RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Biarkan Aku Yang Mencintaimu


__ADS_3

"Kamu kenapa?"


Rista membuka baju kaos yang di pakai Darren. Ada bekas jahitan di perut bagian kirinya. Jelas itu bukan jahitan karena luka robekan atau apapun itu. Jahitannya rapi dan teratur, seolah sengaja di robek lalu di jahit lagi. Jahitan itu sama seperti bekas oprasi di perutnya. Teringat itu, Rista langsung mematung di tempatnya. Apa mungkin Darren yang telah mendonorkan ginjalnya? Dunia Rista seakan runtuh seketika, dia sudah menuduh pria itu dengan jahat. Menyangka jika Darren menghilang karena hanya ingin mempermainkannya.


"Kamu yang donorin ginjal kamu ke aku?"


Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Rista setelah beberapa saat dia hanya diam mematung. "Jawab Darren, apa kamu yang udah donorin ginjal kamu untukku?"


Darren tidak bisa lagi mengelak, Rista telah mengetahuinya. Percuma juga dia cari alasan yang mungkin malah membuat Rista semakin tidak percaya. Tanpa menjawab pun Rista sudah tahu dari diamnya Darre. Rista menangis dan memeluk Darren dengan erat.


"Maafkan aku Darren, aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku, karena aku tidak tahu tentang ini"


Darren mengelus punggung Rista yang bergetar hebat. Gadis itu benar-benar menumpahkan tangisnya di pelukan Darren. Tidak menyangka jika kisahnya akan menjadi seperti ini. Pria yang ingin sekali dia benci, adalah pria yang telah menyelamatkan nyawanya.


"Sudah, jangan menangis terus Sayang. Ini tidak sebanding dengan pengorbananmu selama ini. Membesarkan Duta seorang diri. Terimakasih karena sudah menerima Duta dalam hidupmu. Tidak berniat membencinya karena dia adalah darah dagingku. Pria yang telah menghancurkan hidupmu"


Hiks...Hiks..


Rista melerai pelukannya, dia menatap Darren dengan mata basahnya. "Maafkan aku, aku sudah salah menduga. Aku kira kamu yang menghilang karena kamu hanya ingin mempermainkan ku saja"


Darren tersenyum, dia mengusap air mata yang mengalir di pipi Rista. "Sudah jangan biarkan air mata ini terus mengalir. Sudah cukup dulu, aku yang membuatmu tersakiti dan selalu menangis"


"Bagaimana lukamu, ayo ke rumah sakit sekarang. Itu lukamu berdarah lagi"


Darren melihat luka bekas operasinya. Hanya terlihat bercak darah sedikit saja. Mungkin karena luka di dalamnya belum benar-benar kering. "Tidak perlu, ini hanya berdarah sedikit saja"

__ADS_1


"Gak bisa, ayo kita ke dokter. Pliss jangan membuat aku semakin merasa bersalah"


Tatapan memohon Rista akhirnya membuat Darren tak bisa menolak. Mereka pergi ke rumah sakit berdua. Toko dan Duta Rista titipkan pada Xien yang sebenarnya baru saja mendingan, karena sedang tidak enak badan beberapa hari ini. Tapi, Xien tahu jika ini adalah keadaan darurat.


Di perjalanan Rista terlihat khawatir pada keadaan Darren. Tatapannya di penuhi rasa bersalah karena dia juga luka bekas operasi Darren berdarah lagi. "Aku saja yang nyetir, kamu 'kan lagi sakit"


Darren terkekeh kecil, tangannya mengelus kepala Rista yang duduk di sampingnya. "Aku gak papa, cuma berdarah dikit saja. Padahal tidak perlu ke rumah sakit juga"


"Ishh. Gak boleh, kamu tetap harus di periksa oleh Dokter. Lagian itu juga gara-gara aku. Kalau aku tidak memukulmu tadi, mungkin kamu tidak akan terluka lagi" lirih Rista dengan wajah menunduk penuh rasa bersalah


"Justru aku senang karena kamu memukulku. Daripada kamu yang mendiamkan aku, lebih baik kamu memukul aku saja. Aku benar-benar frustasi saat kamu terus mendiamkan aku dan bersikap cuek padaku"


Rista menghembuskan nafas kasar, dia melakukan itu hanya untuk membangun benteng baru di hatinya agar tidak terjatuh lagi pada pesona orang yang sama. Pria yang telah menjadikan cintanya hancur. "Aku hanya takut hatiku kembali jatuh pada hatimu. Aku takut cintaku tidak akan terbalas lagi. Rasanya aku tidak ingin mengenal cinta lagi. Aku hanya ingin hidup seperti ini saja. Berdua dengan Duta tanpa harus pusing memikirkan perasaan yang lainnya seperti cinta"


"Maafkan aku Ris, tapi tolong jangan buat dirimu tersiksa seperti ini. Jangan hancurkan hidupmu dengan kesakitan masa lalu. Biarkan aku mencintaimu, tidak apa jika aku tidak mendapatkan balasan atas cinta itu. Biarkan aku yang mencintaimu sekarang ini. Tolong Ris, ini demi Duta dan masa depan anak itu"


Rista tidak bisa, dia takut untuk memulai lagi. Terakhir dia jatuh pada pria ini, maka hidupnya benar-benar jatuh pada kehancuran. Rista takut hatinya yang selama ini sedang dia berusaha untuk di tata kembali akan kembali hancur kembali.


"Ayo turun, kan mau periksa"


Rista menarik tangannya dari cengkraman tangan Darren, lalu dia segera turun dari mobil. Sementara Darren hanya terdiam melihat Rista yang keluar dari mobilnya. Gadis itu masih sangat takut untuk memulai. Wajar saja karena semua kekejamannya di masa lalu, sudah pasti akan membekas di hati Rista dan menjadi gadis itu menyimpan trauma yang sangat dalam.


"Baiklah Darren, kau hanya perlu berjuang lebih keras lagi dari ini"


Darren ikut turun dan menyusul Rista yang menunggunya di depan pintu masuk rumah sakit. "Ayo Ris"

__ADS_1


Rista mengangguk, dia menjauhkan tangannya saat merasakan tangan Darren yang ingin menggandengnya. Rista masih harus menyembukan hatinya dan meyakinkan dirinya sendiri jika dia telah siap mencintai lagi.


Dokter baru saja selesai memeriksa luka bekas operasi Darren. Memberikan antiseptik dan membalut luka itu dengan perban. "Lain kali hati-hati, jangan sampai seperti ini lagi. Untung saja tidak parah"


"Iya Dok" jawab Darren


Rista segera membantu Darren untuk turun dari ranjang pemeriksaan. Lalu mereka duduk di depan meja kerja dokter.


"Semuanya baik, tubuh anda baik-baik saja dengan satu ginjal. Tapi meski begitu, tetap harus di jaga kesehatannya dan jangan terlalu banyak bekerja yang berat-berat"


"Baik Dok"


Setelah dokter memberikan obat untuk Darren. Mereka pun langsung pamit pulang. Di perjalanan, Rista hanya diam memandang pada pemandangan di luar jendela mobil. Masih merasa tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia ketahui. Kenyataan yang benar-benar mengejutkan baginya. Bagaimana pria yang sangat ingin dia benci yang telah memberikan satu ginjalnya untuk menyelamatkan nyawanya.


Mobil sudah terparkir di depan rumah Rista. Namun bukannya turun, Rista malah terdiam dan kasih melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil. "Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa mendonorkan ginjalmu untukku. Padahal bisa saja itu akan membahayakan untuk tubuhmu dan kesehatan mu"


Darren menatap Rista yang sama sekali tidak merubah posisinya. Dia masih terus terfokus pada pemandangan di luar jendela yang sebenarnya tidak ada menariknya sama sekali.


"Karena aku tidak tega melihatmu kesakitan setiap kali melakukan cuci darah. Aku juga selalu melihat Duta yang pasti akan sangat kehilangan mu dan asal kamu tahu. Aku dan Duta tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Sosok malaikat dalam hidup kami. Aku sama sekali tidak memikirkan resiko apapun saat aku mendonorkan salah satu ginjalku padamu. Yang aku harapkan hanya kamu sembuh dan sehat kembali. itu saja"


Rista terdiam, dia tidak bisa lagi berkata-kata.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2