RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Honeymoon?


__ADS_3

Dokter sudah pergi, dan Rista baru saja menyelesaikan sarapannya dengan terus di pantau oleh suaminya. Rista merasa kesal juga dengan suaminya yang terus menatapnya. Memangny ada yang salah apa darinya. Perasaan Rista biasa saja deh, dia juga tidak memakai make up berlebihan. Lalu, kenapa Darren menatapnya dengan begitu lekat?


"Kak, kenapa liatinnya gitu banget si? Ada yang salah ya?" Akhirnya Rista bertanya juga, karena tidak nyaman dengan tatapan suaminya itu.


Darren tersenyum, masih menatap istrinya. "Kamu beda banget pake dress kayak gini. Cantik"


Deg...


Ohh ayolah.. Rista bukan anak abg lagi, kenapa harus berdebar hanya mendengar pujian dari suaminya. Rista melengos karena malu. Wajahnya sudah terasa panas. "Apanya yang beda? Biasa saja"


"Beda, kamu 'kan biasanya sering pakai celana panjang atau celana jeans. Sekarang kamu terlihat beda banget, mulai sekarang biasakan berpenampilan seperti ini ya. Aku suka melihatnya"


Rista tersenyum, tapi wajahnya masih berpaling dari Darren. Dia masih merasa malu. "Apaan si, emangnya apa bedanya? Sama-sama pakai baju 'kan?'


"Tapi beda Sayang, kalau pakai dress ini maka kamu semakin terlihat dewasa dan anggun"


Rista tertawa, memang dirinya yang dulu jauh dari kata anggun. Pakaian saja benar-benar senyamannya saja. Kaos polos dan celana jeans adalah pakaian ternyaman Rista. Namun, sekarang dia sekarang sudah mempunyai suami. Jadi harus mulai merubah gaya berpakaiannya.


"Emang si ya, aku dulu kok tomboy banget"


Darren menghela nafas "Makanya, aku juga bingung kenapa aku bisa jatuh cinta padamu"


"Ohh, jadi nyesel gitu?"


Darren menggeleng cepat, dia menggeser duduknya dan memeluk Rista di atas tempat tidur. Mencium keningnya dengan lembut. "Gak akan pernah menyesal. Karena kamu adalah kebahagiaan ku. Kami dan Duta"


Rista tersenyum, dia membalas pelukan Darren. Mengelus dada bidang suaminya. "Terimakasih ya karena sudah membalas perasaanku"

__ADS_1


Darren menggeleng pelan, dia menggesekan dagunya yang berada di puncak kepala Rista. "Semua ini karena kamu adalah wanita yang tulus. Kamu mencintaiku dengan tulus sehingga aku mulai merasakan ketulusanmu"


Begitulah akhirnya, Rista bisa merasakan cinta yang begitu besar dari Darren. Pria yang dia cintai sejak lama, namun pria yang pernah menorehkan luka lebar di hatinya juga. Tapi, siapa tahu takdir Tuhan? Mereka kembali di persatukan dalam ikatan suci pernikahan dan memiliki kebahagiaan yang sama. Cinta Rista telah terbalas, segala ketulusan yang dia berikan telah membuat hati beku Darren luluh seketika.


"Kita pulang ke rumah kapan?"


"Siapa bilang akan pulang ke rumah, kita akan pergi honeymoon"


Rista langsung menjauhkan dirinya dari Darren yang memeluknya. Menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Ya kali saja mereka masih honeymoon sementara ini bukan yang pertama bagi mereka.


"Hahaha... Honeymoon?" Rista menatap Darren dengan tawanya. Darren mengangguk saja sebagai jawaban, dia malah bingung kenapa istrinya malah tertawa dengan ucapannya barusan. "..Ya ampun Kak, jangan aneh-aneh deh. Kita honeymoon buat apalagi? Duta saja sudah 4 tahun. Ya, kali honeymoon untuk punya anak? Kan kita udah ada anak"


Darren tersenyum nakal, hal itu berhasil membuat Rista yang tertawa langsung bungkam seketika. Rista tahu jika suaminya sudah tersenyum seperti itu pasti sudah ada rencana jahat dalam otaknya. "Kan kita sedang berencana membuatkan adik untuk Duta. Jadi, honeymoon ini sama seperti yang lainnya. Agar segera punya anak, tapi kita ini menunggu anak kedua"


Hah?!..


Rista tidak bisa berkata-kata lagi saat mobil yang di tumpanginya melaju menuju bandara. Ternyata memang semuanya sudah Darren atur dan rencanakan sejak awal. Bahkan saat Rista menghubungi Duta dan menceritakan kalau dirinya mau pergi jauh, Rista berharap Duta akan menangis histeris dan melarangnya pergi. Dengan begitu Darren pasti akan membatalkan kepergian mereka. Namun, apa yang di harapkan Rista tidak terjadi. Duta tidak menangis ataupun melarangnya pergi.


"Duta sudah tahu dari Papa, cepat kasih Duta adik ya Bunda. Duta sudah sangat ingin mempunyai adik biar ada teman"


Jawaban Duta benar-benar membuat Rista terdiam dengan segala kekacauan dalam fikirannya. Bukan masalah pergi honeymoon, tapi dia pasti akan di gempur habis-habisan oleh suaminya mengingat tujuan mereka pergi honeymoon adalah untuk mendapatkan anak kedua.


Aaa.. Tidak..


Rista menggeleng saat fikiran kotor terus menghantui fikirannya. Sementara di balik kemudi, Darren hanya tersenyum menatap wajah tegang istrinya. Rasanya dia ingin tertawa melihat wajah menggemaskan istrinya.


"Nanti disana kita harus berusaha keras ya, kamu dengar sendiri 'kan apa kata Duta tadi"

__ADS_1


Sialnya Rista malah mengaktifkan loadsepeaker saat menelepon Duta. Maksudnya agar Darren juga bisa mendengar rengekan Duta yang memintanya jangan pergi. Ehh.. Anaknya malah setuju-setuju saja. Malah mendukung keinginan Ayahnya ini. Tidak tahu saja jika Ibunya sedang terancam.


"Tau ahh.. Kamu emang sudah merencanakan semuanya ya?" Rista menatap Darren dengan matanya yang menyipit. Jari telunjuknya mengacung di depan Darren.


Darren hanya terkekeh, dia melirik sekilas wajah istrinya yang menggemaskan itu lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. "Aku tidak tahu soal Duta yang ternyata memiliki keinginan yang sama dengan aku"


Rista kembali duduk menyandar di kursinya. Malas berdebat dan membahasnya lagi. Suaminya memang tidak pernah terkalahkan. Rista memilih memejamkan matanya sebelum sampai di bandara.


*Satu hari sebelum acara pernikahan terjadi. Darren menemui Duta di malam hari, tanpa sepengetahuan Rista.


"Duta mau punya adik gak? Kalau punya adik, nanti Duta akan punya teman deh"


Duta tentu langsung mengangguk, dirinya ingin mempunyai teman. Apalagi setelah Rion pergi bersama Ayah dan Ibunya, maka Duta menjadi seorang diri dan dia selalu bermain sendiri.


"Mau Pa, kan bisa main bareng kayak waktu Duta sama Rion 'kan?"


Darren mengangguk puas, anaknya memang keturunannya. Duta langsung menyetujui saja tujuannya. Haha. "Nah, kalau gitu nanti setelah Papa dan Bunda menikah. Kita akan honeymoon untuk buat adik Duta. Gak papa 'kan kalau Duta di tinggal sama Papa dan Bunda? Duta sama Oma dan Opa saja. Kan ini untuk memproses adik Duta agar segera jadi"


Dengan polosnya Duta mengangguk dan mengiyakan ucapan Darren. Hal itu tentu membuat Darren senang*.


Darren tertawa pelan mengingat kejadian itu. Bagaimana dia mencoba membodohi anaknya sendiri. Tapi ini 'kan juga demi kebaikannya dan istrinya. Biar bisa berduaan.


Entahlah, Darren benar-benar merasa candu pada Rista. Sampai dirinya tidak bisa untuk menahannya. Darren tidak pecaya dengan dirinya sendiri, ternyata dia bisa jatuh cinta dan dicintai. Tidak seperti saat dirinya yang hanya terobsesi pada Reina sampai melukai hati wanita yang begitu tulus mencintainya.


Darren mengelus kepala Rista yang tertidur di kursi penumpang. "Maafkan aku atas semua yang telah terjadi di masa lalu. Aku memang tidak bisa merubahnya, tapi aku akan mencoba memperbaikinya mulai saat ini"


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2