
"Aku benar-benar tidak menyangka, gimana ini. Kenapa Xien bisa pacaran dengan Soni. Aku harus bicara bagaimana agar Xien melepaskan Soni. Duh aku malah bingung"
Rista terus mondar mandir di dalam kamarnya, dia sedang bingung bagaimana berbicara pada Xien jika Soni bukanlah pria yang baik untuknya. Dia bisa menggoda Rista yang sudah menjadi istri orang, sementara dirinya juga berstatus pacaran dengan Xien. Rista tidak bisa membiarkan sahabatnya bersama pria yang akan menyakitinya. Tapi bagaimana caranyaΒ dia menjelaskan.
"Sayang, sudahlah. Aku pusing lihat kamu terus mondar mandir kayak gitu. Biarkan saja apa yang akan Soni lakukan nanti, dia juga pasti akan malu bertemu denganmu tadi. Lagian kebusukan seseorang akan terlihat suatu saat nanti. Cepat atau lambat"
Darren hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang panik sendiri. Darren baru pulang bekerja dan dia langsung di serbu dengan cerocosan istrinya tentang apa yang terjadi tadi sore.
Rista berjalan ke arah tempat tidur, duduk di samping suaminya. "Tapi 'kan aku tetap harus memberi tahu Xien tentang ini Kak. Aku gak bisa biarin sahabat aku mencintai pria seperti Soni"
Darren berdiri, dia mengelus kepala istrinya. "Lakukan apa yang menurutmu benar, aku mau mandi dulu"
Darren berlalu ke kamar mandi, sementara Rista masih saja memikirkan cara untuk bisa membicarakan soal ini pada Xien. Rista takut jika Xien terluka. Dia adalah gadis yang baik, Rista tidak mau melihat sahabatnya terluka. Rista berdiri dan keluar dari kamar, dia ingin menemui Seril yang memang menginap disini karena besok siang mereka baru pulang ke kota asal.
Seril yang baru saja selesai mandi langsung terkejut saat mendapati Rista yang sudah duduk di pinggir tempat tidur. "Kak, ada apa?"
Rista mendongak, dia menatap Seril yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di depan meja rias. "Ril, aku ada sesuatu yang ingin di bicarakan denganmu"
"Ada apa Kak?" Seril selesai menyisir rambut, lalu dia berjalan mendekati Rista, lalu dia duduk di samping gadis itu. "...Memangnya apa yang ingin Kakak bicarakan?"
"Ini tentang Xien dan pacarnya"
Seril mengerutkan keningnya, menatap Rista dengan bingung. "Maksudnya?"
"Aku mengenal pacarnya dan dia bukan pria yang baik..." Cerita mengalir begitu saja dari bibirnya, tentang awal pertemuannya dengan Soni saat dia sedang berbulan madu.
Seril menggeleng pelan, dia bahkan sampai tidak percaya jika pacar sahabatnya seperti itu. Padahal melihat dari apa yang di lakukan pria itu tadi, sangat tidak menunjukan jika dia adalah pria seperti itu. Bahkan dia mencium kening Xien dengan begitu lembut di depan mereka. Sungguh Seril tidak berpikir jika pacar sahabatnya bisa seperti itu.
"Kak, ini beneran? Aku sampe tidak percaya loh. Masa si Kak? Padahal dia terlihat sayang banget sama Xien"
"Kalau bukan dia orangnya, aku juga tidak akan berbicara seperti ini Seril. Aku mendukung setiap hubungan sahabat-sahabat aku. Mau sama siapapun itu asalkan bisa membuat kalian bahagia. Tapi pacarnya Xien, aku sudah tahu bagaimana kelakuannya"
__ADS_1
"Terus kita harus gimana dong?"
Rista merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, masih dengan kakinya yang menggantung di atas lantai. Menatap langit-langit kamar. "Aku juga bingung harus gimana, cara bicara pada Xien agar dia percaya"
"Kita coba saja Kak, kita bicarakan semuanya sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Terserah pada pendapat Xien nanti, mau dia percaya atau tidak. Yang penting kita sudah bicara apa adanya"
Akhirnya Rista kembali ke kamarnya setelah mendapat pencerahan. Benar juga apa yang di katakan Seril, apapun tanggapan Xien nanti, yang penting dia sudah menceritakan apa adanya.
Masuk ke dalam kamar, Rista melihat suaminya sedang duduk bersandar di atas tempat tidur dengan ipad di tangannya. Pasti sedang mengecek pekerjaan. Gumamnya sambil berjalan meghampiri suaminya. Rista naik ke atas tempat tidur dan memeluk dada suaminya. Sedikit melirik apa yang sedang suaminya kerjakan di ipad miliknya.
Ohh ngecek laporan ya.
"Darimana?" Darren mematikan layar ipad, dan menyimpannya di atas nakas. Lalu dia memeluk istrinya, mencium keningnya.
"Abis ke kamar Seril"
"Emm. Bicara tentang Xien"
Rista mengangguk karena Darren tidak memberikan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Darren sudah tahu apa yang akan istrinya bicarakan bersama Seril. Daritadi saja dia sudah kebingungan sendiri.
"Iya Sayang"
...πππππππππ...
Pagi ini setelah Darren pergi bekerja, Rista langsung mengajak Seril ke kamarnya. Mendiskusikan bagaimana cara mereka memulai cerita ini pada Xien. Sampai Xien datang dan dia diantar oleh Soni. Rista menatap tidak suka pada Soni. Jelas, karena dia memang tidak suka pada pria itu.
"Seril apa kita akan pulang sekarang? Biar pacarku yang mengantarkan kita"
Seril menatap Rista, dia bingung harus menjawab apa. Yang jelas hari ini mereka harus bisa bicara pada Xien tentang siapa pacarnya yang sebenarnya.
"Emm. Xie, apa kamu tidak mau tinggal dulu disini. Nanti siang saja pulangnya, aku masih kangen sama kalian"
__ADS_1
Xien mendongak, dia menatap ke arah kekasihnya yang duduk di pegangan sofa tunggal yang Xien duduki. "Tapi kayaknya pacar aku gak bisa anterin kalau siang"
"Gak papa, biar nanti supir Mami saja yang anterin kalian" kata Rista cepat, dia tidak bisa membiarkan Xien pergi begitu saja saat ini. Sebelum gadis itu mengetahui bagaimana kekasihnya ini.
"Gimana Sayang?" Xien masih menatap Soni, meminta persetujuan dari kekasihnya itu.
Soni tersenyum, dia megelus kepala Xien dengan lembut. "Terserah kamu saja"
"Yaudah nanti siang saja kita pulangnya"
Seril dan Rista serempak menghela nafas lega. Meski sebenarnya mereka sangat jijik melihat apa yang di lakukan Soni pada Xien.
Akhirnya ketiga sahabat ini berkumpul di kamar tamu yang semalam di tempati oleh Seril. Rista dan Seril saling pandang, bingung harus memulai darimana.
"Xien, kamu sudah lama mengenal pacar kamu itu?" Akhirnya Rista memulai dengan pertanyaan ini. Dia duduk di sebelah kiri Xien, dengan Seril yang duduk di sebelah kanan Xien saat ini.
"Kenapa nanya kayak gitu Kak? Aku sudah lama pacaran kenal dan pacaran dengannya"
"Emm. Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Tapi, apa kalian selalu bersama selama ini?"
Xien menggeleng pelan, memang dia dan Soni menjalani hubungan jarak jauh selama ini. "Dia kuliah di luar negara dan baru pulang beberapa hari yang lalu. Jadi, aku tidak selalu bersamanya selama ini"
"Xien, maaf kalau aku lancang atau terkesan menjelekan kekasihmu. Tapi ini adalah kenyatannya, aku mengenal dia dan dia bukan pria yang baik untuk kamu...."
"Apaan si Kak, aneh-aneh aja deh. Kakak kenal dimana? Buktinya kemarin pas pertama kalian bertemu, kalian seperti seorang asing"
Benar juga, lagian mana mungkin Rista harus berprilaku jika dia kenal dengan Soni. Karena sebenarnya dia juga tidak mau kenal dengan pria itu.
"Xien dengarkan aku..." Rista memegang tangan Xien dan menatap matanya dengan lekat. "...Soni pernah menggodaku sampai aku bertengkar dengan suamiku. Tidak sampai disitu, dia bahkan terus mengejarku hingga saat ini"
Deg..
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5