RISTA (Cinta Dalam Luka)

RISTA (Cinta Dalam Luka)
Surat Sumber Permasalahan


__ADS_3

Semoga suka ya, aku akan tetap menanti jandamu.


By : Soni


Kertas itu jatuh ke atas lantai, Darren yang melihat ekspresi terkejut istrinya langsung berdiri dan mengambil kertas kecil itu. Rahangnya mengeras membaca surat itu. Dia mere*mas kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah. Dia benar-benar emosi melihat surat itu.


Rista yang melihat tangan suaminya mengepal erat, dia langsung menggenggamnya dengan lembut. "Sayang, tenang ya"


"Buang boneka itu!"


Rista mengelus dada Darren yang naik turun menahan emosi. "Iya, iya aku akan membuangnya"


Rista mengambil boneka itu dan melemparnya ke sembarang arah. Meski sebenarnya sayang juga boneka selucu itu harus di buang begitu saja. Padahal dia tidak salah apa-apa. Rista memeluk suaminya, dia ingin menenangkan suaminya yang masih menahan emosi.


"Udah ya, yang penting aku sudah jadi milikmu"


Darren masih sangat kesal, bahkan tangannya masih mengepal di kedua sisi tubuhnya. Bahkan Darren tidak membalas pelukan istrinya. Emosi di dadanya masih belum terkendali. Dia takut, jika istrinya bisa saja tergoda oleh pria lain yang jelas lebih baik darinya. Mengingat masa lalunya yang menyakitkan bagi Rista, tentu ada ketakutan yang besar dalam diri Darren. Apalagi setelah melihat ada seorang pria yang terang-terangan mendekati Rista, padahal dia tahu jika dia telah menjadi istri orang.


"Aku tidak suka pria siapapun yang dekat denganmu"


"Iya iya, aku tidak akan dekat dengan siapapun. Tapi aku juga tidak bisa mencegah untuk orang lain mempunyai perasaan padaku. Meski aku sudah menghindar. Jadi, kamu percaya saja sama aku. Kalau di hatiku hanya ada kamu"


Darren menghembuskan nafas, dia mencium puncak kepala Rista dan mulai membalas pelukan istrinya. Rista tersenyum saat merasaken elusan tangan suaminya di kepalanya.


"Sudah ya, aku juga tidak suka pada Soni. Mungkin pria itu hanya penasaran saja denganku"


"Sudah, jangan membahasnya lagi"


"Iya iya Sayang"

__ADS_1


Rista hanya perlu mengalah saat ini, biarkan suaminya meluapkan kekesalannya. Rista juga tidak tahu kenapa Soni sampai melakukan hal ini padanya. Dia ini kenapa si. Hanya ingin mengganggu rumah tanggaku saja.


Hingga malam hari Darren masi menggerutu kesal dengan surat yang di terima oleh Rista. Bahkan saat makan malam pun dia masih saja memaki pria itu dengan kesal. Rista hanya menggeleng pelan, suaminya memang bisa langsung berubah menjadi singa ganas saat tahu apa yang menjadi miliknya di ganggu. Apalagi ini adalah istrinya sendiri.


"Lihat saja kalau aku sampai bertemu dengannya. Aku akan benar-benar menghabisinya"


Rista duduk di pinggir tempat tidur, memijat kaki suaminya dengan lembut. "Sudahlah jangan terus membahasnya. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa sampai seperti itu"


"Itu karena kamu yang terlalu baik"


Rista tidak suka dengan ucapan Darren, apanya yang terlalu baik. Dia merasa jika sikapnya biasa saja. "Terlalu baik gimana sih, aku merasa biasa saja deh"


"Sini" Darren menepuk ruang kosong di sampingnya, Rista segera naik dan memeluk suaminya itu. "...Kamu itu terlalu menarik untuk pria di luaran sana. Jadi pasti banyak pria yang menyukaimu. Itu yang membuat aku kesal"


Rista hanya diam, dia mengelus dada suaminya yang masih saja kesal dengan kejadian tadi sore. Suaminya memang sangat posesif, tapi Rista senang karena dengan ini dirinya merasa sangat dicintai.


Darren memutar bola mata malas, sudah sering Rista menggodanya dengan pertanyaan seperti itu. "Kalau gak cinta gak akan aku kejar sama ke luar kota. Sampai memohon dan menangis hanya untuk mendapatkan kamu"


"Ciyee... sekarang cinta ya sama aku, dulu aja sok-sok'an nolak aku" Rista terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Emm. Mulai deh"


Darren mencium pipi istrinya dengan gemas, istrinya ini memang pandai sekali membuat hatinya lebih baik di saat seperti ini. Tidak salah dia memilih seorang istri, pantas saja banyak pria yang menginginkan Rista, contohnya seperti Soni. Melihat sikap istrinya ini, pria mana yang tidak akan jatuh cinta pada wanita yang selalu menggemaskan dan bisa sesabar ini.


"Udah dong Kak, geli" Rista tidak hentinya tertawa saat Darren terus menciumi wajahnya, sedikit menggesekan hidungnya di wajah Rista, membuat gadis itu tertawa geli.


"Gemesin banget si istri aku ini"


Rista hanya terkekeh melihat wajah gemas suaminya. "Emang aku ini sangat menggemaskan, kamu aja yang baru sadar"

__ADS_1


Darren hanya tersenyum, memang dia yang bodoh karena tidak bersyukur bisa dicintai gadis seperti Rista, dulu. Darren terlalu terobsesi pada Reina sampai tidak sadar jika ada wanita yang mencintainya dengan tulus. Mengingat itu, Darren hanya memeluk Rista dengan erat. Mencium keningnya dengan lama. Rasa penyesalannya selalu ada setiap dia mengingat apa yang dia lakuakan pada istrinya dulu.


"Semuanya akan indah Kak, asalkan kita sabar. Jadi, jangan terus menyesali apa yang telah berlalu. Tolong jadikan itu sebagai pelajaran, jangan sampai kamu melakukan hal seperti itu lagi. Aku hanya ingin kamu setia Kak, sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu"


Mendengar itu, hati Darren berdebar senang. Betapa doa bahagia dengan ungkapan Rista. Cintanya terlalu besar hingga Rista tidak bisa membenci Darren yang sudah menghancurkan hidupnya. Katakan dia bodoh, memang Rista sadar jika dia bodoh. Wanita mana yang masih menerima pria yang telah menghancurkan hidupnya. Tapi, cintanya benar-benar tulus untuknya. Hingga dia telah menyerahkan seluruh hatinya hanya untuk Darren. Sampai dia tidak punya perasaan yang tersisa untuk yang lainnya.


...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...


Akhirnya setelah kejadian sore kemarin, Darren benar-benar tidak mengizinkan Rista keluar dari villa. Dan sore ini Darren telah memesan tiket untuk pulang. Dia tidak bisa menunggu lama lagi, Darren harus segera kembali jika tidak mau istrinya terus di ganggu oleh Soni. Karena obsesi pria itu tidak akan berhenti sampai disini.


"Sayang, ayo kita berfoto dulu sebelum benar-benar pulang"


Darren menggeleng pelan "No, kita hanya diam di villa untuk menikmati honeymoon terakhir kita ini. Jangan harap bisa keluar dan nanti pria sialan itu akan menemuimu lagi"


Rista hanya cemberut, dia naik ke atas tempat tidur. Hari terakhir di pulau ini benar-benar hanya mereka habiskan di dalam villa. Tepatnya di dalam kamar.


"Daripada keluar, meningan kita fokus saja membuat adik untuk Duta"


Memang itu tujuannya datang kesini. Tapi aku ingin keluar dulu, melihat pantai sebelum benar-benar pulang.


Tapi tentu saja keinginan Rista itu tidak terwujud. Mau menolak bagaimana pun, Darren tetap memiliki berbagai cara untuk bisa mengalahkannya dan membuat Rista diam dan akhirnya menikmati permaijannya.


Siang menuju sore terdengar suara deritan ranjang yang bergoyang, di iringi dengan ******* kenikmatan dari keduanya. Rista yang awalnya menolak, akhirnya tetap menikmatinya juga.


"Aku mencintaimu Rista..." ******* panjang keluar dari mulut Darren. Dia menyudahinya sebelum jam terbang pesawatnya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2