
Darren kembali ke kota tempat Rista da anaknya tinggal setelah satu minggu lebih dia berada di Ibu Kota untuk menyelesaikan segala pekerjaan. Darren begitu merindukan anak dan istrinya. Jadi Darren memutuskan untuk mengajak Rista dan Duta pergi jalan-jalan. Keberadaan Seril benar-benar membantu, selain Rista yang tidak akan lagi kecapean, dan Darren bisa lebih banyak waktu luang dengannya.
"Kita mau kemana? Padahal aku lagi bantu Seril sama Xien di toko" Rista yang sedang memangku Darren menatap bingung pada pria yang sedang mengemudi itu.
"Kan aku mempekerjakan Seril biar dia bisa bantu Xien. Buat apa aku bayar dia kalau kamu tetap harus ikut sibuk bantuin mereka. Sekarang ini, waktunya kamu sama Duta senang-senang"
Rista hanya menggeleng pelan dengan sikap Darren satu ini. Selalu seenaknya dengan apa yang dia inginkan. "Yaudah terserah kamu aja deh, tapi ini kita mau kemana?"
"Jalan-jalan saj, emangnya kamu gak bosen cuma ngurus toko kue. Sayang, kamu juga perlu jalan-jalan dan refreshing sesekali"
Rista terdiam merasakan elusan tangan Darren di kepalanya. Rista masih selalu salah tingkah jika Darren tiba-tiba melakukan hal seperti ini. Seolah masih ada keraguan yang besar di hatinya, Rista masih selalu memikirkan jika yang di lakukan Darren padanya hanya sebatas rasa bersalah saja. Bukan karena dia yang benar-benar mencintai Rista.
Rista memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Tangan Darren sudah kembali pada kemudinya. "Aku hanya memikirkan tentang hidupku dan Duta saja. Sampai tidak asa waktu lain untuk sekedar memikirkan kesenangan untuk diri sendiri"
Jawaban Rista berhasil membuat Darren terdiam. Dia merasakan denyutan sakit di hatinya. Bahkan hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri, Rista tidak punya waktu untuk itu. Semuanya hanya demi Duta dan kelangsungan hidup mereka. Perasaan bersalah semakin menyelimuti hati Darren. Dia tahu jika ini tidak terjadi pada Rista, mungkin hidup gadis itu masih akan baik-baik saja. Dia mungkin masih mengejar karirnya. Tapi semuanya hancur karena keegoisan dan ambisinya. Rista menjadi korban segala keegoisan dan ambisi Darren. Bagaimana gadis itu harus banyak berkorban demi anaknya, Duta. Sementara Darren tidak mengetahui tentang kehadiran Duta. Selama 5 tahun lebih, Rista telah berjuang demi anaknya. Dan saat ini sudah saatnya Darren membalasa setiap perjuangan Rista untuk anaknya di masa lalu.
Maafkan aku..
Kata maaf yang mungkin hanya bisa terucap di dalam hati saja. Karena sudah tidak kuatnya Darren hanya sekedar mengatakan kata maaf itu secara langsung. Dirinya sudah terlanjur malu pada Rista. Semua yang dia lakukan di masa lalu tidak mencontohkan lelaki sejati. Dia berani menyiksa seorang perempuan hanya demi ambisinya. Obsesinya pada Reina, berhasil menutup mata hati Darren sampai dia tidak melihat ketulusan Rista padanya.
Sampai di sebuah mall cukup besar di kota ini. Duta terlihat senang sekali, masuk ke tempat bermain dan dia hampir memainkan semua permainan. Darren tersenyum melihat anaknya yang bahagia. Selesai di tempat bermain, Darren membawa Duta untuk membeli pakaian dan mainan baru.
"Apa dia tidak pernah datang ke mall?" tanya Darren, penasaran karena Duta yang terlihat sangat senang dan antusias saat datang ke mall.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu, jadi Duta hanya main ke taman hiburan yang berada di sebrang rumah saja. Sebelumnya, dia tidak pernah aku ajak jalan-jalan kemana pun. Palingan hanya cari makanan saja ke depan"
Darren menatap nanar putranya yang bahkan baru merasakan main ke mall saat ini. Pantas saja Duta terlihat sangat antusias. Ternyata ini adalah pertama kalinya dia datang ke tempat seperti ini.
"Mulai sekarang, kamu harus lebih sering ajak anak kita jalan-jalan. Kasihan dia, pasti bosan hanya main di rumah saja. Apalagi sekarang dia hanya sendirian di rumah, tidak ada teman seperti saat masih ada Rion" Darren merangkul Rista dan mencium kepalanya. Hal itu tentu saja membuat Rista terkejut dan juga malu. Ini adalah tempat umum, jelas banyak orang yang akan memperhatikan mereka.
"Apaan si, bikin malu aja deh"
"Loh kenapa malu, kan kamu pacar aku. Ngapain harus malu, pacar yang udah jadi Ibu dari anakku juga"
Dih. Apaan si nih orang. Dasar aneh.
"Duta mau ini Pa" Duta membawa tiga mainan sekaligus ke arah Darren dan Rista.
Darren menepuk bahu Rista "Udah gak papa. Yuk kita bayar"
Rista hanya menghela nafas kasar, Darren memang begitu memanjakan Duta. Tidak seperti Rista yang selalu sedikit keras pada anaknya. Bukan tidak sayang, tapi Rista takut Duta akan kebiasaan dengan semua itu. Membeli mainan sesuka hati, padahal mainan tidak terlalu penting untuk dirinya.
Darren sudah kembali pada Rista dengan Duta yang membawa dua paper bag sekaligus. Rista membantu membawakan paper bag itu. "Lain kali kalau beli mainan satu aja, kenapa harus banyak-banyak kayak gini. Kan di rumah juga sudah banyak mainan, gak semua Duta mainkan juga"
"Gak papa Ris, lagian ini hanya sesekali saja"
Rista menatap Darren kesal, dia tidak suka dengan cara Darren menyayangi Duta. Bukan harus memanjakannya tapi juga harus memberinya pengertian. "Nanti bakalan kebiasaan Darren, aku gak mau Duta jadi anak yang boros dan tidak bersyukur"
__ADS_1
"Darren?" Yang di tangkap Darren hanya panggilan Rista padanya saja. Tidak peduli dengan kata-kata lain yang terucap dari bibir gadis itu. "...Darren? Ohh kita seumuran ya"
Rista berdecak kesal, dia tahu jika Darren mulai nyaman dengan panggilan Kakak yang dia berikan padanya. "Kakak, maksudnya itu"
"Yaudah, sekarang ayo kita pergi beli baju kamu dan Duta"
"Buat apasi? Aku masih punya banyak baju, Duta juga"
Darren merangkul bahu Rista dan membawanya berjalan keluar dari tempat mainan ini. "Udah, ayo kita belanja sekarang. Biar kamu dan Duta punya baju baru"
Rista hanya bisa menurut saat Darren membawanya ke sebuah toko pakaian dengan bandrol yang jelas tidak murah. Rista melihat-lihat, tapi saat melihat bandrol harga pakaian yang dia sukai selalu tidak jadi dan dia batalkan. Darren yang melihat itu jadi kesal sediri, membuat dia memanggil pelayan toko disana.
"Bungkus semua baju yang di lihat istriku, berikan ukuran yang pas. Untuk anakku juga"
Istriku? Aahh.. Kenapa hatiku berdebar senang saat menyebutkan kalimat itu.
"Baik Tuan"
Dan akhirnya Rista harus kembali melongo dengan apa yang di lakukan Darren. Di saat dirinya memutuskan untuk tidak jadi membeli pakaian disana dan sedang membujuk Darren agar mereka pergi saja dari tempat itu. Tapi tiba-tiba pelayan toko datang dan meberikan beberapa paper bag dengan nama toko itu di depannya dan memberikannya pada Rista. Saat Rista melihat isinya, ternyata semuanya adalah pakaian yang tadi dia inginkan tapi tidak jadi karena harganya yang mengejutkan. Tapi Darren malah memborong semua pakaian yang tadi Rista inginkan.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1