
"Sudahlah, kamu jangan terlalu berfikiran terlalu jauh. Tidak mungkin juga Xien sampai melakukan itu" Darren memperingati istrinya yang terus berfikiran negatif tentang Xien yang baru saja putus dengan kekasihnya karena dia tahu jika pacarnya itu tidak pernah mencintainya selama ini.
"Tapi Kak, kalau misalkan Xien gak setegar itu bagaimana? Kasihan dia jika harus menjalani hidup seperti ini. Soni memang benar-benar pria berengsek ya, hanya berpura-pura mencintai Xien karena permintaan orang tuanya. Dia tidak tahu jika apa yang dia lakukan adalah sebuah musibah yang akan membuat wanita mana pun terluka. Dia pasti akan menyesali semuanya"
Darren hanya diam, bukan dia befmasuksu mengabaikan istrinya. Tapi karena dia yang merasa jika apa yang Rista katakan juga tertuju padanya. Dulu, pada awal Rista masuk dalam perangkapnya juga dengan cara yang sama. Darren berpura-pura mencintainya hingga Rista percaya dan mau melakukan apa yang dia katakan. Padahal kenyataannya, Darren hanya memanfaatkan cinta bodohnya itu. Tapi sekarang Darren bersyukur karena dia bisa bersama kembali dengan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya ini. Semua kesalahan di masa lalu, akan Darren tebus dengan memberikan kebahagian pada Rista dan Duta.
Rista menoleh dan menatap suaminya yang dari tadi hanya diam saja. Rista langsung menaikan kedua kakinya dan memeluk suaminya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. "Kenapa Sayang?"
Darren menggeleng pelan, dia mencium puncak kepala Istrinya dan mengeratkan pelukannya. "Tidak papa, aku hanya mengantuk saja"
Rista mengangguk saja, dia memeluk suaminya dengan nyaman hingga elusan lembut tangan suaminya di punggungnya membuat Rista terlelap dalam pelukannya. Selalu merasa bahagia saat Darren mengingat keberuntungan dalam hidupnya ini, bisa kembali bersama wanita yang telah dia hancurkan masa depan dan hidupnya.
Kau adalah wanita terhebat dalam hidupku, malaikan tak bersayap yang memberikan kebahagiaan dan warna dalam kehidupanku.
Saat ini Darren hanya berharap bisa terus hidup berama istri dan anaknya. Memberikan mereka kebahagiaan yang setimpal dengan segala pengorbanan yang telah Rista lakukan selama ini.
Pagi ini seorang pelayan mengetuk kamar Rista, bahkan tidak biasanya dia menemui Rista dan Darren di kamar sepagi ini.
"Ada apa ya Mbak?"
"Emm. Nona, maaf mengganggu waktunya. Itu ada tamu yang maksa sekali ingin bertemu dengan Nona"
Rista mengerutkan keningnya bingung, seorang tamu yang datang di pagi hari. Rista tidak merasa jika dia mempunyai janji dengan seseorang pagi ini. Tapi siapa yang datang dan ingin bertemu dengannya sepagi ini?
"Yasudah aku ke bawah sekarang, mau bangunin suami aku dulu. Makasih ya Mbak"
"Iya Nona, kalau begitu saya permisi"
__ADS_1
Sebenarnya Rista bukan mau membangunkan Darren, dia hanya ingin bicara dulu pada suaminya. Takutnya kedatangan tamu tak di undang itu akan membuat kesalah fahaman diantara mereka.
"Siapa Sayang?" tanya Darren yang baru bangun dari tidurnya, dia sempat mendengar pembicaraan Rista dengan seseorang di depan pintu kamar tadi.
"Mbak pelayan, katanya ada seseorang di bawah sana yang ingin menemuiku. Aku juga tidak tahu siapa, tapi katanya dia maksa sekali ingin bertemu denganku"
"Yaudah temui saja, aku mau mandi dulu. Tapi jika tamunya laki-laki, jaga jarak dengannya. Mengerti!"
"Iya iya, lagian aku mau melakukan apa jika tamunya laki-laki. Lagian siapa coba yang mau menemuiku pagi-pagi begini, aku tidak merasa mempunyai teman dekat laki-laki. Semua sahabatku perempuan semua"
Darren tersenyum, memang istrinya sangat bisa menjaga hati. Dia tidak pernah melakukan hal yang membuat Darren mempertanyakan kesetiaannya. Rista selalu menunjukan setianya dan rasa sayangnya pada Darren.
Darren mencium kening istrinya sebelum dia pergi ke kamar mandi. Rista tersenyum, dia berbalik dan berjalan ke arah pintu kamar.
Rista sedikit ragu untuk menemui tamu yang ingin bertemu dengannya itu. Punggung pria itu duduk di sofa, Rista menuruni anak tangga dengan ragu. Punggung pria itu seperti tidak asing baginya.
"Maaf siapa ya?"
"Tunggu dulu Ta, aku kesini hanya ingin menanyakan soal Xien"
"Lepas!" Rista menatap tajam tangan Soni yang memegang tangannya.
Soni langsung melepaskan cekalan tangannya di lengan Rista. "Oke maaf, aku hanya ingin mengetahui dimana Xien saat ini"
Rista bersidekap dada, dia menatap Soni dengan tatapan mengejeknya. "Ngapain cari Xien? Dia udah bahagia dengan hidupnya sendiri saat ini. Jadi, jangan cari-cari dia lagi. Cukup sekali kamu membuatnya terluka, jangan lagi ada yang kedua dan ketiga"
"Aku benar-benar menyesali semuanya saat ini. Tolong aku Ta, bantu aku untuk bisa menemukan Xien. Beritahu aku dimana dia berada"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dan kalaupun aku tahu aku tidak akan memberi tahumu. Dan seharusnya kau tahu dimana dia biasanya berada. Kalian pacaran tidak sebentar, tidak mungkin kau tidak tahu dimana Xien biasanya berada..." Rista terkekeh sebentar, dia sedikit menertawakan apa yang dia ucapkan sendiri. "...Ohh, aku lupa jika kau memang tidak pernah peduli padanya"
Soni menunduk, entah kenapa ucapan Rista benar-benar menusuk ulu hatinya. Selama ini dia tidak pernah mengetahui apa-apa tentang Xien, bahkan dia tidak pernah mengetahui tempat yang sering Xien kunjungi. Bahkan sekarang saja, dia tidak tahu dimana gadis itu berada.
"Rista, tolong beri tahu aku dimana dia? Aku benar-benar menyesali semuanya"
"Penyesalan memang selalu datang di akhir, jadi jangan membuat penyesalan itu pernah ada dalam hidupmu. Tapi sayangnya, kau sudah melakukan itu. Xien tidak akan pernah mau kembali padamu, dia sudah sangat terluka. Semua ketulusannya hanya kau balas dengan luka"
Semua itu benar, Xien memang sangat tulus mencintainya. Tapi dirinya malah membalas semua ketulusan itu dengan sebuah luka yang mendalam di hatinya.
"Rista aku mohon, beritahu aku dimana Xien berada sekarang?"
"Tidak, kau lebih baik pergi saja"
Rista berbalik dan kembali ke kamarnya, mengabaikan suara Soni yang terus memanggilnya. Rista juga takut jika suaminya akan melihat Soni saat ini, maka dia akan sangat murka. Meski dia sudah tahu jika Rista tidak mungkin berpaling daringa, tapi ketika melihat langsung wajah Soni, Darren tetap merasa tidak suka dan marah. Apalagi jika mengingat hal apa yang pernah di lakukan pria itu untuk merebut Rista darinya.
"Sayang, siapa yang datang? Kok kamu tidak lama" Darren baru saja keluar dari ruang ganti, dia sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Hanya orang salah alamat" Rista mengambil dasi di tangan Darren, dia memasangkannya di leher suaminya itu.
"Orang salah alamat kok bisa tahu namamu? Kau tidak sedang berbohong padaku 'kan? Sayang, aku akan sangat marah jika kau berbohong padaku"
Rista menghela nafas, tentu suaminya tidak akan percaya. Jelas tadi ada seorang pelayan yang datang ke kamarnya dan bilang jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Soni, dia datang untuk menanyakan keberadaan Xien. Menyesal mungkin dengan apa yang dia lakukan pada Xien"
Darren sebenarnya marah saat mendengar nama pria itu di sebut oleh bibir istrinya. Tapi dia berusaha untuk mengerti keadaan ini, karena ini juga bukan keinginan Rista. Jadi, Darren mencium kening istrinya saja untuk meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5