
Rista sebenarnya masih sangat betah tinggal di pulau ini. Menikmati suasana pantai yang indah. Namun, kehadiran Soni benar-benar meresahkan membuatnya harus segera pergi dari pulau ini. Darren di bantu dengan pengurus Villa untuk memasukan barang-barang ke bagasi mobil jemputan disana. Rista masih berdiri di tangga dengan menatap ke arah hamparan pantai yang indah. Dia ingin berfoto disana, tapi Darren benar-benar tidak mengizinkannya. Dia malah menjanjikan akan membawa Rista kesini lagi setelah tidak ada pria bernama Soni yang berada di pulau ini.
Darren menutup bagasi mobil, dan menatap ke arah istrinya yang masih berdiri di tangga teras Villa itu. "Sayang, ayo berangkat"
Rista mengangguk, dia berjalan mendekati suaminya dan langsung memeluk suaminya. Mengucap terimakasih pada pengurus Villa, Rista dan Darren lalu masuk ke dalam mobil jemputan. Rista menatap keluar jendela mobil, melihat pemandangan yang sangat indah itu yang mulai terlewati dengan seiringnya kecepatan laju mobil.
Setelah kawasan pantai terlewati, Rista langsung menggeser duduknya dan memeluk suaminya. Darren yang sedang mengecek beberapa laporan di ipad, hanya mengelus kepala Rista dan mencium puncak kepalanya.
"Nanti kita datang lagi kesini"
Rista mengangguk dan semakin mengeratkan lingkaran tangannya di perut dan punggung suaminya. Menyandarkan kepala dengan nyaman di dada suaminya. Hingga sampai di bandara baru dia melepaskan pelukannya. Suaminya memang tempat paling nyaman untuk Rista.
Mereka mulai naik ke dalam pesawat dan duduk di kursi pesawat. Rista memilih duduk di dekat jendela pesawat karena dirinya selalu antusias melihat pemandangan saat pesawat terbang di atas sana. Seperti sebelumnya, Rista selalu memeluk suaminya saat pesawat mulai terbang, dia selalu takut dengan goncangannya. Maklumlah, inikan pertama kali Rista naik pesawat dalam seumur hidupnya.
Waktu berlalu cukup lama sampai pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara nasional Ibu kota. Rista bernafas lega setelah dia telah sampai dengan selamat. Seorang supir sudah menunggu untuk menjemput mereka, Darren langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil dan membiarkan supir yang mengurus barang-barang mereka.
Darren memeluk istrinya dengan nyaman di dalam mobil. Mencium pipi dan bahu istrinya. Rista sampai sedikit menggeliat karena merasa geli dengan apa yang di lakukan Aiden.
Apasi nih orang, gak niat lakuin di dalam mobil 'kan? Gila aja kalo sampe dia berniat seperti itu.
"Kak, apaan si. Malu ihh nanti Pak supir lihat" Rista sedikit mendorong tubuh suaminya itu agar menghentikan aksi gilanya itu. Untuk menghentikan kegilaan suaminya, Rista langsung memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada Darren. Benar saja, Darren langsung berhenti dengan kegilaannya itu.
"Aku kangen Duta"
Darren menggesekan dagunya di puncak kepala Rista, lalu mengecupnya. "Sebentar lagi kita akan bertemu dengannya"
__ADS_1
Rista semakin erat memeluk suaminya, sengaja agar suaminya tidak punya celah untuk melakukan kegilaannya lagi. Sampai di depan rumah suaminya, Rsita segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah untuk segera bertemu dengan anaknya itu. Benar saja saay dia membuka pintu utama, Duta sudah menunggunya bersama Mami Alena. Rista langsung memeluk dan mencium anak itu dengan penuh kerinduan. Nyatanya seorang Ibu tidak bisa terlalu lama meninggalkan anaknya. Apalagi masih seusia Duta.
"Bunda kangen banget sama Duta"
Duta melingkarkan tangan mungilnya di leher Rista, dia mencium pipi Ibunya. "Duta juga kangen sama Bunda"
"Sama Papa gak kangen nih" Darren muncul di balik pintu utama. Duta langsung menatap Ayahnya dan melepaskan pelukannya pada sang Ibu dan langsung beralih pada Ayahnya. Darren segera menggendong Duta dan mencium pipi anak itu.
"Dita juga kangen sama Papa"
"Bagaimana bulan madu kalian, apa lancar?" tanya Alena
"Lan..."
"Tidak, ada buaya pengganggu disana. Jadi kita pulang lebih cepat" jawab Darren, memotong ucapan istrinya.
"Buaya pengganggu? Maksudnya?"
"Tidak papa Mi, Darren memang suka asal bicara saja. Mungkin karena dia lelah. Kami izin istirahat dulu ya Mi" Rista menarik lengan suaminya untuk segera pergi dari sana. Rista tidak mau jika Darren akan terus membahas soal Soni pada Mami Alena. Rista tidak enak pada Ibu mertuanya itu.
Darren menurunkan Duta dari gendongannya. "Duta sama Oma dulu ya, Papa sama Bunda mau istirahat sebentar"
"Oke Pa"
Darren mengikuti langkah istrinya yang terus menarik tangannya. Sampai di ruang tengah, Rista bingung sendiri harus membawa Darren kemana? Dia 'kan tidak tahu yang mana kamar suaminya. Di rumah ini juga ada banyak kamar.
__ADS_1
"Kamar kamu yang mana si?" Akhirnya daripada bingung, Rista memlih bertanya pada Darren. Pertanyaannya malah membuat Darren tertawa. Memang Rista belum tahu dimana kamar suaminya, setelah menikah dia langsung pergi honeymoon dan tinggal di hotel. Selama sebelum menikah pun, Rista tinggal di kamar tamu.
"Makanya jangan sok-sok'an ngajakin ke kamar, tapi gak tahu kamarnya dimana" Darren menuding kening istrinya dengan gemas, lalu menciumnya. Lalu Darren menarik tangan istrinya menuju lantai atas karena memang disana kamarnya berada.
Duh kenapa jantungku berdebar ya, kayak pengantin baru yang pertama kali masuk kamar saja.
Darren membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya masih dengan menggandeng lengan istrinya. Rista melihat sekelilingnya, kamar yang sangat luas dengan meja kerja yang ada di pojok ruangan. Darren memang termasuk orang yang malas ribet, jadi dia menyatukan kamar dan ruang kerjanya. Satu buah sofa dan meja kecil di dekat jendela. Televisi besar yang terpasang di dinding kamar. Tempat tidur dengan ukuran besar juga.
"Ganti baju dulu Sayang"
Rista mengangguk, dia melangkah menuju pintu yang di tunjuk Darren sebagai ruang ganti. Tapi langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu. "Kan baju aku masih di bawah, aku ambil dulu"
"Gak perlu Sayang, kan aku sudah menyiapkan semua keperluanmu disini"
Rista menatap suaminya dengan curiga. "Kau yang menyiapkannya?"
Darren memutar bola mata malas melihat Rista yang mengangkat jari telunjuk di depan wajahnya. "Mami yang menyiapkan semuanya. Kenapa si kamu selalu curiga tidak jelas padaku"
"Ya, karena kamu pria mesum" Rista berkata dengan santai dan berjalan menuju ruang ganti. Tidak menghiraukan Darren yang hampir saja terjatuh harga dirinya karena sepenggal kalimat yang di ucapkan Rista barusan.
Darren menggeleng heran dengan kelakuan istrinya ini. "Untung cinta"
Kehadiran Rista dalam hidupnya benar-benar memberikan warna di kehidupan Aiden. Istrinya selalu bertingkah di luar dugaan, dan setiap yang dia lakukan selalu membuatnya gemas. Darren sampai tidak bisa berkata-kata kalau Rista sudah berprilaku seperti barusan. Mengatakan hal yang membuatnya terkejut, namun dia dengan santai mengatakan itu.
Kau memang hadir untuk merubah hidupku dan memberikan warna dalam hidupku. Terimakasih Tuhan karena telah mengirimkan malaikat untukku.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5