyatanya Darren tidak menginginkan itu. Jika hal itu terjadi, Darren tetap tidak akan mengakui anaknya yang di kandung oleh Rista. Darren hanya menginginkan anak yang lahir dari Reina, sahabatnya*.
Tak terasa air mata menetes begitu saja di sudut matanya. Darren tidak menyangka jika dirinya bisa bicara sekasar itu pada Rista. Wanita yang mencintainya dengan tulus. Darren memang bodoh. Sangat bodoh.
"Maafkan aku Rista, aku menyayangi kami dan anak kita. Maaf karena pernah mengatakan itu. Maafkan aku Rista"
Bahkan hingga Darren tertidur, bayangan di masa lalu terus menghantuinya. Darren terus mengucap kata maaf dari bibirnya.
"Maafkan aku Rista"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1