
Malam ini Rista kembali dengan ulahnya. Meminta suaminya membuatkan nasi goreng di malam hari seperti ini. Entah ini memang benar-benar mengidam, atau hanya karena Rista ingin membalaskan segala kesulitannya saat mengandung Duta, dulu.
"Nih, awas kalau tidak di makan aku sudah capek membuat nasi goreng buat kamu" Darren menaruh sepiring nasi goreng di atas meja makan, tepat di depan Rista yang duduk di kursi meja makan.
Rista menatap nasi goreng itu dengan wajah antusias, dia langsung mengambil sendok dan menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng buatan suaminya. Namun benar-benar hanya satu suap, setelah itu dia mendorong piring berisi nasi goreng itu menjauh darinya.
"Sudah, ayo tidur"
"Sayang, jangan mulai! Kenapa tidak di habiskan" Darren menatap tajam pada istrinya yang sudah berdiri dari duduknya tanpa rasa bersalah apapun.
"Aku udah kenyang"
Kenyang dia bilang? Memangnya satu sendok saja bisa membuatnya kenyang? Gumam Darren tak habis fikir dengan kelakuan istrinya ini.
"Habiskan ya, aku suapi kamu"
Rista tetap embggeleng, dia tidak mau menghabiskan nasi goreng itu karena memang perutnya sudah sangat kenyang hanya dengan satu sendok saja. Jangan salahkan Rista, salahkan saja bayinya yang ingin mengerjai Papanya.
"Rista!"
Darren tidak bisa menahannya untuk tidak bersuara keras pada istrinya. Dia lelah dengan semua pekerjaannya di kantor dan baru saja tertidur beberapa jam, istrinya sudah membangunkannya karena menginginkan nasi goreng buatannya. Tapi setelah dia membuatkan apa yang dia mau, Rista justru malah tidak memakannya. Siapa yang tidak kesal coba?
Rista menunduk dengan takut, setelah menikah baru kali ini dia mendengar suara keras itu lagi. Sejak menikah Darren memang tidak pernah membentak atau bersuara keras pada Rista. Tidak seperti Darren yang dulu, yang sering menyiksanya dan membuatnya ketakutan dengan suara bentakannya. Dan kali ini adalah pertama kalinya Darren membentak Rista setelah sekian lama tidak pernah lagi.
"I-iya, aku habiskan makanannya" lirih Rista yang langsung duduk kembali di tempatnya. Dia mendekatkan piring berisi nasi goreng tadi dan mulai memakannya dengan tangan bergetar dan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Siap meluncur kapan saja.
__ADS_1
Darren menghembuskan nafas kasar, karena terlalu lelah dia sampai tidak sadar telah membentak istrinya. Melihat tangan Rista yang bergetar saat menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, membuat Darren semakin merasa bersalah padanya. Darren mendekati Rista dan menahan tangannya yang siap memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Sudah, tidak perlu di makan. Kita tidur saja sekarang"
Rista menggeleng pelan dengan air mata yang meluncur di pipinya yang langsung dia hapus dengan kasar. Rista melepaskan tangannya dari cekalan Darren dan kembali memakak makanannya.
Darren mengusap wajah kasar, karena kecerobohannya telah membuat istrinya kembali meneteskan air matanya. Dan dia tidak suka itu. "Sayang, maafkan aku ya. Sudah tidak perlu di makan kalau kamu sudah kenyang. Sekarang kita tidur saja"
Rista tidak menjawab, dia tetap memakan makanannya tanpa menghiraukan suaminya. Dia takut Darren akan membentaknya lagi. Karena dulu saja Darren selalu membentaknya karena memang dia membenci Rista. Dan saat ini, Rista takut jika suaminya kembali membencinya lagi.
Darren memeluk istrinya dari belakang, tangannya menahan tangan Rista yang ingin menyuapkan lagi makanan itu ke mulutnya. Darren mencium puncak kepala istrinya. "Sudah ya, tidak perlu di habiskan. Sayang, aku tidak mau kalau kamu harus memaksakan diri kamu hanya untuk memakan makanan itu. Maafkan aku Sayang, aku benar-benar tidak bermaksud untuk membentakmu"
Hiks..Hiks..
Akhirnya Darran memilih untuk menggendong istrinya dan membawanya ke kamar. Dia tidak mau istrinya terus memaksakan diri untuk memakan makanan yang sebenarnya tidak ingin dia makan. Rista masih terisak dalam gendongan suaminya, hal itu semakin membuat Darren merasa bersalah karena sudah membuat istrinya sedih.
Dasar bodoh kamu Darren, dia hanya menginginkan itu saja kenapa kau sampai membentaknya. Bayangkan saja saat dia hamil Duta dan dia hanya sendirian, tanpa seorang suami di sisinya.
Darren membaringkan tubuh Rista di atas tempat tidur. Dia benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Darren ikut naik ke atas tempat tidur dan memeluk Rista dengan erat. Mencium kening istrinya beberapa kali.
"Maaf Sayang, sudah ya jangan menangis lagi. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membentakmu tadi" Darren menghapus sisa air mata di wajah istrinya.
Rista menatap istrinya, isakan kecil masih tersisa dalam dirinya. "Aku takut Kak, aku takut saat kamu membentak ku seperti tadi. Aku takut jika kamu akan membenciku lagi seperti dulu"
Darren terdiam dengan rasa nyeri di hatinya. Mendengar ucapan Rista benar-benar membuat hatinya tersayat. Jadi istrinya hanya takut jika Darren akan membencinya seperti dulu saat dia sering sekali membentak Rista.
__ADS_1
Tuhan, ternyata bekas luka itu masih ada hingga sekarang.
Darren baru sadar, jika luka dalam diri istrinya hanya sembuh. Tapi bekasnya benar-benar tidak bisa hilang begitu saja. Mungkin akan tetap membekas sampai kapan pun.
Darren mencium kening istrinya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan pernah aku membencimu. Dulu, kau terlalu bodoh sampai menyia-nyiakan dirimu. Maafkan aku ya, tadi aku hanya kelepasan saja sampai membentakmu. Aku benar-benar tidak bermaksud Sayang"
Rista mengangguk, dia tidak marah pada suaminya. Dia hanya takut saja saat suaminya membentak, maka Rista takut jika Darren akan membencinya seperti dulu. "Iya Kak, jangan terus minta maaf. Kakak tidak salah dan aku juga tidak marah padamu. Aku hanya takut saja saat kau membentak ku"
Darren menghela nafas lega saat istrinya sudah berbicara kembali padanya. Darren semakin mengeratkan pelukannya, seolah dia takut akan kehilangan Rista jika malam ini dia tidak memeluk istrinya ini.
Cup..
Darren mencium kening istrinya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan menutupi tubuh istrinya. "Ayo tidur Sayang, jangan sampai kamu kurang tidur dan sakit nantinya"
Rista mengangguk dan menatap suaminya dengan lembut. Tangannya mengelus wajah suaminya. "Jangan membentak ku lagi Kak, aku takut"
Darren menggeleng cepat, dia tidak akan melakukan itu lagi. "Tidak akan Sayang, maaf ya karena aku tadi kelepasan. Aku sangat menyayangimu"
Dan malam ini Rista dan Darren terlelap dengan saling berpelukan di bawah selimut. Kejadian tadi membuat Darren sadar dan dia harus lebih bisa mengendalikan emosinya. Apalagi ini dengan istrinya. Darren harus bisa sabar menghadapi seorang Ibu hamil yang memang kemauannya selalu aneh-aneh dan sering kali membuat kesal. Tapi dia harus menikmati masa-masa ini, karena saat Rista hamil Duta, Darren jelas tidak tahu dan tidak merasakan saat-saat seperti ini.
Kau memang wanita terhebat Sayang.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1