RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Darren Yang Pencemburu


__ADS_3

Darren menggebrak meja dengan suara yang begitu menggema di ruangan ini. Asisten Soni sampai terlonjak kaget dengan hal yang Darren lakukan saat ini.


"Berani sekali anda menanyakan kabar istriku. Jelas dia baik-baik saja, karena aku selalu menjaganya dengan baik" Ucapan Darren benar-benar penuh dengan penekanan.


Soni tersenyum santai, dia tidak merasa tersinggung atau bahkan terpancing emosi dengan apa yang Darren lakukan. Jelas keinginannya hanya karena dia merasa sangat penasaran pada istri dari pria itu. Menurutnya tidak ada lagi gadis yang setia seperti Rista. Namun pada saat di pulau, Soni melihat bagaimana Rista yang begitu menjaga jarak dengannya saat dia mencoba mendekatinya. Alasannya hanya satu, karena dia sudah menikah.


"Tenang saja Tuan Darrendra, saya hanya bertanya dan tidak bermaksud apapun. Tapi...." Soni berdiri, dia menepuk bahu Darren dua kali. "...Jika anda menyia-nyiakan istri anda, maka saya siap menunggu jandanya"


"Kau!"


Soni berjalan melewati Darren begitu saja. Dia benar-benar terpancing emosi sekarang. Jika saja Soni tidak segera pergi, mungkin Darren sudah menghajar wajah tampan pria itu hingga tak berbentuk lagi.


Tangan yang terkepal itu menenak pada meja, urat-uratnya sampai terlihat begitu menonjol. Wajah Darren sudah merah padam, jelas sekali dia sangat emosi dengan ucapan Soni barusan.


Menunggu jandanya? Aku tidak akan pernah membiarkan istriku menjadi seorang janda. Apalagi menikah dengan pria sialan itu. Meski aku mati sekalipun, aku tidak akan biarkan Ristaku bersama pria sialan itu.


Darren keluar dari ruang meeting dengan wajah dingin membuat sekretaris yang ingin menyapanya langsung bungkam dan kembali duduk di meja kerjanya. Mana berani dia menyapa atasannya disaat dia sedang dalam mode harimau seperti ini. Sudah pasti dia akan kena kemarahan Daren.


Sebenarnya apa yang terjadi setelah meeting selesai tadi? Gumamnya, dia sedang kebingungan sendiri karena tidak tahu ada masalah apa yang membuat atasannya keluar dari ruang meeting dengan wajah merah padam seperti itu.


Darren masuk ke dalam ruangannya, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Nafasnya masih naik turun, ingin memulihkan segalanya dia memilih untuk melakukan panggilan video dengan istrinya. Karena di saat seperti ini hanya seorang Rista yang bisa menenangkannya.


"Sayang ada apa dengan wajahmu? Kau sedang marah?" Benar saja jika Rista langsung faham hanya dengan melihat mimik wajahnya saja.


"Hmm. Pria sialan itu memancingku lagi, dia tidak tahu jika aku sudah benar-benar kehabisan kesabaran maka wajahnya akan hancur dengan tanganku"


Rista menghela nafas, dia berjalan menuju tempat tidur dan naik ke atasnya agar lebih nyaman mengobrol dengan suaminya lewat panggilan video ini. Dia duduk menyandar di atas tempat tidur. "Sudahlah, jangan layani dia. Kau tahu sendiri jika dia itu sangat tidak waras. Masa dia berani menginginkan aku yang jelas sudah menikah denganmu"

__ADS_1


"Tapi aku kesal Sayang, aku ingin memukul wajah menyebalkannya itu. Dia bilang dia akan menunggu jandamu. Sialan.. Siapa juga yang akan membuatmu menjadi seorang janda. Aku mati sekalipun kau tidak boleh bersamanya!"


"Sayang, apaan si? Gak boleh ngomong kayak gitu. Lagian aku juga tidak mau jadi seorang janda. Aku mencintamu dan tidak akan pernah berpaling darimu"


Wajah kesal Darren mulai memudar mendengar ucapan Rista, berubah dengan wajah yang penuh dengan binar kebahagiaan. "Yasudah, aku mau kembali bekerja. Kamu jangan lupa makan, sekarang sudah makan siang?"


Rista hanya cengengesan, dia memang belum makan siang karena perutnya yang masih kenyang sejak sarapan tadi. "Aku akan makan siang sekarang"


"Cepatlah, aku tidak mau tahu. Pokoknya 15 menit lagi aku telepon kau sudah harus makan siang. Tidak ada alasan apapun"


"Iya Sayang, kamu juga pasti belum makan siang 'kan?"


"Aku mau makan siang sekarang"


Akhirnya keduanya memtuskan sambungan telepon dan pergi makan siang. Sebenarnya Rista masih merasa kenyang untuk makan siang. Tapi agar tidak membuat suaminya marah dan khawatir, jadi dia menurut saja. Saat berjalan ke lantai bawah. Rista melihat Mami Alena yang sedang bermain dengan Duta. Dia menghampirinya sebentar.


"Iya Mi, ini aku juga mau makan. Barusan Darren nelepon dan langsung suruh aku makan siang"


"Nahkan, memang begitu dia kalau sudah menyangkut orang-orang yang di sayanginya"


Rista mengangguk, lalu dia izin pada Mami untuk makan siang. Sebenarnya sampai saat ini Rista masih tidak percaya jika Darren benar-benar bisa berubah seperti ini padanya. Padahal dulu saja dia sangat tidak peduli padanya, tapi sekarang bisa berbanding terbalik dengan sikapnya di masa lalu. Waktu lima tahun benar-benar telah merubah sikap buruk Darren padanya.


Dan 15 menit kemudian, Darren benar-benar meneleponnya kembali. Tidak, bukan menelepon biasa. Tapi dia kembali melakukan panggilan video, ingin memastikan jika Rista tidak berbohong padanya.


"Sudah makannya?"


"Ini lagi makan, kamu juga makan yang banyak biar semangat kerjanya"

__ADS_1


"Habiskan makananmu, dan jangan lupa makan buah juga"


"Iya"


Darren memang sangat memperhatikan kesehatan Rista. Seperti dia yang harus rutin makan buah, meminum vitamin dan memastikan makanan yang di makan Rista sehat dan baik untuk kesehatannya.


Mengingat Rista pernah sakit parah sampai dirinya hampir kehilangan gadis itu untuk selamanya, membuat Darren menjadi paranoid sejak saat itu. Dia selalu memperhatikan apa yang Rista makan dan apa yang Rista lakukan. Pokoknya Darren benar-benar memberikan yang terbaik untuk istrinya.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Darren pulang malam hari, dia masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang bermain ponsel sambil tertawa sendirian. Pencemburu Darren langsung meronta, dengan cepat dia merebut ponsel di tangan Rista membuat istrinya sangat terkejut dengan hal itu.


"Kak, ngagetin saja deh. Ada apasi?"


"Kau sedang apa? Apa berkirim pesan dengan pria lain sampai ketawa ketiwi seperti itu"


Rista memutar bola mata malas, sejak pulang dari berbulan madu Darren memang berubah menjadi si pencemburu akut dan selalu was-was jika Rista berselingkuh di belakangnya. "Lihat saja sendiri, aku sedang berkirim pesan di grup teman-teman ku"


"Teman-temanmu? Siapa saja? Apa ada pria disana?" Darren tidak langsung mengecek ponsel Rista, dia tidak langsung percaya begitu saja denhan istrinya. Darren hanya sedang waspada, takut jika ada pria lain yang seperti Soni yang mendekati istrinya.


"Reina, Seril dan Xien. Siapa lagi memangnya? Cek saja kalau tidak percaya"


Dan saat Darren mengeceknya, benar saja jika hanya ada mereka berempat bersama Rista dalam grup itu. Darren mengembalikan ponselnya pada Rista.


"Yasudah, aku mandi dulu"


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2