
"Jadi Kak Darren yang mendonorkan ginjalnya untuk Kakak?" tanya Xien setelah mendengar cerita dari Rista barusan.
Rista hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Terus bagaimana perasaan Kakak saat ini?"
Rista menghela nafas, perasaannya? Apa Rista masih mempunyai perasaan? Setelah hatinya hampir beku seluruhnya. "Hanya tidak percaya jika dia rela berkorban demi kesembuhanku"
"Kak..." Xien memegang bahu Rista, membuat gadis itu langsung menatap ke arahnya. "...Jangan terus terjebak dengan masa lalu. Berikan satu saja kesempatan untuk hati Kakak menerima lagi sosok yang sama. Jika hati Kakak juga menolaknya, maka baru Kakak bisa yakin jika hati Kakak sudah tidak punya perasaan apapun pada Kak Darren"
Perasaan cinta pada sosok yang sama? Apa aku bisa? Setelah rasa sakit yang aku dapatkan selama aku mencintainya.
"Firkirkan saja Kak, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan" Xien berlalu ke kamarnya setelah berkata seperti itu.
Sementara Rista masih diam di tempatnya, memikirkan setiap apa yang di ucapkan Xien barusan. Cintanya apa bisa dia buka kembali setelah lama dia kubur dalam-dalam di hatinya. Darren, sosok yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya dan yang membuat Rista tersakiti karena cinta. Sampai hampir tidak lagi percaya pada cinta.
Cinta? Benarkah hatiku masih memilikinya?
Rista menghela nafas dan beranjak dari duduknya menuju kamar. Duta sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Melihat wajah polos anaknya yang terlekap selalu membuat Rista merasa bersalah. Bagaimana dulu dia pernah tidak menginginkan kehadirannya. Tapi, saat ini Rista justru sangat bahagia bisa mempunyai Duta dalam hidupnya.
Rista mengelus kepala anaknya yang terlelap, lalu mengecupnya dengan lembut. "Maafkan Bunda Nak, karena Bunda belum bisa memberikan yang terbaik untukmu"
"Berikan Duta keluarga yang lengkap"
Sepenggal kalimat yang terus terngiang di telinga Rista. Rasanya memang apa yang di ucapkan Darren benar. Tapi, Rista masih merasa keraguan yang tinggi. Rista takut jika Darren hanya menginginkan anaknya saja. Bukan dengan dirinya.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Sebulan berlalu, namun semuanya masih sama. Tidak sedikit pun Darren bisa mendapatkan kembali kepercayaan Rista. Darren sudah hampir ingin menyerah, tapi melihat tatapan anaknya selalu menjadi semangat baru untuk Darren agar bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Duta.
"Ris, aku akan pulang ke kota. Saat ini boleh bawa Duta 'kan?"
Rista menghela nafas, untuk yang kedua kalinya Darren meminta izin untuk membawa Duta ke Ibu kota. Tapi, Rista masih berat untuk memberikan izin. Dia takut jika Duta akan betah disana dan akan meninggalkannya. Lalu, Rista akan bersama siapa?
__ADS_1
"Kalau kamu takut aku membawa Duta pergi meninggalkanmu, lebih baik kamu ikut saja ke kota" kata Darren saat pria itu terus melihat keraguan di balik sorot mata istrinya.
"Tidak bisa, aku harus jaga toko"
"Yaudah kalau begitu, biarkan Duta saja sendiri yang ikut"
"Tidak bisa juag"
Darren menghela nafas berat "Lalu mau kamu bagaimana Ris?"
Entahlah.. Rista juga tidak tahu apa maunya. Saat ini dia hanya takut kehilangan Duta. "Baiklah aku akan ikut kamu ke kota. Tapi apa kita tidak akan bertemu dengan orang tuamu?"
"Tentu akan bertemu, aku masih tinggal bersama mereka"
Rista menatap Darren dengan bingung dan gelisah. "Tapi aku tidak siap bertemu dengan orang tuamu. Lagian mereka juga pasti akan sangat terkejut saat mengetahui dirimu yang ternyata sudah mempunyai anak sebesar Duta"
Darren meraih tangan Rista dan menatapnya dengan lekat. "Tidak perlu takut, aku akan selalu bersamamu. Mau cepat atau lambat, mereka pasti tahu"
"Tenanglah, aku akan menjamin jika mereka tidak akan marah atau apapun yang ada di fikiranmu itu. Aku yakin mereka akan menerima kehadiran Duta dan kamu"
Rista menggeleng pelan "Cukup mereka menerima kehadiran Duta saja. Tidak perlu denganku"
"Kenapa?" Tentu Darren sangat bingung dengan ucapan Rista barusan.
"Ya, karena hanya Duta yang berhak mendapat pengakuan dari keluargamu"
Darren semakin di buat bingung dengan Rista. Gadis ini terlalu banyak teka-teki hanya untuk menutupi perasaannya. "Lalu kamu? Aku ingin kamu juga di akui oleh mereka"
"Di akui sebagai apa? Pemuas naf*sumu, atau gadis bodoh yang di manfaatkan olehmu?"
Ternyata puluhan kata maaf yang terucap dari bibir Darren tidak bisa membuat Rista sejenak saja lupa dengan masa lalunya. Darren tahu jika itu sangat menyakitkan. Tapi apa Rista tidak melihat sedikit pun kesungguhannya. Darren benar-benar menyesal dengan semua yang pernah dia lakukan di masa lalu. Cintanya baru dia sadari setelah Rista pergi. Seolah hatinya hanya tertutup obsesi semata, sampai tidak menyadari jika dirinya telah memiliki cinta di hatinya untuk Rista. Namun saat wanita yang dia permainkan pergi, barulah Darren merasakan jika Rista sangat berharga untuknya dan hidupnya.
"Akan ku perkenalkan kamu sebagai calon istriku!"
__ADS_1
Hah?!...
Rista terbelalak kaget dengan ucapan Darren. Tidak.. Dia tidak pernah menerima tawaran Darren untuk menikah dan memberikan keluarga yang utuh untuk Duta. Rista tidak merasa melakukannya. Tapi kenapa saat ini Darren malah mengklaim dirinya sebagai calon istri. Padahal Rista sama sekali belum menyetujui keinginan Darren yang itu.
"Maaf, tapi aku belum menyetujuinya. Kenapa kau sudah mengklaim diriku sebagai calon istrimu?"
"Aku tidak peduli, mau itu sekarang atau 10 tahun kemudian pun aku hanya akan menikah denganmu"
Rista menggeleng heran dengan Darren, kenapa dia menjadi sangat memaksa. Memangnya apa yang ada di diri Rista yang menurutnya sepesial. Hanya karena kelahiran Duta saja. Selebihnya tidak ada yang bisa di banggakan dalam dirinya.
"Terserah kamulah, aku sudah benar-benar tidak habis fikir denganmu yang memaksa sekali"
"Jika dulu kamu yang mengejarku, maka saat ini biarkan aku memperjuangkanmu"
Ada debaran aneh dalam diri Rista saat mendengar ucapan Darren. Memperjuangkannya? Benarkah? Rasanya Rista tidak percaya jika Darren akan memperjuangkannya, di saat dulu saja dia tidak sama sekali melihat perjuangannya.
Darren beranjak dari duduknya, dia mengelus kepala Rista yang masih terdiam di tempatnya. "Baiklah, besok bersiap. Kita berangkat pagi-pagi"
Rista hanya diam dan menatap kepergian Darren keluar dari pintu dapur. Rasanya dia benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini, selain ikut pergi ke kota untuk menemui orang tua Darren. Rista tidak mungkin membiarkan Duta berangkat sendiri bersama Ayahnya untuk ikut ke kota. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk Duta pergi ke Ibu kota. Tempat dimana kisah Ibunya dan Ayahnya di mulai.
"Baiklah, hanya menemani Duta. Setelah itu langsung kembali lagi kesini dan tidak perlu datang lagi kesana"
Rista bangun dan mulai melanjutkan kegiatannya. Menghias kue dengan krim. Mengisi isian donat dengan beberapa rasa berneda sebelum di pajang di rak berkaca di tokonya.
"Kak, maaf lama" Xien yang Rista suruh membeli bahan kue untuk besok karena semua persediaan bahan sudah habis.
"Gak papa, Xie besok kayaknya aku harus ikut ke kota. Darren memaksa untuk membawa Duta, aku tidak mungkin membiarkan Duta pergi hanya dengan Papanya saja"
"Yaudah Kak gak papa, masalah toko biar aku saja yang urus"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1