
Rista memutar bola mata malas saat pria yang sama kembali mendekatinya di saat Rista menunggu suaminya membeli minum dan cemilan. Rista duduk di sebuah bangku di bawah pohon, dan tiba-tiba Soni kembali hadir dan duduk di sampingnya.
"Mau apasi terus temui aku, apa gak kapok sama kejadian kemarin. Suamiku tidak suka kalau kamu dekati aku" Sentak Rista kesal, dia berdiri dan menatap Soni yang masih tenang duduk di bangku itu.
"Memangnya kenapa? Aku suka padamu, dan aku selalu memperjuangkan cintaku"
Rista semakin bingung dengan kelakuan pria ini. "Kamu boleh perjuangkan cintamu, tapi tidak pada istri orang. Ayolah, kau ini tampan, kenapa malah mengganggu istri orang. Kau bisa menemukan wanita lain yang bisa menerima mu dan yang terpenting masih sendiri"
Soni menoleh dan menatap Rista dengan tatapan yang sulit di artikan. "Ini yang aku tidak temukan dari wanita lain"
Rista mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Soni. "Maksudnya?"
Soni berdiri, dia menatap Rista dengan lekat membuat gadis itu menjadi semakin bingung. "Aku tidak menemukan wanita setia sepertimu. Jadi aku ingin memilikimu bagaimana pun caranya"
Soni pergi setelah mengatakan itu. Rista hanya menatapnya dengan bingung dan menggelengkan kepalanya. Heran sendiri dengan pria seperti Soni. Sudah tahu Rista memiliki suami, kenapa dia masih kekeuh ingin mendapatkannya. Semuanya akan menjadi masalah saja. Untung saja suaminya agak lama, jadi pas Darren datang Rista sudah seorang diri karena Soni sudah pergi. Jika saja Darren kembali melihat Soni datang menemuinya, sudah pasti akan menjadi huru hara yang besar.
"Sayang, kita berapa hari lagi disini?" tanya Rista yang sedang memakan cemilan yang di bawakan oleh suaminya. Sebenarnya Rista sangat senang berada di pulau ini, tapi sejak ucapan Soni tadi Rista menjadi takut dan tidak mau menciptakan masalah dalam pernikahannya dengan Darren. Jadi jika suaminya mengajaknya pulang lebih cepat, Rista tidak akan menolak.
"Terserah kamu, kalau kamu masih betah tidak papa kalau kita tinggal lebih lama disini"
Sudah Rista duga, pasti suaminya akan menyerahkan keputusan padanya. Jadi Rista yang harus memilih keputusan kali ini. "Emm. Sebaiknya kita segera pulang saja, aku kangen sama Duta. Sudah cukup lama kita meninggalkan anak itu"
Darren mengelus kepala istrinya dan menciumnya. "Baiklah, kalau begitu kita pulang lusa pagi"
Rista tersenyum dan mengangguk, lebih cepat lebih baik karena Rista tidak mau kehadiran Soni akan membuat rumah tangganya yang baru seumur jagung ini akan menjadi mendapat permasalahan yang besar.
"Pulang yuk Kak, dingin juga kena angin laut"
Darren mengangguk, dia langsung menggandeng istrinya dan membawanya kembali ke villa mereka.
__ADS_1
Selesai mandi dan makan siang, Rista dan Darren hanya menghabiskan waktu di dalam kamar dengan saling berpelukan dan membaca buku. Rista memang gemar membaca cerita fiksi, namun dia tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan kesenangannya itu semenjak harus bekerja keras untuknya dan anaknya. Mengingat itu, Rista jadi ingat tentang toko kuenya. Apa Xien dan Seril baik-baik saja tanpa dirinya.
"Kak, bagaimana dengan toko kue aku ya? Apa Xien dan Seril baik-baik saja disana, mengurus toko tanpa aku?"
Darren mengelus kepala istrinya dan mencium puncak kepalanya. "Semuanya baik, aku sudah memastikan itu. Mereka sangat pandai dalam bidang ini, jadi kamu tenang saja. Toko kue kamu dan Reina tetap akan berjalan meski kalian sudah tidak tinggal disana"
Rista percaya akan itu, memang suaminya dan suami Reina tidak mungkin mencarikan pekerja yang tidak profesional dalam bidangnya ini. Terbukti dengan kelihaian Xien dan Seril dalam membuat kue dan roti. Bahkan mereka banyak mengeluarkan rasa dan tampilan baru yang membuat para pelanggan semakin tertarik.
"Sayang, apa aku tidak bisa kerja lagi? Aku kangen loh sama teman-teman kerja dulu. Apa mereka masih bekerja di perusahaan kamu?"
Rista mengenang masa-masa dirinya bekerja di perusahaan Darren. Bagaimana Rista menjadi teman kerja yang menyenangkan untuk semua orang. Bahkan Rista yang terus mengejar Darren, pasti selalu mendapat dukungan dari teman-temannya. Ya, sebaik itu Rista hingga memiliki banyak teman yang peduli padanya.
"Masih ada yang kerja, ada juga yang sudah resign karena menikah atau yang hamil"
"Wah udah banyak perubahan banget ya, mereka nikah aku gak tahu. Udah lama juga aku ninggalin kota"
Rista mengangguk, dia mengeratkan pelukannya pada suaminya dan menyudahi sesi bacanya. Memang sudah saatnya Rista memulai kembali kisahnya di kota asal tempat tinggalnya.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Rista keluar dari kamarnya setelah mandi, suaminya memang benar-benar melakukan bulan madu seperti yang dia inginkan. Bahkan di siang hari sampai sore mereka habiskan di kamar, hanya untuk melakukan bulan madu sesuai keinginannya. Bahkan Rista sudah mandi tiga kali hari ini.
"Sayang, honeymoon kita akan segera berakhir. Jadi harus kita manfaatkan dengan baik waktu kita yang punya selama disini"
Begitulah jawaban suaminya saat Rista mulai protes. Akhirnya dia tidak melakukan perlawan apapun dan menikmatinya juga. Sampai sore ini Rista baru terbangun, dia merasa perutnya yang lapar. Membuka lemari es dan mencari makanan yang bisa langsung dia makan tanpa harus dia olah. Akhirnya Rista mengambil satu buah apel merah dan memakannya di meja makan.
"Sayang.."
Suara teriakan suaminya yang baru keluar dari kamar setelah selesai mandi membuat Rista menoleh ke arahnya. "Disini Sayang"
__ADS_1
Darren berjalan ke arah istrinya yang duduk di kursi meja makan. Mencium kening istrinya lalu membawa minuman dingin dari lemari es, ikut duduk bersama istrinya dan meminum minumannya.
"Ada bahan makanan, aku masak ya buat makan malam. Selama disini kita kebanyakan pesan goofood deh. Padahal ada bahan makanan juga di kulkas"
"Iya terserah kamu kalau kamu gak capek, tadinya aku takut kamu capek jadi kita pesan makanan saja"
"Capek apaan, lebih capek pas di toko kue. Tapi capek banget si..." Rista melirik suaminya, dan Darren tahu apa maksud istrinya. Dia hanya tertawa saja.
"Iya Sayang, kan ini bulan madu kita jadi harus kita nikmati"
Rista hanya memutar bola mata malas mendengarnya. Selalu saja alasan itu yang di gunakan suaminya. Rista berdiri dari duduknya saat mendengar suara bell pintu.
"Ada tamu Kak, apa kamu pesan makanan lagi?" Karena biasanya hanya kurir makanan yang datang atau petugas kebersihan villa ini. Tapi, petugas kebersihan hanya datang di pagi hari saja.
"Tidak, aku belum pesan makanan apapun. Apalagi kamu mau masak 'kan sekarang"
"Terus siapa dong yang datang"
Rista berjalan ke arah pintu, membuka pintu namun tidak melihat siapapun disana. Tapi Rista melihat sebuah kotak di depan kakinya berdiri. Dia melihat ke sekelilingnya, tapi tidak ada siapapun disana. Akhirnya dia mengambil kotak itu dan membawanya ke dalam villa.
"Apaan itu Sayang?"
"Gak tau Kak, ada di depan pintu"
Rista membuka kotak itu dan melihat isinya dengan bingung. Sebuah boneka berwarna pink yang sangat lucu dengan bentuk love yang di peluk boneka itu. Ada sebuah surat di bawah boneka itu. Rista mengambilnya dan membacanya.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1