
Mami Alena masuk ke dalam kamar menantunya itu. Dia duduk di pinggir tempat tidur, Rista benar-benar masih bergelung di bawah selimutnya. Mami merapikan rambut Rista yang menutupi wajahnya.
"Ris, bangun dulu yuk. Kamu bahkan belum sarapan, ini sudah hampir jam makan siang. Suamimu sudah gelisah dan cemas tuh di bawah karena keadaanmu ini"
Rista menggeliat pelan, dia membuka matanya dan langsung bangun saat menyadari jika Ibu mertuanya yang ada disana. Rista malu karena sesuatu ini dirinya masih belum bangun juga. Menantu macam apa aku ini? Gumamnya pelan.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan saat ini?"
Rista duduk menyandar di atas tempat tidur. Dia juga tidak tahu ada dengan dirinya saat ini. Yang jelas Rista merasa sangat lemah saja dan malas untuk melakukan apapun. "Gak tahu Mi, cuma merasa tidak enak badan saja. Kepala aku sedikit pusing. Tapi aku juga tidak tahu aku kenapa"
Alena tersenyum, dia mengelus kaki Rista dengan sedikit memijat pelan kaki menantunya itu. "Kalau Mami boleh tahu, kapan terakhir kamu datang bulan?"
Hah?!
Rista sedikit terkejut dengan pertanyaan mertuanya. Bulan ini memang dia belum datang bulan. Tapi apa dia...
"Mi, maksud Mami aku hamil lagi gitu?"
"Apa?! Hamil? Sayang kamu beneran hamil?" Darren yang tiba-tiba masuk dan mendengar ucapan Rista. Darren langsung menghampiri istri dan Ibunya dengan antusia. "...Sayang kamu beneran hamil?"
"Apasi Kak, aku baru menduga saja karena Mami yang tiba-tiba menanyakan siklus datang bulan"
Darren menatap Mami Alena "Mi, jadi istriku ini hamil atau tidak?"
"Mami juga belum tahu, tapi lebih baik kalian periksa ke dokter saja agar lebih pasti"
__ADS_1
"Tapi Mi, sepertinya tidak deh. Soalnya pada hamil Duta, aku muntah-muntah di awal kehamilan. Pusing dan gak mau makan nasi"
Alena tersenyum, dia megelus lengan Rista yang berada di pangkuannya. "Sayang, setiap kehamilan itu berbeda-beda. Mungkin pas kehamilan Duta, begitu yang kamu rasakan. Tapi bisa saja kehamilan kedua kamu ini berbeda. Mungkin saja dia tidak ingin menyiksa Ibunya dengan mual dan muntah-muntah"
Rista memang pernah mendengar kehamilan yang seperti itu. Kehamilan yang tidak mengalami morning sickness. "Jadi, aku ini beneran hamil atau tidak Mi?"
"Menurut Mami, kalian lebih baik datang ke dokter dan periksa langsung agar lebih yakin dengan hasilnya"
"Iya Sayang, ayo kita ke dokter sekarang"
Sudah tidak bisa menunda lagi, Darren ingin cepat-cepat mengetahui kebenarannya. Apa benar jika istrinya sedang hamil atau tidak. Setelah mandi dan berganti pakaian, Darren segera membawa istrinya ke dokter.
Di ruanga Dokter, Rista menjelaskan apa saja yang dia rasakan saat ini. Juga tentang datang bulannya yang tidak datang bulan ini. Dokter mengerti, dia langsung melakukan pemeriksaan pada Rista. Setelah mendapatkan hasilnya, Dokter mengajak Rista dan Darren untuk duduk di meja kerjanya dengan saling berhadapan.
"Seperti dugaan Nona, saat ini Nona sedang mengandung. Usia kandungannya masih 4 minggu. Jadi harus benar-benar di jaga dengan baik"
Rista menoleh dan menatap suaminya yang tersenyum bahagia saat mendengar apa yang di katakan Dokter barusan. Apakah ekspresinya akan sama saat dia mengetahui kehadiran Duta saat itu? Pertanyaan itu hadir begitu saja dalam fikiran Rista. Dia tidak yakin jika suaminya akan berekspresi yang sama saat dia mengetahui kehadiran Duta saat itu.
Hamil? Bahkan jika kau hamil pun, aku tetap tidak akan peduli padamu.
Ucapan Darren waktu itu benar-benar membuat Rista terluka. Dia bahkan tidak pernah menyangka jika saat ini, suaminya sudah sangat berubah dari dulu. Dia bisa menerima Duta dan dirinya dengan penuh cinta. Bahkan kehadiran bayi dalam kandungannya saat ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Darren.
"Baik Dokter, terima kasih"
Rista dan Darren keluar dari ruangan Dokter setelah mendengar segala penjelasan Dokter dan juga memberinya vitamin. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah. Darren tidak henti-hentinya tersenyum dengan tangan yang terus menggenggam tangan Rista. Sesekali membawa tangan itu ke bibirnya untuk di kecupnya.
__ADS_1
"Terima kasih Sayang, karena sudah meberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa dalam hidupku. Kamu, Duta, dan calon bayi kita adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku"
Rista tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia juga bahagia saat ini. Bisa bersama pria yang selalu dia dambakan sejak dulu, bahkan sampai Rista rela di manfaatkan oleh pria itu hanya atas nama cinta. Dan sekarang segala kesabaran dan pengorbanannya berbuah menjadi kebahagiaan. Rista sudah bisa memiliki suaminya dan juga hatinya sekarang.
...💐💐💐💐💐💐💐💐💐...
"Selamat ya Kak atas kehamilannya"
Xien dan Seril ikut senang saat mendengar berita kehamilan Rista. Mereka sedang melakukan panggilan video saat ini. Rista senang berbagi kebahagiaannya pada kedua sahabatnya ini.
"Oh ya Xie, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"
Xien terdiam, dia menatap Rista dengan taapan yang sulit di artikan. Sebenarnya dia masih tidak yakin dengan keputusan yang dia ambil saat ini. Tapi melihat sikap Soni beberapa hari ini, Xien cukup luluh juga. Semoga saja Soni benar-benar tulus mencintainya, bukan pura-pura dan hanya tertekan dengan paksaan orang tuanya.
"Aku memilih kembali padanya Kak, aku juga masih belum tahu apa keputusan ini benar atau salah. Aku hanya mencoba memberinya kesempatan lagi, karena hampir setiap hari dia datang kesini hanya untuk meminta maaf dan meminta kembali padaku. Aku hanya berharap kali ini dia benar-benar tulus Kak"
Rista tersenyum, dia cukup mengerti posisi Xien saat ini. Cinta dalam luka, memang sangat sulit untuk di terima akal sehat. Sudah seterluka itu olehnya, tapi masih saja mencintainya.
"Tidak papa Xie, kamu coba dulu memberinya kesempatan. Semoga saja Soni benar-benar tulus mencintaimu, bukan hanya pura-pura seperti sebelumnya"
Xien mengangguk, dia juga berharap seperti itu. "Iya Kak, semoga saja"
Cukup lama mereka melakukan panggilan video, sampai akhirnya mereka menyudahi sesi curhat dan ceritanya. Seril dan Xien kembali di sibukan dengan pekerjaan mereka pagi ini. Menyiapkan segala bahan kue dan peralatannya.
Selesai dengan semua kue dan roti yang telah matang. Mereka mulai membuka toko kembali seperti biasanya. Sudah tiga hari sejak Xien memberikan Soni kesempatan untuk kembali, tapi pria itu tidak lagi datang sampai saat ini. Entah kenapa dan ada apa? Saat ini Xien mulai berfikir jika dia telah mengambil keputusan yang salah. Soni tidak lagi datang setelah dia memberikan kesempatan untuk kembali memulai semuanya. Apa kali ini Soni melakukan itu juga karena terpaksa? Mungkin karena paksaan kedua orang tuanya lagi.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5