RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Hanya Boleh Menjadi Istriku Dan Pendampingku!


__ADS_3

Rista terdiam menatap pemandangan di luar jendela, dia duduk di atas sofa dekat jendela besar di apartemen Darren. Pemandangan di bawah sana bagaikan mainan kecil yang terlihat dari tempatnya ini. Darren yang melihat Rista sedang melamun sendirian, memajukan kursi rodanya menuju sofa.


"Sedang apa Sayang?"


Rista menoleh, dia tersenyum pada Darren. "Tidak papa, aku sedang memikirkan tentang kita"


Darren mengerutkan keningnya, bingun. "Memangnya apa yang kamu fikirkan tentang kita?"


"Aneh aja rasanya, kamu yang dulu sangat membenci aku. Kenapa bisa sekarang mengajak aku menikah?"


Darren semakin menggerakkan kursi rodanya agar lebih dekat dengan Rista. Dia meraih kedua tangan Rista dan mengecupnya dengan lembut. "Karena Tuhan telah membuka mata hatiku. Jika kamu adalah takdir ku dan yang terbaik untukku"


Rista tersenyum, ya ini adalah takdir Tuhan yang harus dia terima. Sekuat apapun manusia, tetap tidak akan pernah bisa merubah takdir Tuhan yang di berikan padanya. Saat ini Rista hanya perlu menerimanya. Semua masa lalu yang tidak menyenangkan, akan tetap ada sebagai masa lalu dalam hubungannya dengan Darren. Tapi Rista harus bisa menerimanya karena memang itu kisah di antara mereka.


"Lalu apa kamu sudah membicarakan rencana kamu yang ingin menikahiku pada orang tuamu?"


Darren mengangguk, dia kembali mencium punggung tangan wanitanya. "Tentu, Mami dan Papi tentu sangat setuju. Dia menyukaimu, apalagi setelah kau begitu berlapang dada menerimaku kembali setelah apa yang aku lakukan di masa lalu"


"Aku kira kamu tidak menceritakan semuanya pada Papi dan Mami kamu"


"Memang tidak semua aku ceritakan, soal donor ginjal itu mereka belum tahu"


Deg..


Bagaimana ini? Apa Alena dan Rio akan menjadi membenci Rista jika tahu soal ini. Rista malah jadi takut sendiri sekarang. Takut jika suatu saat orang tua Darren akan mengetahui soal itu dan tidak terima karena anaknya mendonorkan organ tubuhnya hanya demi perempuan seperti Rista. Kenapa Rista malah jadi takut begini.


"Gak usah takut, kalau kamu tidak bicara mereka juga tidak akan tahu. Kalaupun tahu, Mami dan Papi tidak akan marah padamu. Karena ini memang keputusanku"


Rista menatap Darren, meski pria itu mengatakan hal seperti itu untuk menenangkannya. Hatinya tetap takut. "Tapi 'kan kalau sampai mereka tahu bagaimana? Apa kamu kasih tahu saja sekarang, biar Papi dan Mami kamu tidak terlalu marah jika tahu dari sekarang"


"Tidak perlu sengaja memberi tahunya jika memang mereka tidak tahu dengan sendirinya. Kalau kamu tidak bicara, Papi dan Mami juga tidak akan tahu. Lagian ini adalah keputusanku dan mereka tidak ada hak apapun atas keputusan yang aku ambil dalam hidupku"


Rista hanya mencoba percaya saja pada Darren. Semoga saja orang tua Darren benar-benar tidak akan marah padanya jika suatu saat mengetahui tentang ini. "Tapi aku tetap merasa bersalah karena sudah mengambil salah satu ginjalmu"

__ADS_1


"Sayang, itu bukan kesalahanmu. Itu adalah pilihanku dan aku senang karena bisa menolongmu dan menyelamatkan nyawamu. Setidaknya aku bisa sedikit saja menebus semua kesalahanku di masa lalu. Menyelamatkan wanitaku dan Bunda dari anakku"


"Terimakasih ya karena sudah menolong aku dan rela mendonorkan ginjalmu untukku"


"Semuanya akan aku lakukan asalkan kamu selamat dan sehat. Semua ini aku lakukan untuk kelangsungan hidupku dan Duta"


"Tuan, saatnya minum obat" Perawat Darren datang dengan membawa nampan berisi segelas air dan piring kecil berisi beberapa butir obat yang harus di minum oleh Darren selama masa pemulihan.


Darren mengambil beberapa butir obat itu dan segera meminumnya. Menaruh kembali gelas kosong di atas nampan yang di pegang si perawat.


"Kau boleh pergi, aku masih ingin bersama wanitaku"


"Baik Tuan, permisi Nona" Perawat laki-laki itu mengangguk hormat pada Darren dan Rista.


"Terimakasih ya Mas"


Perawat itu mengangguk dan segera pergi dari sana saat melihat tatapan tidak bersahabat dari Darren. Rista merasa biasa saja, dia hanya bersikap ramah pada perawat Darren. Tapi calon suaminya justru tidak suka dengan sikapnya kali ini.


"Tidak usah kecentilan sama pria lain"


"Aku tidak suka kau menebar pesonamu pada pria lain"


Apasi maksudnya? Aku benar-benar tidak mengerti apapun.


"Maksudnya apa Kak? Aku benar-benar tidak mengerti. Menebar pesona pada siapa memangnya?"


"Itu barusan kau memanggil perawat itu dengan panggilan 'Mas'. Apa maksudnya itu? Aku tidak suka ya"


Dih apasi dia ini.


"Itu 'kan hanya karena dia laki-laki kalau dia perempuan masa aku panggi 'Mas' juga" Lagian aku juga tidak akan rela kalau kamu di rawat oleh perempuan.


"Gak perlu genit juga, aku tahu kamu cantik dan baik. Pasti banyak pria yang menginginkanmu. Tapi, kamu hanya boleh menjadi istriku dan pendamping hidupku!"

__ADS_1


Apasi? Malah berbelit-belit. Pake bahas pendamping segala.


"Iya Kak, aku hanya akan menjadi pendamping hidupmu. Kan aku sudah bilang kalau aku sudah siap menjadi istrimu. Jadi, Kakak tidak perlu takut lagi soal itu. Selama 5 tahun lebih, aku bahkan tidak pernah melirik laki-laki lain karena memang hatiku sudah tertanam nama Kakak untuk selamanya"


Akhirnya pejelasan setengah rayuan itu berhasil membuat Darren luluh. Dia tidak lagi ngomel-ngomel tidak jelas karena sapaan Rista pada perawat laki-laki itu. Padahal sebenarnya Rista hanya mengucapkan terimakasih saja.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Satu Bulan berlalu, dan keadaan Darren sudah benar-benar pulih. Kakinya sudah bisa berjalan dengan normal kembali. Rista bahagia melihat itu, apalagi saat Darren sudah biasa mengajak Duta bermain bola kembali. Senang rasanya bisa melihat kembali keceriaan Duta dan Ayahnya saat bermain bola di halaman rumah.


Darren dan Duta kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai bermain bola di luar. Rista segera memberi mereka minum. "Cape ya, mandi dulu yuk Duta sebelum makan. Bunda udah masak tadi"


"Gak ahh Bun, nanti saja"


"Loh kok? Kan janji mau nurut sama Bunda, katanya biar Bunda gak cape teriak-teriak lagi. Katanya Duta sayang pada Bunda" Ucap Darren saat anaknya mulai mengeluarkan jurus anak-anak, malas mandi.


Duta menatap Rista, memang itu janji yang pernah Duta ucapkan pada Ayahnya setelah Darren memberinya nasihat untuk tidak menyakiti Bundanya dan membuatnya kerepotan. "Iya Bunda, Duta mandi sendiri saja. Kan sudah bisa"


Rista tersenyum, anaknya memang sudah mulai mandiri. Dia sudah mulai bisa mandi dan memakai baju sendiri. Rista mengalungkan handuk yang di bawanya di leher Duta. "Yasudah, sana mandi yang bersih ya"


"Oke Bunda"


Sekarang tinggal Rista dan Darren di ruangan ini. Rista beralih duduk di samping Darren. Untuk beberapa saat keduanya hanya berada dalam keheningan. Hingga Darren yang mulai buka suara.


"Ayo kita menikah Ris"


Spontan saja Rista langsung menoleh ke arah Darren. Terkejut juga dengan ucapan pria itu, padahal ini memang sudah menjadi rencana mereka setelah Darren sembuh. "Aku menurut saja apa yang menurutmu baik"


Darren tersenyum, dia memabawa Rista pada pelukannya. Mencium puncak kepala gadis itu. "Kita laksanakan bulan depan"


Rista mengangguk menyetujuinya, di tunda-tunda juga malah tidak baik. gumamnya.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter..kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2