RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Pertanyaan Darren Yang Belum Terjawab


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Darren selalu mengunjungi rumah Rista dengan membawa makanan kesukaan Duta atau lebih sering membawakan mainan-mainan keluaran terbaru untuk anaknya. Tentu saja Duta sangat senang dengan itu. Meski kadang Rista selalu melarang Darren untuk terlalu memanjakan Duta. Rista takut Duta akan berubah menjadi anak yang manja.


"Tidak papa Ris, ini hanya mainan biasa. Duta 'kan masih anak kecil dan dunianya adalah dunia main. Nanti juga kalau sudah sekolah, dia pasti akan kekurangan waktu mainnya"


Selalu begitu jawaban Darren saat Rista mengingatkannya agar tidak terlalu memanjakan Duta. Sebenarnya Darren ingin melakukan lebih dari ini pada anaknya. Biarkan anaknya merasakan kebahagiaan setelah selama 4 tahun ini dirinya mengalami hidup yang tidak mudah bersama Ibunya. Darren sedang mencoba menebus kesalahannya itu.


"Duta, ayo makan siang dulu Nak"


"Iya Bunda, ayo Pa"


"Iya ayo"


Darren berdiri saat anaknya mengulurkan tangan mungilnya padanya. Mereka berjalan menuju dapur, meski Rista tidak pernah mengajak langsung Darren untuk makan bersama. Tapi dia selalu mengambilkan makanan untuk Darren. Dia hanya menggunakan Duta untuk mengajak makan siang bersama. Karena Rista tahu jika Duta juga pasti akan mengajak Ayahnya untuk makan siang bersama. Jadi tidak perlu Rista repot-repot untuk mengajak Darren makan.


"Xien kemana Ris?" tanya Darren saat tidak mendapati gadis blasteran itu di sana.


"Xien gak enak badan, jadi gak jaga toko. Aku suruh istirahat di kamar"


Rista mulai mengambilkan makanan untuk Duta dan juga Darren. Dia masih memperlakukan Darren dengan baik sebagai tamunya. "Makan yang banyak Duta, di habiskan sayurnya"


Duta mengangguk, anak itu mulai makN dengan tenang begitu pun dengan dua orang dewasa disana. Rista dan Darren juga mulai memakan makanannya. Darren merasa masakan Rista semakin hari semakin enak, beberapa hari dia makan siang di rumah ini. Darren selalu makan dengan lahap. Masakan Rista benar-benar sesuai dengan seleranya.


"Kamu belajar masak dimana Ris? Masakan kamu selalu enak dan cocok di lidah aku"


"Belajar dari Reina, tadinya mau menaklukan hati seseorang dengan masakan ku. Tapi sayang, orang itu tidak memiliki sedikit celah saja untuk aku bisa masuk ke dalam hatinya"

__ADS_1


Darren terdiam, satu sendok makanan yang baru akan di masukan ke dalam mulutnya, dia simpan kembali di atas piring. Darren tahu siapa yang di maksud Rista. Dirinya yang memang tidak pernah menghargai perjuangan Rista selama ini. Mengabaikannya dan menganggapnya hanya sebuah angin lalu. Tapi, Rista tidak pernah menyerah untuk menaklukan hatinya. Sampai gadis itu benar-benar menyerah, Rista benar-benar pergi dan membuat hidup Darren hancur.


"Maaf"


Lirih terucap kata itu dari bibir Darren, membuat Rista menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap ke arah Darren yang juga menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Rista menahan sekuat tenaga air mata yang tiba-tiba saja menggenang di pelupuk matanya. "Hanya masa lalu dan tidak perlu ada yang di maafkan lagi"


Rista berdiri dan segera berlalu dari sana. Bahkan makan siangnya belum sempat dia habiskan. Rista hanya sedang tidak mau membahas masa lalu yang selalu memancing air matanya. Emosi yang masih tidak bisa kendalikan saat dia harus mengungkit lagi masa lalu.


"Bunda kenapa Pa? Tumben tidak menghabiskan makannya? Padahal Bunda suka marah kalau Duta tidak menghambiskan makanan. Katanya sayang kalau harus buang-buang makanan"


"Mungkin ada pembeli yang datang, nanti pasti Bunda akan menghabiskan makanannya. Sekarang Duta habiskan makanan Duta"


"Iya Pa"


Selesai makan siang, Duta kembali bermain dengan mainannya. Semnetara Darren memilih untuk menemui Rista di toko. Menjelang sore toko kue selalu ramai, karena banyaknya mahasiswa dan beberapa orang pulang bekerja. Rista sedikit kerepotan saat harus melayani pelanggannya seorang diri, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Xien terus bekerja di keadaannya yang sedang sakit.


Seseorang yang mengambil alih mesin kopi membuat Rista menoleh ke arahnya. Posisi mereka sangat dekat sampai hembusan nafas keduanya begitu terasa. Rista segera tersadar dan membiarkan Darren mengambil alih semua pesanan kopi yang ada. Rista tahu jika pria itu juga pandai dalam menggunakan mesin kopi.


Hari hampir petang dan penangan mulai berkurang. Rista sudah bisa sedikit beristirahat sejenak sebelum toko benar-benar tutup. Dia duduk di sofa tunggal yang ada disana. Mengusap keringat di keningnya. Hari ini lebih ramai dari hari-hari biasanya. Darren menghampiri Rista dan memberinya segelas air.


"Minum dulu"


Rista mengangguk, dia mengambil gelas di tangan Darren lalu meminum airnya hingga hampir tandas. "Terimakasih sudah membantu"


Darren menarik satu kursi plastik di sana duduk di dekat Rista. Tatapannya beralih ke halaman rumah, masih ada beberapa yang duduk disana dengan di temani kopi dan kue dari toko ini. "Setiap hari selalu rame seperti ini?"

__ADS_1


"Gak juga, tapi memang kalu menjelang sore pasti agak rame. Tapi, hari ini sangat rame sampai hampir kewalahan juga"


"Kamu pasti cape ya setiap hari seperti ini, bikin kue sendiri dari pagi buta sampai malam juga tetap harus jaga toko sendiri. Apa tidak mau cari pekerja?" Darren merasa khawatir dengan kesehatan Rista. Apalagi dia baru saja melakukan operasi donor ginjal. Takutnya jika setiap hari dia selalu kelelahan seperti ini, maka akan berpengaruh pada kesehatannya.


"Kan udah, Xien cukup membantu kok. Dia pekerja yang di pilihkan Elion, dia yang gaji Xien bukan aku loh. Beruntung banget kan aku ini"


Darren tersenyum mendengar itu, sudah lama rasanya tidak mendengar Rista nyerocos seperti ini. Biasanya saat dia memasuki lobby kantor maka selalu ada Rista yang membuatkannya kopi dan terus mengoceh agar Darren tertarik pada ceritanya. Namun, bodohnya saat itu Darren malah menganggap kehadiran Rista adalah pengganggu. Sampai dia tidak sadar jika Rista yang sedang banyak bicara seperti itu sangat menggemaskan.


"Mau aku tambah pekerja lagi? Saat ini aku saja yang bayar"


Rista langsung menoleh ke arahnya, menatap Darren dengan tidak percaya. "Beneran? Tapi gak usah ahh. Aku gak enak kalau harus terus melibatkan orang lain di toko kue ini. Nambah pekerja tapi orang lainn yang harus membayarnya"


"Aku bukan orang lain Ris, kamu lupa kalau aku adalah Papanya Duta. Anak kita"


"Ya, itu urusan kamu sama Duta. Aku tidak akan pernah melarang kamu untuk menemui Duta, karena aku tahu kalau Duta juga membutuhkan sosok seorang Ayah dalam hidupnya. Jadi, aku gak akan larang kalian untuk bertemu"


"Ris, aku selalu datang kesini bukan hanya untuk Duta. Tapi juga untuk kamu. Apa kita tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Duta?"


Rista terdiam, dia bingung harus berkata apa. Mungkin memang semua anak di usia Duta pasti belum mengerti apa-apa tentang keadaan dan kondisi orang tuanya. Tapi, dia juga pasti menginginkan keluarga yang lengkap seperti selayaknya anak di luaran sana. Tapi, Rista masih tidak yakin dan takut untuk memulai. Rista masih ingin meyakinkan diri dan hatinya.


"Maaf, ada pelanggan aku layani dulu ya" Rista berdiri dan menghampiri pelanggan yang tiba-tiba datang dan menyelamatkan dirinya dari perkataan Darren yang sama sekali belum dia punya jawabannya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


Ini ada karya temanku.. yuk mampir



__ADS_2