
Waktu berlalu dengan cepat, usia kandungan Rista sudah menginjak 8 bulan. Semuanya masih sama dan terasa menyenangkan. Rista menikmati masa kehamilannya ini. Setiap hal dia rasakan dengan kebahagiaan, karena kehamilan saat ini dirinya tidak seorang diri. Ada seorang suami yang selalu setia mendampinginya.
Pagi ini, Rista duduk di sebuah ayunan di taman. Berjemur di bawah sinar matahari pagi dengan tangan yang terus mengelus perut buncitnya. Tendangan dari dalam sana membuat Rista tersenyum, anaknya sangat aktif hingga terkadang Rista sedikit merasa sakit saat tendangan itu terasa sangat kencang.
"Semuanya sudah berlalu Nak, Bunda rasa kamu juga ikut bahagia ketika mendengar cerita Bunda setiap harinya"
Rista selalu bercerita banyak hal pada anak dalam kandungannya ini. Bahkan tentang kisah hidupnya selama ini. Rista menginginkan jika anaknya tahu tentang kisah hidupnya. Meski bayi di dalam perutnya mungkin tidak akan mengerti apa-apa, tapi dia pasti bisa merasakan apa yang Ibunya rasakan.
"Kamu baik-baik ya di perut Bunda sampai waktunya tiba, kita akan segera bertemu"
Rasanya Rista sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bayinya. Cinta dalam luka yang dia rasakan adalah sebuah takdir yang kini telah membawanya pada kebahagiaan. Bersama suami dan anaknya.
"Sayang.."
Teriakan suaminya membuat Rista menoleh. Darren berjalan ke arahnya dan mencium puncak kepala Istrinya itu. "Ayo masuk, kita sarapan"
Rista mengangguk, dia berdiri dengan di bantu oleh suaminya. Perut yang buncit itu membuat geraknya sedikit terbatas. Rista dan Darren berjalan menuju rumah.
"Duta sudah siap?"
Darren mengangguk, anaknya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Satu bulan yang lalu, Duta telah mulai masuk sekolah. Dan sejak Duta sekolah, Rista benar-benar merasa jika anaknya semakin besar.
Bahkan Duta tidak lagi mau di pakaikan baju olehnya, karena apa? Bukan karena dirinya yang sudah mandiri dan bisa memakai baju sendiri. Tapi, sejak mereka pindah ke rumah ini. Maka Duta di kuasai oleh Neneknya. Duta selalu bersama Mami Alena, bahkan tidur pun terkadang lebih sering bersama Neneknya daripada tidur sendiri di kamar yang sudah di siapkan untuknya bersama seorang pelayan yang sudah di pindah tugaskan menjadi pengasuh Duta.
Saat sampai di ruang makan, semua anggota keluarga telah berkumpul termasuk Duta. Anak itu sudah mulai menyantap roti selai nanas yang di buatkan oleh Neneknya.
"Ris, ayok sarapan. Semakin besar kandungan kamu. Maka kamu juga harus lebih banyak makan, biar bayi kamu terpenuhi nutrisinya" kata Mami Alena yang langsung mengambilkan makanan untuk menantu kesayangannya.
__ADS_1
Suasana seperti ini sudah menjadi rutinitas rutin bagi Rista. Kehangatan keluarga yang dia rasakan. Apalagi Ibunya dan Rindi juga sering mengunjunginya. Rista benar-benar merasa dirinya sudah benar-benar bahagia saat ini. Memiliki keluarga yang menyayanginya dan suami yang juga selalu siap siaga untuk menjaganya.
Selesai sarapan, Duta langsung berpamitan pada Ibu, juga Nenek dan Kakeknya. Darren menuntun anak itu keluar rumah, dia akan mengantarkan anaknya ke sekolah pagi ini, karena Darren sudah mulai tidak masuk kantor sejak usia kandungan istrinya menginjak 8 bulan. Darren ingin selalu berada di samping istrinya selama menunggu waktu kelahiran tiba. Dia hanya bekerja dari rumah saja selama ini.
"Sayang, tunggu!"
Darren menghentikan gerakannya yang baru saja ingin membuka pintu mobil untuknya. Duta sudah berada di dalam mobil, Darren menoleh dan menatap istrinya yang setengah berlari ke arahnya.
"Sayang, pelan-pelan jalannya. Kamu itu sedang hamil besar" peringatan Darren pada istrinya
Rista tersenyum tipis, dia memelankan langkah kakinya. "Aku mau titip"
Darren menggeleng pelan dengan tersenyum tipis padanya. Sudah hampir setiap hari, Rista selalu titip makanan yang dia inginkan. Memang sejak dia hamil, nafsu makannya bertambah. Membuat pipinya semakin terlihat chubby.
"Mau titip apa?"
"Pengen asinan yang di depan mini market depan sana"
Rista mengangguk, dia meraih tangan suaminya dan menciumnya. "Hati-hati ya"
"Iya Sayang" Darren mencium kening istrinya sebelum dia masuk ke dalam mobil.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
Satu bulan berlalu begitu cepat, tak terasa bagi Rista saat sekarang dirinya sudah berada di ruang perawatan untuk menunggu pembukaan full. Rista sudah merasakan kontraksi sejak pagi buta. Dia dan suaminya segera menuju rumah sakit.
Darren sudah gelisah dari tadi, berjalan kesana kemari di dalam ruangan itu. Dia benar-benar takut dan cemas dengan keadaan istrinya ini. Takut jika Rista akan kenapa-napa saat melahirkan nanti. Ini adalah sebuah pengalaman pertama baginya. Tentu saja dia sangat cemas saat melihat istrinya yang kesakitan seperti itu.
__ADS_1
Berebeda dengan Darren, Rista lebih tenang. Karena ini bukan yang pertama baginya. Meski sakitnya sama, namun dia bisa lebih mengatur nafasnya agar rasa sakit sedikit berkurang.
"Kak, sudah dong jangan mondar mandir terus. Aku pusing lihatnya"
Darren menghampiri Rista yang duduk di atas tempat tidur. Sesekali wanita itu meringis kesakitan. Membuat Darren semakin tidak tega saja. Darren duduk di pinggir tempat tidur, menatap istrinya dengan tatapan sendu.
"Sayang, maafkan aku karena tidak menemani kamu saat dulu kamu melahirkan Duta"
Rista tersenyum "Tidak papa, semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang kamu berada disini untuk menemaniku"
Rista mulai merasakan kontraksi yang sebenarnya. Pada akhirnya pertahanannya runtuh juga, Rista meneteskan air matanya saat rasa sakit yang semakin kuat. Darren semakin panik di buatnya, dia terus menggenggam tangan Rista untuk sekedar memberinya kekuatan.
"Sayang, kamu pasti kuat. Atau kita ambil jalur operasi saja"
Rista langsung menatap suaminya. "Kak, aku sudah kontraksi dan aku bisa melahirkan normal. Kenapa harus operasi, semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya tinggal menunggu waktunya saja"
"Tapi kamu sudah kesakitan seperti ini" lirih Darren, dia menyatukan keningnya dengan kening Rista. Rasanya Darren tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan untuk berjuang melahirkan anak mereka.
"Kamu cukup berada di sampingku dan memberikan aku kekuatan. Semua itu sudah cukup Kak"
Darren mengangguk dengan lelehan air mata yang benar-benar tidak bisa di tahannya. Dia benar-benar tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat bagaimana penderitaan sang istri saat melahirkan anaknya.
Maafkan Papa Duta, Papa memang bukan Ayah yang baik untuk Duta. Saat Bunda melahirkan kamu, bahkan Papa tidak ada di sampingnya. Bunda melawan sakitnya seorang diri. Maafkan aku ya Tuhan.
Mungkin hanya Darren yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Mengingat masa lalu yang membuatnya semakin sakit karena penyesalan yang ada.
Bersambung
__ADS_1
Satu bab lagi end..
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5