
Rista menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah mewah, yang jelas baru Rista lihat hari ini. Rumah Reina dan Elion memang mewah, tapi ini bahkan lebih mewah dari itu. Rista menatap Darren yang menggendong Duta. Anak itu baru saja terbangun setelah tertidur di sepanjang perjalanan.
"Aku gak usah masuk aja ya"
"Gak papa Ris, serius Mami aku itu gak sejahat yang kamu fikirkan"
Rista terlihat ragu untuk melangkah saat Darren meggandengnya masuk ke dalam rumah. Rumah mewah dengan segala barang-barang mewah di dalamnya. Rista merasa sangat rendah saat bisa masuk ke dalam rumah semegah ini.
"Darren, lebih aku tunggu di mobil aja deh" Rista sudah memutar langkahnya untuk kembali ke luar rumah. Tapi, tangan Darren langsung menahannya.
"Jangan, ayo ikut masuk"
Akhirnya Rista tidak bisa lagi menghindar, dia hanya bisa mengikuti Darren yang membawanya ke ruang tengah. Di sana sudah ada Alena dan Rio, Ibu dan Ayah Darren. Rista semakin menunduk dalam dengan tangannya yang berpegang erat pada Darren. Tangannya sudah mulai berkeringat dingin.
"Pi, Mi ini Rista dan Duta"
Rista langsung mengangguk hormat, mencoba untuk bersikap sesopan mungkin. "Selamat siang Nyonya, Tuan"
Rista tidak akan seberani itu untuk memanggil mereka dengan sebutan lain selain itu.
"Duduklah" suara lembut Alena membuat suasana sedikit lebih baik bagi Rista. Darren membawanya duduk di sofa depan mereka dengan Duta yang berada di pangkuannya.
"Jadi ini anak dan calon istrimu?" tanya Alena.
Mendengar itu, Rista langsung mendongak dan menatap bingung pada Darren. Yang ada di fikirannya adalah orang tua Darren yang akan sangat terkejut melihat kehadiran dirinya dan Duta. Dan mereka akan bertanya-tanya siapa Rista dan Duta. Tapi sepertinya kedua orang tua Darren sudah mengetahui tentang dirinya dan Duta. Tapi tunggu... Kenapa Alena bisa berkata jika Rista adalah calon istri Darren. Kan selama ini Rista belum menyetujuinya. Ini semakin aneh saja.
__ADS_1
"Harusnya iya Mi, tapi masih tidak mendapat jawaban"
Rista langsung menatap Darren dengan kesal. Dia tahu Darren sedang menyindirnya. Tapi, hal itu justru membuat Rista malu. Dia merasa sangat sombong sekali karena menolak Darren, pria yang jelas lebih tinggi derajatnya.
"Wahh. Ternyata anak Mami, bisa di tolak wanita juga ya. Mami kira tidak akan ada wanita yang bisa menolakmu"
"Itulah, makanya aku juga bingung harus bagaimana lagi cara meyakinkan dia" keluh Darren seolah dirinya sudah sangat teraniaya oleh Rista.
Ini lagi main drama apa si?
"Rista, nama kamu Rista 'kan?"
Rista langsung mengangguk saat mendengar pertanyaan Alena yang tertuju padanya. "Iya Nyonya"
"Bisa ikut Mami sebentar"
Sial. Dia sedang menjebakku ya.
"Ayo Ris" Alena sudah berdiri dan tidak mungkin jika Rista menolaknya, jadi dia ikut berdiri dan mengikuti Alena di belakangnya. Jantungnya sudah berdebar kencang, Rista tidak bisa menenangkan diri jika semuanya akan baik-baik saja. Fikirannya sudah melayang entah kemana. Ada adegan sinetron yang sering dia lihat. Bagaimana Ibu si pria kaya akan memberikan uang dan meminta Rista untuk pergi meninggalkan anaknya.
Mikir apaan si lo ini Ris.. Itu hanya adegan film.
Alena membawa Rista ke taman belakang rumahnya. Ada kolam berenang disana. Banyak juga bunga-bunga dan tanaman yang terawat. Duduk di bangku taman, Rista hanya menunduk dengan tangan saling bertaut di atas pangkuannya. Keringat dingin semakin membasahi tubuhnya yang tegang.
"Maafkan semua kesalahan Darren Nak, Mami tahu jika anak Mami sangatlah keterlaluan. Tapi, percayalah jika setelah kamu pergi, dia benar-benar hancur. Darren memang salah, Mami juga tidak akan membela anak Mami yang jelas salah. Tapi tolong beri dia kesempatan untuk membuktikan cintanya padamu. Bukannya Mami tidak menghargai perasaanmu yang pastinya sangat sulit untuk bisa menerima Darren kembali..."
__ADS_1
Rista hanya diam mendengarkan, kejadian ini dia anggap dengan sesi curhat seorang Ibu tentang anaknya. Meski begitu Rista tentu sangat tersentuh karena Alena sama sekali tidak melakukan apa yang dia bayangkan. Alena sangat baik dan begitu lembut selayaknya seorang Ibu.
"Tapi, percayalah Nak jika Darren sudah benar-benar berubah. Dia sudah sangat menyesali semuanya. Ris, selama 5 tahun terakhir hidup Darren benar-benar berubah. Dia menjadi lebih dingin, sering marah-marah dan dia tidak hentinya mencarimu sampai membayar beberapa orang untuk itu. Tapi setelah dia kembali menemukanmu, dia terlihat lebih ceria dan bahagia setiap harinya. Apalagi jika dia bicara ingin menemuimu, wajahnya selalu berseri bahagia"
Alena tentu tahu apa yang di rasakan oleh anaknya. Dia adalah seorang Ibu yang tentu merasakan apa yang di rasakan anak semata wayangnya. Alena tahu semua masa lalu gelap Darren, anaknya sendiri yang langsung bercerita padanya. Hingga dia menemukan Rista dan anaknya pun, Darren langsung bercerita padanya. Jadi tidak ada kebohongan apapun antara Darren dan Ibunya. Mungkin hanya satu hal yang belum Ibunya ketahui.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Rista duduk di atas tempat tidur, Darren membawanya ke kamar tamu. Duta telah terlelap di sampingnya. Sementara Rista masih terjaga di hari yang sudah hampir larut. Dia masih memikirkan percakapan bersama Alena di taman tadi siang. Semuanya masih terlalu membingungkan untuk Rista. Tapi kini hatinya mulai yakin jika Darren sudah benar-benar berubah.
"Cobalah untuk memulainya Ris, tidak perlu langsung menikah. Coba saja terima Darren sebagai pacarmu. Jika hatimu tetap beku dan tidak bisa menerimanya lagi. Maka kamu bisa membicarakan hal itu dengan Darren"
Begitulah permintaan Alena padanya. Dan Rista mulai memikirkannya. Mungkin memang benar apa yang di katakan Alena. Tidak akan habisnya jika Rista sama sekali tidak berani mencoba. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana hati dan perasaan yang sebenarnya pada Darren saat ini. Rista hanya sedang ingin mencoba. Hingga pagi ini dia bertemu Darren yang sedang berenang. Rista duduk di kursi pinggir kolam berenang. Menunggu Darren sampai selesai dengan kegiatan paginya.
Darren langsung menyelesaikan berenang saat menyadari kehadiran Rista. Dia mengambil jubah mandi dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan celana pendek saja. Dia menghampiri Rista dan duduk di kursi kosong di samping Rista. Hanya terhalang meja kecil yang di atasnya terdapat jus dan buah yang sudah di potong-potong kecil.
"Ada apa Ris? Mau berenang juga?"
Rista menggeleng, dia menatap air kolam yang kembali tenang setelah Darren naik. "Aku tidak bisa berenang"
"Nanti akan aku ajari" Darren mengambil jusnya dan meminumnya, lalu menyimpan kembali di atas meja.
Rista menoleh, dia menatap Darren dengan lekat. "Darren mari kita mulai dari pacaran"
Uhuk..
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5