
Rista sampai tidak bisa menenangkan anaknya yang terus merengek ingin bertemu dengan Ayahnya. Rista tidak habis fikir, kenapa Duta bisa sampai berguling-guling di lantai hanya karena ingin bertemu dengan Ayah kandungnya. Ya, Rista mengerti jika Duta juga pasti menginginkan sosok seorang Ayah. Tapi, Darren bukan ayah yang baik untuk Duta. Rista merasa Darren hanya sedang mempermainkan mereka saja. Dia datang dan pergi sesuka hati. Hanya hadir untuk semakin menumbuhkan luka di hatinya. Rista tidak mau Duta juga terlalu berharap pada Ayahnya. Lalu pada akhirnya anak itu juga kan kecewa seperti dirinya.
"Duta kamu kenapa si? Papa kamu itu gak benar-benar sayang sama kamu. Selama ini yang sayang sama kamu hanya Bunda, Duta. Hanya Bunda!"
"Kak, jangan bicara seperti itu. Duta berhak mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya juga. Jangan buat Duta menjadi anak durhaka Kak. Ya, selepas dari apa masa lalu kalian dulu. Tapi Duta tidak berhak ikut dalam masalah kalian. Jangan libatkan anak dalam setiap keegoisan kalian Kak. Kasihan Duta" Xien memperingati saat dia rasa ucapan Rista sudah sangat keterlaluan.
Rista menghembuskan nafas kasar, dia berlutut dan mengangkat tubuh anaknya yang tiduran di atas lantai dingin. "Yaudah, terserah Duta mau apa. Bunda tidak akan melarang"
Anak itu akhirnya berhenti berontak, dia menatap Ibunya dengan intens. "Benar ya Bunda, Duta tidak mau apa-apa. Hanya saja ingin kalau Bunda tidak ingin mengusir Papa lagi jika Papa datang kesini"
Lagi-lagi Rista menghembuskan nafas kasar. "Iya, Bunda tidak akan mengusir Papa jika dia datang lagi"
Semoga saja dia menyerah dan tidak lagi datang dan mengganggu hidupku dan Duta.
"Beneran ya Bunda, awas kalau Bunda bohong"
"Iya, Bunda tidak bohong"
Duta langsung memeluk Bundanya dan mengucapkan terimakasih. Saat ini Rista hanya bisa menuruti semua keinginan Duta. Rista juga tidak bisa berbuat apa-apa saat anaknya yang terus merengek ingin bertemu dengan Ayahnya. Memang sejatinya seorang anak tetap membutuhkan sosok seorang Ayah. Mereka juga perlu mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya.
"Sekarang Duta tidur, sudah malam"
"Iya Bunda"
Rista menggendong Duta, dia melirk sekilas pada Xien. "Cepat tidur Xie, besok kita harus sudah mulai pagi-pagi untuk buat kue"
"Iya Kak, selamat malam"
__ADS_1
Xien berlalu ke kamarnya dan Rista pun begitu.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Darren kembali lagi ke rumah Rista, dia tidak akan menyerah begitu saja dengan wanitanya. Biarkan jika dia kembali di usir oleh Rista. Tapi, Darren tetap tidak akan menyerah sampai dirinya mampu meluluhkan kembali hati beku wanita itu. Duta yang melihat kedatangan Ayahnya tentu sangat senang. Dia langsung memeluk Darren dengan semangat.
"Nih, mainan baru buat Duta. Jadi anak yang baik ya, nurut sama Bunda"
Duta tersenyum melihat paper bag yang di berikan Ayahnya. Sebuah mobil-mobilan keluaran terbaru dengan merek terkenal. Tentu saja harganya tidak akan bisa mampu di hitung oleh anak sekecil Duta. "Iya Pa, makasih banyak mainannya. Duta suka, Duta tidak punya mainan seperti ini"
Darren menatap prihatin anaknya, padahal dia bisa membeli apa saja yang dia mau dengan uang Ayahnya. Tapi, karena kelakuannya di masa lalu telah membuat anak dan Ibu ini hidup menderit.
Papa janji Duta, Papa akan memberikan kebahagiaan untukmu dengan keluarga yang lengkap. Papa akan berusaha kerasa untuk mendapatkan hati Bundamu.
"Duta tenang saja, mulai sekarang apapun yang kamu mau pasti Papa turuti. Asalkan Duta jadi anak yang pintar dan nurut sama orang tua ya"
Darren melirik ke dalam rumah, seperti tidak ada orang di rumah ini. "Duta, Bunda mana?"
"Bunda sedang buat kue di dapur sama Kak Xien"
"Papa boleh masuk temui Bunda?"
Duta mengangguk cepat "Boleh, Bunda sudah janji sama Duta untuk tidak mengusir Papa lagi. Jadi, sekarang Papa boleh menemui Bunda"
Darren tersenyum, anaknya benar-benar melakukan apa yang dia katakan kemarin. Membuat Bundanya tidak lagi mengusir Darren dari rumah ini. Darren di tuntun Duta untuk masuk ke dalam rumah. Duta membawa Darren ke arah dapur. Di sana Rista dan Xien sedang di sibukan dengan beberapa adonan roti dan juga kue. Saat menyadari kedatangan Darren, Rista hanya bersikap biasa saja bahkan terkesan cuek.
"Ris, ada yang bisa aku bantu?"
__ADS_1
"Tidak ada, lebih baik kamu temenin Duta saja. Aku tidak mengusirmu juga karena dia yang meminta"
Darren tersenyum tipis melihat kejudesan Rista padanya. Itu wajar, karena Rista tidak membunuhnya saja sudah bersyukur, mengingat apa yang telah Darren lakukan di masa lalu padanya benar-benar jahat dan berengsek. "Tapi kalau aku mau temani Bundanya juga bagaimana?"
"Kau!" Rista menatap kesal pada Darren yang tiba-tiba melangkah mendekat padanya. "...Mau apasi? Sana pergi saja"
"Aku hanya ingin ngambil minum, kenapa kamu larang. Tega sekali kamu tidak memberi tamu minum" Darren terkekeh melihat wajah kesal Rista yang entah sejak kapan terlihat sangat menggemaskan. Darren menuangkan air kedalam gelas lalu membawanya ke luar dari dapur.
Rista masih menggerutu kesal saat Darren sudah pergi dari dapur. Semnetara Xien hanya terkekeh saja melihat kelakuan Darren dan Rista. Mereka itu hanya sedang sama-sama gengsi untuk mengungkapkan jika mereka memang saling mencintai. Darren yang menghilang saat Rista di rumah sakit membuat gadis itu kembali bersikap jutek padanya. Padahal Xien juga tahu jika Rista juga sudah mencintai Darren dari dulu, dan rasa cinta itu tidak pernah hilang di makan waktu. Rista masih tetap mencintai Darren hingga saat ini.
"Kak, jangan terlalu membenci nanti bisa jadi cinta loh"
"Aku udah pernah mencintainya Xie, tapi apa aku mendapat kebahagiaan. Tidak. Aku malah mendapat penderitaan karena aku mencintainya"
Deg..
Darren yang belum melangkah jauh dari arah dapur tentu mendengar jelas ucapan Rista yang membuatnya kalah telak. Apa yang Rista ucapkan berhasil menusuk relung hatinya. Darren telah melukai wanita itu sampai serapuh ini. Darren sadar jika Rista pasti sangat kecewa dengan apa yang dia lakukan di masa lalu. Cintanya terbalas kepedihan yang dka rasakan hingga saat ini.
Maafkan aku Rista, jangan terus menghukum diriku dengan semua ini. Rista, maafkan aku.
Darren melangkah mendekati Duta yang sedang bermain di atas karpet dekat depan televisi. Sedang memainkan mobilan yang di belikan olehnya. Darren segera menghampiri Duta dan duduk di sampingnya. "Papa temani main ya"
Duta tersenyum dan mengangguk, Darren asyik menemani anaknya bermain sampai dia tidak sadar ada yang memperhatikan mereka. Rista berdiri di ambang pintu dapur, menatap bagaimana anaknya begitu bahagia saat bisa bersama Ayahnya. Tertawa dan tersenyum secerah itu. Rista mulai menyadari jika Duta memang benar-benar membutuhkan sosok seorang Ayah dalam hidupnya. Tidak cukup hanya dengan dirinya saja. Jadi, mulai saat ini Rista akan membiarkan Duta selalu bertemu dengan Darren. Tidak akan lagi dia melarangnya, semuanya hanya demi kebahagiaan Duta.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1