
Darren menghembuskan nafas kasar saat dia sampai di dalam kamar dan melihat istrinya yang sudah terlelap. Darren menatap kantong plastik di tangganya, tiga buah mangga muda yang dia dapatkan dengan susah payah. Darren melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Hampir tiga jam dia berkeliling kota hanya untuk mendapatkan mangga muda untuk istrinya. Tapi saat dia sampai di rumah, istrinya malah sudah terlelap.
Darren tidak tega untuk membangunkan wajah tenang yang terlelap itu. Akhirnya Darren kembali ke lantai bawah danĀ menyuruh seorang pelayan untuk menyimpan mangga itu. Darren kembali ke kamarnya dan ikut tidur bersama istrinya. Memeluknya dengan hangat di balik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua.
Pagi ini Rista terbangun dan mendapati suaminya yang masih terlelap dengan memeluknya erat. Rista berbalik dan menatap wajah tenang suaminya yang sedang terlelap. Tangan Rista memegangi wajah Darren, mengukir garis wajah suaminya dengan jari telunjuknya. Rista tersenyum tipis saat dia melihat Darren yang mulai terusik dari tidurnya.
Rista mengingat jika semalam dia meminta suaminya mencarikan mangga muda. Rasa bersalah merasuki hatinya saat ini. Rista malah ketiduran di saat Darren masih mencari mangga muda.
"Maaf ya Sayang, aku malah ketiduran semalam"
Darren menggeliat pelan, dia mulai terusik dengan apa yang Rista lakukan. Saat membuka kedua matanya, Darren baru sadar jika istrinya yang dari tadi mengganggu tidurnya. Bukannya kesal, Darren malah memeluk istrinya dengan erat. Mencium wajah istrinya dengan gemas.
Rista sampai tertawa geli dengan apa yang di lakukan suaminya. "Kak, geli ihh"
Darren merasa gemas pada istrinya ini, meski semalam dia sudah di buat menghela nafas berat saat istrinya yang membangunkannya tengah malam hanya untuk mencarikan mangga muda, tapi saat dia mendapatkannya. Istrinya malah sudah terelap. Tapi Darren tetap tidak marah pada Rista. Dia hanya heran saja dengan sikap istrinya yang berubah saat dia sedang mengandung.
"Sayang, maaf ya semalam aku malah ketiduran"
Darren tersenyum, dia kecup kening istrinya dengan lembut. "Gak papa, kamu pasti ngantuk karena kelamaan nunggu aku"
"Emm. Tapi kamu dapat mangan mudanya?"
Darren mengangguk "Aku mendapatkan dari seorang Kakek yang jualannya belum laku sepertinya. Jadin aku berikan dia uang lebih agar bisa pulang dengan membawa uang. Kasihan dia"
Rista tersenyum, tangannya mengelus pipi Darren. Rasanya Rista sangat bahagia saat suaminya telah benar-benar berubah dari Darren yang dulu. Bagaimana Darren yang dulu adalah seorang pria dingin yang tidak mempunyai hati nurani, menurut Rista. Dia bahkan rela menghalalkan berbagai cara hanya untuk bisa memisahkan Reina dan Elion. Semua yang Darren lakukan bukan atas dasar cinta, tapi karena dia terlalu terobsesi pada Reina.
"Nanti aku makan deh mangga mudanya ya"
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak, nanti siang saja makannya. Setelah kamu makan siang"
"Iya, lagian aku mau bikin bumbu rujak saja"
Darren mengecup bibir istrinya "Apalagi kalau pakai bumbu rujak, jangan terlalu pedas"
"Iya, iya"
Rista selalu malas saat suaminya yang selalu terlalu cemas pada kesehatannya. Apalagi dengan makanan apa yang Rista makan. Rista yang menyukai makanan pedas selalu di larang oleh Darren. Ya, memang alasannya untuk kesehatan Rista. Tapi tetap saja Rista selalu merasa kesal.
"Kamu ke kantor sekarang?" Rista bangun dan duduk di atas tempat tidur, Darren masih saja memeluk kakinya dan menempelkan bibirnya di paha Rista yang terbuka. Karena Rista hanya memakai gaun tidur yang transparan, pakaian tidur yang sangat di sukai oleh suaminya.
Kecupan-kecupan yang Darren berikan membuat Rista sedikit merinding. Darren menarik tali gaun tidur yang Rista pakai hingga gaun tidur transparan itu langsung terbuka dan menampilkan tubuh Rista yang selalu membuat Darren gemas.
Dan pada akhirnya pagi ini Darren terlambat berangkat ke kantor satu jam. Dia harus menyelesaikan urusannya di dalam kamar bersama istrinya.
Seolah berada dalam mimpi yang menjelma menjadi nyata. Malam Xien di jemput oleh Soni untuk makan malam. Makan malam sederhana yang ada di fikiran Xien, tapi saat sampai di tempat tujuan. Ternyata Soni membawanya ke sebuah restaurant berbintang.
Lebih terkejut lagi saat Soni membawanya ke sebuah ruangan VVIP yang sudah di hias dengan berbagai bunga dan lilin aromaterapi di sekeliling meja. Kelopak mawar berbentuk love mengelilingi meja itu.
Xien benar-benar tidak tahu tentang makan malam yang di rencanakan oleh Soni. Dia melirik pakaiannya yang tidak pantas untuk makan malam romantis seperti ini. Soni tidak mengomentari apa-apa tadi saat dia hanya memakai gaun biasa saja.
"Ish.. Kamu kok gak bilang kalau makan malamnya seperti ini"
Soni menoleh dan menatap bingung pada Xien. "Maksudnya?"
"Ya aku hanya pakai baju seperti ini, kan tidak cocok untuk acara makan malam seperti ini"
__ADS_1
Soni terkekeh, dia merangkul pinggang Xien dan menariknya agar semakin rapat dengannya. Soni mencium pipi Xien dengan lembut. "Kamu selalu cantik menggunakan pakaian apapun"
"Dih, gombal banget"
Xien berjalan ke arah meja dan duduk di salah satu kursi di depan meja bundar itu. Soni mengikutinya dengan tertawa kecil. Soni duduk di kursi yang bersebrangan dengan Xien. Dia menatap gadis itu dengan senyuman yang tidak pernah pudar.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang dengan menbawa makanan yang sudah Soni pesankan. Menatanya di atas meja. "Selamat menikmati Tuan dan Nona"
Xien mengangguk dan tersenyum ramah pada pelayan itu. "Terima kasih"
Setelah pelayan pergi, mereka mulai memakan makan malam itu. Aroma lilin aromaterapi membuat Xien merasa nyaman berada disini. Aroma bunga mawar juga begitu memanjakan penciumannya.
"Sayang, apa kau sudah siap menikah denganku?" Selesai makan malam, Soni memulai pembicaraan yang cukup serius dengan Xien. Soni harus membicarakan hal ini sekarang agar dia bisa lebih cepat menikahi Xien. Apalagi kehamilan gadis itu akan semakin membesar.
Xien terdiam, dia menatap Soni dengan lekat. Xien memang harus menentukan pilihannya saat ini, dia harus meyakikan keraguan di hatinya ini. Xien juga tidak bisa berfikir terlalu lama, karena perutnya sudah pasti akan cepat membesar.
Soni berdiri dar duduknya, dia megeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jas. Berlutut di depan Xien dengan membuka kotak cincin itu. "Xienar, maukah kau menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku selamanya dan menjadi Ibu dari anak-anakku"
Xien terdiam dengan air mata haru yang menetes begitu saja. Hari ini dia bisa yakin dengan keputusannya. Xien sudah siap untuk memutuskan untuk pilihan hidupnya.
Xien mengangguk dengan air mata yan menetes begitu saja di pipinya. "Aku mau Soni, aku mau menjadi istrimu dan pendamping hidupmu. Tapi, tolong jangan sakiti aku lagi"
Soni tersenyum, dia meraih tangan kiri Xien dan menyematkan cincin itu di jari manis milik Xien. "Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama"
Akhirnya mereka bisa saling memaafkan dan menerima kekurangan satu sama lain. Xien mulai mencoba untuk melupakan hal yang pernah terjadi di antara mereka.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5