
Xien masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kekasihnya menggoda Rista? Wanita yang sudah bersuami. Benarkah itu?
Xien menarik kedua tangannya dari genggaman Rista. "Ahh.. Kakak jangan mengada-ngada deh. Soni itu pria yang baik, dia juga sangat romantis dan penyayang. Mana mungkin dia menggoda Kakak, apalagi saat Kakak sudah bersuami. Mungkin saja dia hanya bercanda"
"Xien, kalau dia bercanda. Kenapa sampai dia berani bicara pada suamiku jika dia akan menunggu aku cerai dari suamiku dan menjadi janda. Apa itu laki-laki yang benar? Apa itu sebuah lelucon? Tidak Xien. Kamu pasti faham tentang itu"
Xien menggeleng pelan, air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasanya Xien tidak percaya jika kekasihnya akan seperti itu. Dia sudah hampir dua tahun menjalin hubungan dengan pria itu. Bahkan mereka kenal juga sudah sangat lama. Xien selalu merasa bahagia dengan Soni, dia selalu bisa membuat Xien tersenyum dengan apa yang dia katakan. Soni adalah pria baik dan romantis, idaman banyak wanita.
Tapi hari ini Xien seolah mendapatkan kabar yang benar-benar menghancurkan percayanya pada Soni. Selepas dari rumah Rista, Xien memilih kembali ke kantor Soni karena tahu jika kekasihnya pasti sedang berada di perusahaan di jam segini.
Dengan di antar supir keluarga Rista, Xien akhirnya sampai di perusahaan kekasihnya. Dia langsung masuk dan menuju ruangannya suaminya yang berada di lantai paling atas bangunan ini. Kini Xien berdiri di depan pintu kamar Soni, hatinya tak karuan saat ini. Ingin masuk dan menanyakan semuanya, tapi Xien takut jika kenyataannya tidak seperti apa yang dia harapkan.
Tapi, jika Xien tidak menanyakannya sekarang dia tidak akan tahu kebenarannya. Kadang kebenaran memang menyakitkan, tapi lebih baik sakit daripada hidup dalam setiap kebohongan. Xien akhirnya membuka pintu ruangan Soni. Pria itu terlihat sedang sibuk dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya. Dia mendongak saat menyadari kedatangan seseorang ke dalam ruangannya.
Xien berjalan dan duduk di kursi depan meja kerja Soni. Saling berhadapan dengan pria itu. Tatapan Soni terlihat santai, seolah dia tidak menyadari kemarahan dalam diri Xien saat ini.
"Apa dia sudah cerita? Sepertinya sudah ya.."
Deg..Deg..
Hati Xien rasanya berdenyut sakit, bahkan sebelum dia menanyakan apapun. Soni sudah menjawabnya dengan sendirinya. Soni seolah sedang mengakui apa yang di ceritakan Rista tentangnya, memang benar adanya.
"Jadi...." Xien tergagap, dia seolah tidak bisa mengucapkan apapun. Lidahnya tiba-tiba saja berubah menjadi kelu. "...Benar apa yang dikatakan Kak Rista padaku? Kau memang bukan pria yang baik"
__ADS_1
Soni tersenyum tipis, tidak terlalu menanggapi apa yang Xien ucapkan. "Aku memacarimu selama ini hanya karena janjiku pada Ayah, selebihnya aku bebas melakukan apapun yang aku mau. Xienar dengarlah, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menuruti keinginan Ayah untuk memacarimu. Jadi jangan sampai kau terlalu berlebihan mengartikan hubungan kita ini"
Ucapan Soni barusan benar-benar menghujam hati Xien dengan sangat dalam. Sakit, sangat sakit. Xien sampai memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Selama ini dia selalu menganggap jika Soni benar-benar menvintainya. Karena dia pun begitu mencintai pria itu. Bahkan Xien masih sangat setia saat Soni pergi untuk melanjutkan kuliahnya di luar negera. Lalu, apa ini balasan dari semua ketulusannya selama ini?
"Kau jahat Soni!!" Xien berdiri dan menatap Soni dengan tatapan penuh kekecewaan. "..Selama ini aku setia padamu, kau pergi selama itu ke luar negara pun aku masih setia mencintaimu. Lalu apa ini adalah balasanmu?"
Deg..
Entah kenapa dada Soni tiba-tiba berdenyut sakit saat melihat tatapan Xien yang penuh dengan kekecwaan. Ada apa dengannya? Ini adalah waktu yang dirinya tunggu-tunggu selama ini. Bagaimana Xien akan mengetahui perasaan dia yang sebenarnya dan Soni sudah bisa bebas dari gadis itu. Tapi saat melihat tatapan kecewa dan penuh luka dari Xien, malah membuat hati Soni seolah tidak rela jika gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya.
Xien menghembuskan nafas kasar, dia mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya. Tatapannya berpaling dari wajah Soni, Xien memilih menatap ke arah lain daripada pada pria itu. "Baiklah, aku tetap tidak akan memaksa perasaanmu itu. Setidaknya sekarang aku sudah tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Sekarang hubungan kita selesai sampai disini dan jangan ganggu hidupku lagi mulai saat ini"
Deg...Deg..
Soni memegangi dadanya yang mulai berdenyut sakit, lebih sakit dari yang dia rasakan tadi. Dia menatap punggung Xien yang menjauh dan menghilang di balik pintu ruangannya.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Rista dan Seril terus menguatkan Xien yang menangis penuh luka saat ini. Rista bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya ini. Dia juga pernah mengalami apa yang Xien alami ini.
Cinta dalam luka, begitulah yang Rista rasakan. Dia mencintai pria yang telah membuatnya terluka. Memang terdengar bodoh. Tapi itulah yang dia rasakan.
Setelah Xien cukup tenang, akhirnya dia memilih pulang ke kota asal bersama Seril dengan diantar oleh supir keluarga Rista.
__ADS_1
Sampai di kota itu, Xien hanya diam saja. Dia masuk ke dalam kamar dengan wajah yang lesu. Sebenarnya Seril sangat tidak tega melihat apa yang telah terjadi pada Xien. Namun, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan sahabatnya yang sedang patah hati itu. Akhirnya Seril membiarkan Xien untuk menenangkan dirinya sendiri.
Di dalam kamar, Xien membuka jendela kamar dan dia duduk di atas tempat tidur. Halaman rumah yang penuh dengan meja-meja bundar kecil dan kursi disana terlihat jelas. Tapi tidak menarik bagi Xien. Fikirannya saat ini benar-benar kacau. Xien masih tidak menyangka jika pria yang selama ini dicintainya, justru tidak memiliki cinta sedikit pun padanya.
Jika aku memang tidak layak untukmu, aku ikhlas dan akan pergi dari kehidupanmu.
Apalagi yang bisa Xien lakukan saat ini? Selain dia menerima kenyataan yang pahit ini. Xien hanya perlu menjalani hidup dengan baik mulai saat ini. Biarkan dirinya merasakan rasa sakit itu sendirian.
Namun, sepertinya Xien salah. Dia tidak sendiri untuk merasakan rasa sakit itu. Ditempat yang berbeda ada seorang pria yang juga sedang merasakan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Hatinya sakit karena Xien meninggalkannya. Tapi dia masih bingung karena sebenarnya memang ini yang dia inginkan selama ini. Tapi entah kenapa dia malah merasa sakit saat hal ini terjadi.
Gadis yang dia anggap selalu menganggu hidupnya selama ini, tapi kenapa dia malah merasa sakit saat gadis pengganggu itu pergi.
Ayola Son, kenapa kau harus seperti ini karena kepergian gadis itu. Dia itu hanya pengganggu saja dalam hidupmu.
Soni berbalik dan berjalan menuju kamarnya, namun dia melihat sesuatu di atas meja. Soni mengambil benda itu. Sebuah kotak kecil dengan bungkusan kado yang rapi.
"Sayang ini hadiah untukmu atas kepulanganmu hari ini" Xien memeberikan kotak kecil dengan bungkusan kado itu pada Soni.
"Sudahlah, kau simpan saja dulu di atas meja"
Namun, Soni malah mengabaikannya. Tapi Xien mengira karena mungkin pria itu lelah. Jadi dia menaruh hadiahnya itu di atas meja depan sofa.
Sepertinya apa yang di alami Soni akan sama dengan apa yang di alami Darren.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5